Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
25. Puncak dari kecewa.


__ADS_3

"Petunia Amarilys, ayo kembali pulang ke rumah. Tempatmu bukan disini!" Ucap Abimanyu dengan tegas, dan disertai wajah datar tanpa perasaan.


Begitu Nia memutar kepalanya, darah Nia serasa mendidih seketika. Abimanyu bukan lagi Ayah baginya, melainkan musuhnya yang serupa iblis dari dasar neraka.


*


Rahang yang terbiasa manis dan menebar senyum itu, kini seolah tidak lagi terlihat manis. Wajah yang tadinya imut menggemaskan penuh dengan kehangatan, kini seolah dingin berjarak, tidak lagi terlihat keindahan surga.


Geraham Nia saling merapat, suara gemeletuk gigi saling bergesekan, terdengar jelas. Nia yang tadinya lemas, seolah telah mendapatkan kekuatan yang entah dari mana. Ia tidak tahu.


"Pulanglah sendiri ke neraka. Aku tidak Sudi ikut dengan siapapun saat ini!" jawab Nia dengan suara bergetar. Tak peduli banyak orang, Nia melakukan hal sesuai dengan nalurinya.


Penghinaan Ayahnya terhadap Farel selama ini, begitu terngiang jelas. Setelah Farel tiada, masih saja lelaki arogan yang telah membesarkan Nia itu, merendahkan Farel yang hatinya seperti malaikat bagi Nia.


"Jangan memancing amarah Ayah, Petunia Amarilys. Aku yang membesarkan dan membuatmu mendapatkan apa yang kau mau. Jangan hanya karena Farel yang telah merusak masa depanmu, kau jadi memusuhi aku. Pulanglah, Ayah masih membuka pintu maaf untukmu," tegas Abimanyu tanpa perasaan.


Wanda yang merasakan hatinya tercabik, tak perduli jika ada banyak sanak saudara yang datang berbelasungkawa, mendadak gatal dan ingin menyahuti Abimanyu saat ini juga. Bahkan setelah putranya tak bernyawa, Abimanyu masih menyimpan kebencian pada mendiang Farel.


Sayangnya, Wanda tak menyangka, bahwa Petunia lebih mengerikan dari apa yang akan Wanda katakan sebagai balasan.


"Setelah suamiku terbaring tak bernyawa, Ayah masih tidak mengerti bagaimana cara menghormatinya. Masih pantaskah aku memanggilmu dengan sebutan Ayah? Tidak adakah perasaan berdosa, setelah melihat wajah lelaki yang menjadi malaikat untuk putrimu?" ujar Petunia, masih berada dalam batasannya.

__ADS_1


"Tidak ada kata toleransi untuk lelaki yang telah merusak masa depan putri bungsuku!" seru Abimanyu dengan tatapan matanya yang tajam.


Petunia merasa kian terluka. Wanita itu tak peduli meski kondisinya yang baru saja usai melahirkan. Ia segera berbalik, menatap wajah Abimanyu dengan tatapan nyalang penuh luka.


Lelaki yang telah menorehkan ribuan luka untuknya, bukan hanya Adam, melainkan juga Abimanyu sebagai lelaki yang telah membuang Petunia dengan sangat kejam.


"Buka matamu lebar-lebar, buka telingamu lebar-lebar. Yang merusak diriku bukanlah mendiang Farel Prahasta, melainkan menantu kesayanganmu sekaligus mantan dosenku. Dialah Adam, Adam Billy Hutama yang kau banggakan itu!" Tunjuk Nia pada Adam dengan penuh luka.


Bak petir yang datang menyambar hati Abimanyu. Lelaki itu memucat dengan sorot terkejut dan bibir tak bisa berkata apa-apa. Hatinya terlampau syok dengan apa yang Nia katakan. Bolehkah andai ia tak percaya.


"Apa, apa maksudmu?" tanya Abimanyu lirih, seraya menatap Adam dan Petunia bergantian.


"Tanyakan pada tatapnya yang penuh kepalsuan. Aku bersumpah, aku tak kan pernah memberinya maaf sebelum aku melihat penderitaan serupa dengan yang dirasakan oleh mendiang suamiku!" Petunia menatap nyalang Adam yang memejamkan mata.


Baik Kirana maupun Kia sama syoknya. Kedua wanita itu begitu terkejut, saat mengetahui fakta yang sebenarnya. Kia berpikir keras. Ingatannya mundur pada kejadian belum lama ini, dimana Nia begitu enggan berjabat tangan sekalipun, dengan Adam.


Jadi, memang Nia dan Billy terlibat skandal sebelum menikah denganku? Ya Tuhan, Nia ... mengapa kau baru mengatakannya sekarang?


Sayangnya, kalimat itu hanya bisa Kia teriakkan dalam hati. Lelaki yang ia cintai, rupanya telah menodai sang adik hingga mengandung, lantas pergi untuk menikahinya.


