
Entah seberapa banyak orang yang mengira bahwa seorang Adam Billy Hutama adalah lelaki paling bahagia. Nyatanya, diantara sekian banyak perkiraan orang-orang yang memandang dirinya sempurna, ada banyak cacat cela yang ia miliki di sebaliknya.
Karier yang sukses sebagai pengajar di salah satu universitas, memiliki usaha yang mumpuni untuk masa depan, juga memiliki istri cantik, pintar lagi sempurna seperti Zaskia Kenanga, membuat Adam harusnya bahagia. Sayangnya, seorang Billy di mata Kia dan Kirana juga Abimanyu, tak lebih dari seorang pengecut bajingan.
Pria yang kini nyaris menyandang gelar seorang ayah dari pernikahan yang sah bersama Kia, menghampiri sang istri yang membelakanginya di atas ranjang. Ada gurat sedih bercampur sesal yang tak bisa dia sangkal. Tetapi semua sudah terlanjur, tanpa bisa ia perbaiki hingga sempurna serupa semula.
"Kia," sapa Adam dengan suara lembut mengalun merdu.
Kia hanya menoleh sekilas tanpa membalik badan. Rasanya sangat memuakkan.
Dulu, suara inilah yang membuat Kia menggila hingga mabuk kepayang. Suara merdu Adam, sanggup membuat malam Kia orak poranda sebab rindu mengguncang. Sayang seribu sayang, malam ini bukannya rindu, Kia justru menolak keras rasa di hatinya.
"Kau berada disini juga karena keterpaksaan. Jangan bicara denganku, aku tidak mau bicara denganmu!" jawab Kia menolak keras Adam secara terang-terangan.
"Maaf, aku minta maaf. Aku datang untuk menebus dan memperbaiki semuanya. Tolong, jangan menolak untuk bicara denganku. Mari kita bicara dan perbaiki semuanya. Beri aku kesempatan, aku mohon," pinta Adam mengiba.
Lelaki itu lantas mencoba untuk mendekati sang istri, dan berniat memeluk istrinya dari belakang, "anak kita tak tahu apapun, tolong jangan libatkan dia hingga membuatnya stres di dalam kandungan. Aku ingin kau dan anak kita baik-baik saja," ungkap Adam kemudian.
Dalam keheningan malam yang telah larut, Kia kembali menangis, memecahkan bola air mata yang sudah tumpah ruah. Andai bisa diminta, Kia tak ingin ini terjadi, sungguh.
"Aku mohon, Mas. Kedatangan dirimu kembali ke rumah ini, hanya semakin membuat luka lara sebab sesal di hatiku semakin menggunung. Tahukah kau? Aku merasa bersalah pada Petunia Amarilys hingga sampai saat ini. Kesalahan diriku yang tak peka padanya ini, mungkin akan tetap menyiksaku hingga nanti," ucap Kia seraya meremas guling yang berada dalam pelukannya.
__ADS_1
Emosi calon ibu muda benar-benar tidak stabil saat ini.
"Maaf, maafkan aku. Itulah sebabnya aku kembali. Aku juga ingin memberi tahu dirimu, bahwa aku menemukan jejak kecil Nia. Aku akan berusaha membuatnya kembali ke tengah-tengah keluarga ini. Demi dirimu dan Ibu," jawab Adam.
"Setelahnya kau bebas memilikinya? Begitu? Saat ini statusnya adalah janda ditinggal mati suaminya. Kau akan memiliki Aku dan Nia dalam satu waktu? Begitulah inginmu? Maaf, Mas. Aku tidak bisa," jawab Kia menolak tegas.
"Bukan begitu. Dia akan tetap menjadi masa laluku. Bukan tak ingin bertanggung jawab atas anakku yang terlahir dari rahimnya, tetapi aku tetap akan menjaga pernikahan kita. Aku tak ingin menodai pernikahan kita dan menyakiti dirimu seperti aku melukai Nia. Semua biaya hidup Nia dan anakku, aku akan menanggungnya tanpa membuat kita berpisah. Kau akan tetap jadi istriku sampai kapanpun, aku sudah putuskan itu," ujar Adam panjang lebar.
Kia memejamkan mata, seraya mengalirkan air mata. Tak ayal, air mata jatuh juga diatas bantal bersarung putih.
"Kau tidak memikirkan perasaan Petunia, Petunia yang mencintaimu," sahut Kia dengan suara lemah. Alhasil, suara ******* lelah terdengar menyapa rungu putri sulung Abimanyu itu.
"Lantas, aku harus apa, Kia? Haruskah aku menikahi Nia dan menjadikan kalian istri-istriku? Aku tidak bisa memiliki dua permaisuri dalam satu atap. Aku memang sebajingan itu, aku memang seberengsek itu. Tetapi ketahuilah, bahwa aku merasa tersiksa. Hilangnya Nia dan anak kami, adalah suatu pukulan berat untukku," ujar Adam kemudian.
Tak ada sorot canda, tak ada kilat kebohongan yang terpancar dari netra Adam. Yang ada, lelaki itu nampak bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya.
Percaya?
Entahlah, harusnya Kia tak lagi percaya dengan apa yang Adam ucapkan. Hanya saja, antara hati dan otaknya tidak dapat searah.
"Aku ingin tahu, dimana Nia saat ini?" tanya Kia dengan suara gemetar. Pertahanan dirinya untuk bersikap dingin, pada akhirnya patah sudah.
__ADS_1
"Aku sudah mempekerjakan seseorang untuk mencari tahu Nia. Aku pastikan, tak akan lama ia akan segera kita temukan," jawab Adam kemudian.
"Maafkan aku, Kia. Aku minta maaf. Tapi sungguh, aku tak bisa kehilangan dirimu lagi. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki segala yang telah hancur oleh ulahku," sahut Adam, dengan tulus yang terasa tabu bagi Kia.
"Kita jalani saja segalanya di masa depan. Bagaimana pun jalan takdir Tuhan, aku yakin inilah yang terbaik untuk kita," timpal Kia.
Baru saja Adam hendak bicara, suara dering ponselnya, berhasil membuatnya urung untuk bicara.
Nama seseorang yang ia tunggu-tunggu kabarnya, menghubungi dan mulai membuat jantungnya kembali berdebat tak karuan. Sebuah harapan timbul dalam hatinya, ia dapat menemukan apa yang ia cari, melalui orang-orang yang ia sewa dengan harga mahal.
"Bagaimana?" tanya Adam sesaat kemudian, setelah ia menerima panggilan. Lelaki itu beralih posisi duduk, di atas ranjang tepat disamping istrinya.
" .... "
"Apa? Petunia sudah kau temukan jejak tempat tinggalnya?"
" .... "
"Bagus, temukan semua kabar dan informasinya untukku," kata Adam kemudian, sebelum dirinya memutus panggilan.
Hati pria itu penuh dengan banyak harapan, sayangnya harapan itu justru akan semakin membunuh rasanya secara perlahan.
__ADS_1
**