Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
19. Ayah yang Tirani.


__ADS_3

Sebuah layar monitor canggih yang memperlihatkan penghuni rahim sang Petunia, menciptakan suasana hening dalam ruangan salah satu dokter kandungan. Suara detak jantung sang bayi yang akan lahir sekitar satu bulan lagi itu, terdengar begitu merdu, melahirkan kebahagiaan tak terkira untuk Farel Prahasta, serta Petunia Amarilys.


Calon Ayah dan Ibu itu, begitu antusias menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran sang jabang bayi. Ada banyak hal yang mulai mereka persiapkan, termasuk mental dan seluruh kebutuhan bayi dan sang Ibu.


Sebahagia itu?


Meski Petunia sempat frustasi di awal kelahiran buah hatinya, tetapi faktanya saat ini, Nia sudah merasakan jatuh cinta pada sosok yang bahkan belum terlihat wujudnya itu.


"Sungguh bahagia," bibir Farel tak henti-hentinya mengucap kalimat itu.


Demikian pula dengan Petunia yang terharu, seraya sesekali mengusap sudut matanya yang berair. Meski ayah biologis buah hatinya itu dulu ditinggal begitu saja, namun kasih sayang itu tergantikan, dari sosok calon Ayah yang baik, Farel.


"Dia pasti sangat manis sepertimu, Nia," ucap Farel, dengan tatapan matanya yang tak lepas dari layar monitor, seolah pemandangan itu mengisyaratkan lebih menarik dari apapun di sekitar mereka.


"Kau menyayanginya, Rel?" tanya Petunia, dengan konyolnya.


"Hei, mana mungkin aku tak menyayanginya? Aku bahkan telah menunggu kelahiran si bayi mungil ini. Bahkan meski belum lahir, aku sudah jatuh cinta padanya. Bagaimana rasanya, dipanggil Ayah oleh bayi mungil ini? Astaga, aku sudah tak sabar menunggunya memanggilku Ayah. Itu pasti akan sangat menyenangkan aku," jawab farel dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Aku juga serupa denganmu, jatuh cinta pada anak ini," sambung Nia seraya mengusap air matanya penuh haru.


Dokter kandungan yang memeriksa Nia itu, melihat rona bahagia dari calon dua orang tua yang tampak masih sangat muda itu.


"Semuanya normal, tak ada yang kurang. Hanya saja, tetap hindari stress dan jangan banyak mengonsumsi makanan berlemak. Perbanyak sayur, ya, agar tidak kekurangan serat. Hingga nanti bayinya lahir, pastikan berat badan tetap stabil," kata dokter kandungan yang menangani Nia, memberi nasihat baik.


"Pasti, Dokter. Akan aku pastikan, istriku akan tetap bahagia," jawab Farel antusias.


"Baiklah. Setelah ini, akan saya buatkan resep vitamin untuk menunjang kesehatan Ibu dan bayi," tambah Dokter.

__ADS_1


"Terima kasih," jawab Farel.


Hal itu tak luput dari pantauan Adam, Ayah sesungguhnya dari bayi yang masih bersemayam dalam rahim Nia.


Ada gurat bahagia terpancar dari wajah Adam, namun sesaat kemudian, sedih juga menghiasi. Sebaris luka begitu lebar menganga, saat rasa bersalah hadir menyusupi hatinya.


Ayah macam apa si Adam? Bahkan kehadiran darah dagingnya, tidak ia sadari dari awal. Bahkan di trimester pertama, Adam tidak membersamai Nia, tak tahu sama sekali tentang kondisi dari bayinya.


Sungguh malang dirimu, Nia. Aku yang tak becus ini bahkan tak bisa menjagamu, dan membiarkanmu melewati masa sulit kehamilanmu, seorang diri. Jika memang Farel bisa menjagamu dengan baik, dan kau pun bahagia, aku yang akan menjaga kebahagiaan kalian untuk menebus dosaku perlahan.


Batin Adam.


Begitu Farel dan Petunia menuju ke sebuah apotik, netra Adam tak sengaja mendapati Ayah mertuanya berjalan mendekati keduanya. Tatapan lelaki itu masih sama, dingin tak bersahabat.


Harusnya, Adam yang mendapat tatapan itu, bukan Farel yang sudah meratukan Petunia Amarilys dengan segala cara.


Lelaki berperawakan tinggi itu lantas berbalik pergi, mengisyaratkan keduanya untuk ikut, dan tak menerima penolakan.


Tak ada pilihan lain bagi Farel dan Petunia, selain mengekor Abimanyu. Ketiganya lantas menuju ke sebuah taman dekat rumah sakit, duduk saling berhadapan di kursi taman.


