Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
31. Tak ada pilihan lain.


__ADS_3

Tangis bayi laki-laki berusia dua bulan, pecah menggema di dalam ruangan. Tangisnya bahkan sanggup menyamai dengan suara halilintar yang menyambar pelan, membuat sang Ibu kepayahan untuk menenangkan.


Petunia merasa seolah putus asa, ketika Kairav terus menangis. Winda yang sudah mengendong Kai sejak tadi, juga Benny yang ikut menenangkan, juga sama paniknya.


"Badannya hangat, tapi tidak terlalu panas. Ayo kita bawa saja Kairav ke dokter," ajak Benny yang tak tega, melihat keponakannya terus menangis.


"Tunggulah sebentar, Mas Farel memintaku untuk menunggunya untuk pergi ke Dokter bersama-sama. Dia sudah berada dalam perjalan pulang," jawab Nia pelan.


Benny hanya bisa keluar masuk rumah, menunggu kedatangan sang kakak dengan harap-harap cemas serta gelisah. Hingga lantas Farel datang, dengan wajah tegang penuh kekhawatiran.


Sekejap, kedatangan Farel menjadi sebuah guyuran sejuk di hati Petunia yang tadi serasa gersang. Langkah Farel yang mendekat, seolah menyirnakan cemas serta gelisah yang sejak tadi memburu hati Nia.


"Nia, apa yang terjadi?" tanya Farel dengan meletakkan tas kerjanya di atas meja ruang tamu. Wanda dan Benny hanya bisa tersenyum, setiap kali mendapati interaksi Petunia dan putra Wanda itu.


"Kairav badannya hangat. Dia juga tidak mau aku beri asi. Mau ke Dokter, tapi aku menunggumu," jawab Petunia seraya mengayun Kairav dalam gendongannya.


"Biar aku yang gendong sebentar. Aku sudah pesankan taksi online, sebentar lagi pasti sampai," ungkap Farel, seraya menenangkan Kairav dengan tepukan lembut pada punggung Kairav.


Ajaibnya, tak butuh waktu lama bagi Kairav untuk bisa kembali tenang. Bayi itu terdiam seraya menatap Farel, dan bertingkah seolah ia ingin ikut bicara.


"Kau bisa menenangkannya? Ajaib sekali, bahkan Ibu dan Benny saja tidak bisa menenangkannya, apa lagi aku. Ketulusan macam apa yang kau miliki untuk Kairav, Rel?" tanya Petunia


"Aku mencintainya selayaknya Ayah mencintai darah dagingnya sendiri, Nia. Jika sesuatu tejadi padanya, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri sebab tak becus menjaganya. Percayalah, aku tak peduli, Kairav tercipta dari tetes siapa. Yang aku pedulikan, dia anakku sekarang," jawab Farel dengan bersungguh-sungguh.


Nia terharu. Wanita itu memeluk Farel, dengan penuh perasaan.

__ADS_1


"Sudah, sekarang yang terpenting, bawa Kairav untuk berobat. Ayo, Nia, berkemas lah segera," perintah Wanda kemudian.


Begitulah kehidupan baru bunga Petunia saat ini. Menjalani kebahagiaan yang dulu terasa menjauh darinya. Farel telah memberikan sebuah cahaya cerah, pada masa depan Petunia dan Kairav, putranya.


**


Setelah melalui banyak pertimbangan, banyak perhitungan, dan banyak hal lain, akhirnya Abimanyu tiba pada titik dimana ia telah memutuskan untuk menyerah. Sebagai penebus rasa bersalahnya, Abimanyu dengan sukarela telah menyerahkan diri pada lembaga hukum.


Sebuah tindakan kriminal yang ia lakukan dua bulan lalu, nyatanya telah memberikan bencana untuk malam-malam yang Abimanyu lalui. Tak satupun malam terlewat, dengan lelap bahagia yang lelaki itu rasakan. Abimanyu seolah didera rasa nestapa, serta sakit di hatinya.


Sungguh, beban dosa terhadap Farel telah berhasil membuat Abimanyu tiba di titik batas wajar. Abimanyu tak segan lagi untuk menyerahkan diri pada pihak hukum.


Kirana hanya bisa pasrah, menangis dan meratapi kehancuran rumah tangganya.


Satu lagi yang menjadikan Kirana kian berduka, putri sulungnya, Zaskia Kenanga tengah berbadan dua. Sebuah pukulan telak bagi Kirana yang selama ini menjalani hidup sebagai nyonya Besar.


