Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
22. Rencana jahat.


__ADS_3

Tangis seorang Ibu, yakinlah jika tangis seorang Ibu bisa merubah segalanya. Menjadi seorang yang bodoh dan hanya menjadi kelinci di hadapan sang suami, bukanlah keinginan seorang Kirana. Menjalani hidup di bawah tekanan, adalah sebuah keterpaksaan yang harus Kirana ambil.


Entah apa yang akan di lakukan oleh Abimanyu setelah ini. Yang Kirana tahu, ia tak sengaja mendengar sebuah percakapan mengenai rencana buruk yang hendak di susun oleh sang suami, terhadap suami Petunia, menantunya.


"Jangan lakukan sesuatu yang membuat orang lain celaka, mas. Aku tidak mau kau membuat Nia terluka terlalu dalam. Anak itu sudah keluar dari rumah ini, menjalani hukuman dengan tidak merasakan kehangatan kita lagi. Aku mohon, aku mohon dengan sangat agar kau tidak mengusiknya. Kita sudah membuangnya selepas dia menikah dengan Farel. Jangan mencelakai Farel, dia tidak bersalah pada kita," Kirana berkata dengan datar, mencoba untuk membujuk sang suami agar bersedia mengerti.


Alih-alih mengerti, Abimanyu justru makin tidak tahu diri, Lelaki itu justru menatap tajam wanita yang telah memberinya dua putri cantik.


"Apa katamu tadi? Farel tidak bersalah? Anak itu sudah bersalah dengan merusak Petunia, anak yang kita didik dengan susah payah dan mati-matian agar dia sukses, dan membanggakan kita. Apa menghamili Petunia bukan suatu kesalahan di matamu?" Hardik Abimanyu dengan lantang.


Tanpa sengaja, Adam melewati ruang kerja Abimanyu, mendengar suara pertengkaran Ayah dan Ibu mertuanya.


Ketika nama Petunia disebut, telinga dan otak Adam mendadak sensitif. Responnya begitu cepat. Hingga Adam mencoba mencuri dengar apa yang di debatkan oleh Abimanyu dan Kirana.


Hatinya mendadak sakit, setelah semua yang Adam dengar. Mencelakai Farel yang tak bersalah, jelas itu membuat khawatir Adam.


Jika terjadi sesuatu pada Petunia apalagi Farel, aku tak akan memaafkan diriku sendiri.


Bisik batin Adam.


"Mas, sudah. Jangan hukum Nia lagi. Jangan membuat Farel celaka, itu bukanlah hal yang tepat," ungkap Kirana mengingatkan. Jantung wanita itu mendadak berdebat tak karuan.


"Itu urusanku. Kau tidak suka, itu menjadi urusanmu sendiri," sahut Abimanyu dengan suara dingin.


Abimanyu melangkah mendekat ke arah pintu, dan Adam segera menyingkir untuk bersembunyi di balik guci besar yang tak jauh dari pintu ruang kerja Abimanyu. Adam mencoba untuk berpikir cepat, bagaimana caranya melindungi Nia.

__ADS_1


Kirana terpaku sejenak, menyadari bahwa Abimanyu sejak dulu memang tak bisa dicegah. Kirana tak tahu lagi, pada siapa ia harus meminta pertolongan. Bahkan Tuhan pun seolah abai kali ini, seolah apa yang Nia alami, sudah menjadi takdirnya. Sungguh miris.


Dengan langkah tertatih, Kirana melangkah keluar, dan tanpa sengaja mendapati Adam terpaku di luar ruangan.


"Billy, kau sudah sejak tadi disini?" tanya Kirana kemudian. Mendapati Adam di dekatnya, membuat Kirana berpikir bahwa mungkin memang Adam lah yang bisa ia mintai tolong.


"Iya, maaf. Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja mendengar perbincangan Ayah dan Ibu," jawab Adam jujur. Adam mendekat pada Kirana, celingukan untuk memastikan tak ada siapapun di sekitar mereka, termasuk Abimanyu.