"Berapa ratus malam yang aku lalui sebab mencarinya? Aku bahkan tidak pernah diberi kabar olehnya," ungkap Petunia seraya terisak pilu, "Empat bulan aku kehilangan dia yang aku cintai, selama itu pula aku memendam lukaku seorang diri. Dan tiba-tiba ... tiba-tiba dia datang memperkenalkan diri sebagai calon kakak iparku. Katakan padaku Ayah Abimanyu, katakan padaku bagaimana aku harus bersikap, sementara dia melamar Kak Kia ketika usia kandunganku telah memasuki enam bulan? Jawab aku. Jawab!" Tangis Nia kembali pecah seketika.

__ADS_1


"Mendiang suamiku yang tampan dan terbaring tak berdaya itu, dia yang datang menawarkan diri untuk menjadi Ayah dari bayiku, demi menutup aibku, di menjaga kebahagiaan Kak Kia agar tetap bisa menikah dengan lelaki yang di cintainya. Bukannya mendapat penghargaan, justru Ayah Abimanyu membuatnya kehilangan harga diri, padahal dia memiliki janji untuk memberiku kebahagiaan. Katakan padaku, di mana hatimu sebagai orang tua? Lihat Ibu mertuaku yang begitu tulus menerimaku, sementara kau sendiri ... kau sendiri telah menjatuhkan harga diri suamiku," Nia kian tak terkendali.


Suasana pilu kian bertambah dalam, ketika menjelang acara penghormatan terakhir pada jenazah Farel Prahasta. Nia kian dirundung duka. Apa yang ia tahan, kini seolah tak bisa ia pendam lagi. Cukup sudah Farel yang malang itu kembali terlihat buruk di mata keluarganya.


"Langit harusnya menyaksikan kebahagiaan kami dini hari tadi, atas kelahiran bayi tak berdosa yang aku lahirkan dan Farel berada di sampingku, yang ada, jasadnya terbujur kaku dengan wajahnya yang masih tampan rupawan bak malaikat. Istri mana yang bisa kuat menahan? Entah ini sekadar Firasat atau bukan, tetapi aku berharap, kematian mendiang suamiku tidak ada campur tangan dirimu di dalamnya. Semoga Tuhan tidak menghukum siapapun yang telah melukai dan membuat suamiku kehilangan nyawa," Nia kian histeris.


Mengingat betapa terlukanya Farel yang pandai menyembunyikan sakitnya itu, sungguh Nia benar-benar tidak sanggup mengingatnya.


"Ayah dan Ibu yang dulu menyayangi dan mencintaiku, seolah tidak lagi aku kenal, tidak lagi aku dapati. Mereka hanya berambisi untuk menjadikan aku boneka, tanpa tahu bagaimana tertekannya aku. Bahkan di saat aku tengah mendapati kemalangan diriku, Ayah dan Ibuku seolah tidak bersedia menganggap aku anak mereka lagi. Sekarang, pergilah. Aku anggap semuanya telah selesai. suamiku telah tiada, aku tidak akan pernah kembali ke rumah neraka kalian, sekuat apapun kalian memaksa aku. Mari jalani hidup masing-masing tanpa ada kaitan apapun," ucap Nia.


Suara wanita itu lirih, seolah sudah kehabisan suara dan napas.


"Nia, kemarilah, nak. Peluk Ibu. Ibu yang akan mengerti dan menerima dirimu dan anak yang kau lahirkan," ujar Wanda, yang menghampiri Nia dan memberi pelukan hangat untuk menantunya itu.


"Ibu. Tolong, Bu. Tolong hilangkan sesak di dadaku. Tolong bangunkan mas Farel untukku. Katakan, aku bersedia mencintainya seumur hidupku," pinta Nia dengan tangis pilu penuh lara.


Baik Kia, Kirana, Adam maupun Abimanyu masih terpaku di tempatnya. Mereka seolah tak percaya, dengan apa yang dialami oleh Petunia Amarilys yang malang.


"Yang pergi tak mungkin bisa kembali, sayang. Lapangkan hatimu. Farel tak ingin melihatmu terus bersedih dan merasa bersalah untuknya. Dia, dia sangat tulus padamu, menerimamu, dan mencintaimu tanpa syarat, tidak seperti keluargamu yang telah merendahkan putraku," sahut Wanda dengan suara lirih, yang tentunya masih bisa di dengar oleh Abimanyu.


Menjelang upacara pemakaman Farel Prahasta, Nia kembali berseru pada keluarganya, "hari ini, aku haramkan kalian untuk datang meski sekadar untuk menghadiri acara pemakaman suamiku. Pergilah dan jangan lagi mengganggu hidupku."

__ADS_1


Maka, puncak dari kecewa adalah, memutuskan segala hubungan dan keterkaitan.


**


__ADS_2