Suasana taman yang cukup sepi, membuat Abimanyu seolah bebas mengatakan apapun tentang isi hatinya. Lelaki itu juga sengaja, sejak tadi memantau Nia dan Farel.


"Ayah memintamu datang kemari, sebab ada sesuatu yang ingin Ayah sampaikan padamu. Ayah memberimu dua pilihan kali ini, Petunia Amarilys, mau tak mau, kau harus memilih salah satu," ucap Abimanyu pertama kali, saat ketiganya telah duduk cukup lama dalam keheningan.


Petunia dan Farel saling pandang, menerka tanpa kata, tanpa suara. Firasat Nia tak nyaman kali ini, serupa dengan apa yang Farel rasakan dalam hatinya.


"Ada apa, Ayah? Apa maksud Ayah? Nia tak mengerti," jawab Nia, yang memang tak mengerti.

__ADS_1


"Kembali ke rumah, tinggalkan Farel dan gugurkan saja anak itu. Ayah tak akan Sudi menerima anak yang tercipta di luar pernikahan. Ayah tak akan menukar nama baik keluarga kita, dengan bayi Farel," pinta Abimanyu dengan ringannya, seolah ia meminta jajanan enak pada putrinya.


Bak halilintar yang menyambar keras dinding hati Petunia, merobohkan dinding hati wanita itu hingga hancur tak bersisa, tanpa bentuk dan tanpa wujud. Bibir wanita itu seolah kelu, tak sanggup bicara layaknya orang gagu tak mengerti bahasa.


"Setega itu Ayah pada Nia dan ciptaan Tuhan yang tak berdosa ini?" bibir Nia mencicit lirih, seolah ia tak lagi memiliki kekuatan yang berarti sekadar untuk bicara.


Farel diam, menatap datar Abimanyu dengan menggenggam erat tangan Nia. Hebatnya, pemuda itu masih bisa tenang, menghadapi kekejaman orang tua istrinya yang kata orang, sangat terhormat itu.


"Ayah tak peduli dengan apapun yang kau katakan tentang Ayah. Jika kau menentang kemauan Ayah, jangan harap Ayah akan menerimamu lagi di rumah Ayah," jawab Abimanyu datar.


Jadi, beginilah sifat asli Abimanyu? Adam seolah tak percaya, bahwa Ayah mertuanya adalah orang yang sangat kejam. Demi nama baik, Abimanyu bahkan rela menukarnya dengan cucunya sendiri, garis keturunannya.


"Maaf jika Nia harus durhaka, tetapi Nia akan tetap memilih mas Farel apapun yang terjadi. Dia lelaki satu-satunya yang bisa menerima Petunia dalam situasi dan kondisi apapun. Nia menolak tawaran Ayah. Maaf. Bukan Nia tak sayang pada Ayah, Nia sangat menyayangi Ayah. Tetapi meninggalkan lelaki yang sudah banyak berkorban untuk Nia dan membunuh anak tak berdosa ini, maaf Nia tak bisa," tolak Nia lirih, dengan nada tegas.


"Apa? Ulangi sekali lagi? Berkorban? Pengorbanan yang seperti apa yang ia lakukan untukmu? Bukan sebuah pengorbanan, tetapi dia menjerumuskan dirimu. Sampai kapan kau akan tersesat tanpa kesadaran begini, Nia?" tanya Abimanyu, menatap tajam Nia dan Farel yang kian menggenggam erat tangan Nia.


"Sampai kami menua bersama. Ayah tak akan bersikap begini bila Ayah tahu kisah yang sebenarnya. Di mata Nia, mas Farel yang terbaik dan dia segalanya," jawab Nia, mulai bisa mengendalikan emosinya.


"Kisah? Kisah seperti apa? Kisah sesat maksudmu? Begitu?" tanya Abimanyu.


"Maaf, Nia harus segera pulang. Kali ini, Nia tak ingin meladeni Ayah untuk bertengkar. Ayah bukan hanya menyakiti hati Nia, tetapi juga telah menginjak harga diri suami Petunia. Terima kasih pada Ayah yang sudah repot-repot mendatangi Nia, dan meluangkan waktunya untuk menemui Nia," ujar Nia yang bangkit, menarik cepat tangan Farel yang sejak tadi hanya terdiam mengamati.


Begitu lantang dan tegas, si bunga malang itu menolak tawaran gila dari seorang Ayah yang tirani.


Netra Abimanyu yang tajam itu, menatap dua punggung yang berlalu meninggalkannya, menyisakan sebuah kecewa sebagai orang tua. Kecewa yang berlarut hingga kini.


**

__ADS_1


__ADS_2