"Ikut Ibu ke dapur sebentar. Ibu mau bicara denganmu," ajak Kirana seraya berbalik pergi menuju dapur. Hanya dapur lah tempat yang paling aman saat ini, untuk membahas hal yang sensitif bagi Kirana dan Adam. Sejak dulu, Abimanyu bahkan tak pernah menginjakkan kakinya di dapur, jika memerlukan sesuatu.


Beruntung dapur tengah sepi, tak ada siapapun yang bisa saja mencuri dengar apa yang akan Kirana katakan pada Adam.


"Kau mendengar apa yang akan Abi lakukan pada adik iparmu, Petunia?" tanya Kirana setengah berbisik.


"Ya, Billy mendengarnya. Tetap maaf, Bu. Adam berdiri di pihak Ibu dan tak ingin Nia celaka begitu saja," Jawab Adam kemudian.


"Billy akan lakukan, Bu," jawab Adam dengan penuh keyakinan. Entah apapun yang terjadi, Adam tetap akan melindungi Nia, dengan ataupun tanpa permintaan dari Kirana.


Kini, Adam seolah kian merasa bersalah pada Nia, juga bingung bagaimana ia harus mengatakan kebenarannya pada keluarga sang istri.


**


Sebuah lembaran di atas meja, begitu rapi dipandangi oleh seorang Adam Billy Hutama. Lelaki itu memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya menjadi dosen.


Menghamili seorang gadis tanpa menikahinya, menyakiti gadis yang telah mengandung darah dagingnya itu, dengan cara menghilang dan justru menikahi kakak sang gadis, tentunya itu adalah sebuah sikap yang tak bermoral. Jika Adam meneruskan profesinya, ia merasa malu sendiri saat berhadapan dengan banyak mahasiswa dan para mahasiswi di universitas tempatnya mengajar.

__ADS_1


Selain itu, Adam ingin fokus bekerja menjalankan usaha keluarganya saja, dan menjaga Petunia dari jauh.


"Mas, kau sudah yakin dengan keputusanmu?Menjadi dosen, bukankah menjadi impianmu?" tanya Kia yang merasa ada yang aneh.


Ketika seseorang menginginkan sesuatu sejak kecil hingga dewasa, dan seseorang itu mampu meraihnya dengan mudah, maka akan sulit sekali melepasnya begitu saja, tanpa ada sesuatu sebagai penyebabnya. Kia yang peka itu merasa, ada sesuatu yang mendasari suaminya begini.


"Aku sudah yakin, sangat yakin. Jangan khawatir, aku akan membiayai hidupmu tanpa kekurangan sesuatu apapun ke depannya," jawab Adam membujuk sang istri.


"Baiklah. Apapun yang menjadi keputusanmu, aku percaya kau akan bertanggung jawab," ujar Kia menenangkan.


Hening menghiasi suasana pagi ini, dengan banyak hal yang coba Adam pendam. Baik Adam maupun Kia saling pandang, saling membatin dengan banyak gejolak yang begitu berbeda.


Andaikan kau tahu, Kia. Mungkinkah kau masih mencintai aku?


Batin Adam.


Lelaki itu tengah mempersiapkan mental, untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Perkiraan Adam, Nia mungkin akan melahirkan dalam bulan ini, atau bulan depan. Adam tak tahu pasti. Lelaki itu sudah memutuskan, bahwa ia akan mengatakan semua fakta tentang anak yang Nia kandung, pada Abimanyu sebelum anaknya lahir.


Entah keputusan yang tepat atau tidak, yang jelas pernikahan dirinya dengan Kia sudah salah dari awal.


Mengapa baru menyadari setelah semua terlambat? Andai Nia jujur dari awal tentang kehamilannya, mungkin tak akan seperti ini jadinya, memberi pengaruh buruk pada situasi di masa depan.


Tetapi kau tidak boleh menghakimi orang lain atas kesalahanmu, Adam. Kau tak boleh menyalahkan Nia. Kau yang sudah bersalah padanya.


Bisik hati Adam.

__ADS_1


**


__ADS_2