"Hentikan saja, Kia. Mungkin memang takdirnya, kau berjodoh dengan Billy. Sudahi saja egoismu. Tetap menuntut perceraian dari Billy, tetap tak akan membuat Nia kembali pulang. Pikirkan masa depan anakmu bersama Billy," ucap Kirana, ketika pagi ini dirinya mengunjungi kamar sang putri, seperti biasa.


Semenjak berpisah dari Adam, Kia memang tak lagi bekerja, dan lebih suka mengurung diri di kamar. Entah apa yang membuatnya demikian hancur. Tetapi mungkin sebab cintanya yang begitu besar untuk Billy-nya.


"Mengapa harus Nia, Bu? Nia adikku. Bagaimana jika suatu saat nanti, Nia pulang?" tanya Kia lirih.


Kirana menatap wajah putrinya yang pucat pasi. Wajah wanita itu juga tampak tirus, dengan kelopak mata yang sedikit gelap dan mengendur. Hanya Kirana yang tahu, bagaimana Kia menjalani malam dengan penuh siksa, sebab mencintai lelaki yang harusnya tidak ia miliki. Sayangnya, takdir begitu kejam hingga membuatnya tetap menjadi milik Billy-nya hingga kini.


"Jika Nia pulang, tentu kita akan menyambutnya dengan baik. Entah itu kapan, tetapi Ibu memiliki keyakinan, Nia pasti pulang cepat atau lambat. Sudah, jangan khawatir. Ayah sudah sadar dan mulai menjalani hukuman. Kau harus tetap kuat untuk tetap menjadi penyemangat Ibu," jawab Kirana kemudian.

__ADS_1


"Nyonya Grace, ibu mertuamu datang satu jam lalu bersama Billy. Dia datang untuk mengantar Billy, sekaligus berniat untuk menjengukmu," tambah Kirana kemudian.


Kia spontan saja menatap Kirana, dengan tatapan tajam, penuh ketidaksukaan, "dan ibu menerima Billy kembali di rumah ini?" tanya Kia.


"Ya. Jangan egois memikirkan perasaan, ada anakmu yang juga butuh ayahnya. Jika nanti Nia pulang, ibu sudah meminta pada Billy agar memperlakukan sama antara anakmu dan Nia. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. Kau putriku, Nia juga putriku. Kalian sangat aku sayangi. Tetapi Nia sudah berkorban sejauh itu agar kau bahagia dengan lelaki yang kau cintai. Jangan sampai, adikmu itu kembali kecewa, jika sampai pengorbanannya sia-sia. Nia ingin, kau dan Billy bahagia meski ia sendiri yang harus mengalah. Jika Nia tahu kau begini, Dia pasti sangat kecewa," ungkap Kirana.


"Sejujurnya, ibu juga sama menderitanya denganmu."


Tatapan mata Kirana sangat sendu. Mengingat Nia, Ibu mana yang tak terluka? Tetapi Kirana sadar, ia harus tetap bangkit agar suatu saat, ia masih bisa melihat Nia kembali.


"Jika Nia pulang, apa yang harus aku katakan padanya, Bu?" tanya Kia seraya menumpahkan tangisnya.


"Itu perkara nanti. Yang terpenting sekarang, jaga kehamilanmu. Ibu mengerti, kau dari awal tidak tahu perihal kisah Nia dan Billy. Nia sendiri tidak jujur demi kebahagiaanmu. Kau tidak bersalah. Jangan hukum dirimu dan anakmu karena kesalahan Billy. Ayo, mari kita buka lembaran baru, sembari menunggu adikmu kembali pulang kemari," ujar Kirana menyemangati Kia.


"Ayah bagaimana?" tanya Kia lirih.


"Sudah, jangan bahas Ayah. Memang seharusnya, Ayahmu berada dalam masa hukumannya. Malam-malamnya tak tenang, dan ia ingin sekali memiliki satu kesempatan, untuk bisa menebus kesalahannya pada Nia," jawab Kirana sendu.


"Aku tak yakin, mas Billy mencintaiku," ungkap Kia penuh keraguan.


"Jangan begitu, Kia. Jika Billy tak mencintaimu, dia pasti sudah mengabulkan gugatan perceraianmu," jawab Kirana masuk akal.


Kini, tak ada pilihan lain lagi bagi Kia, untuk kembali mengusir Billy-nya, dari hidupnya. Hanya saja, Adam tetap akan menderita, sebab malam-malamnya, akan selalu dipenuhi kerinduan pada bunga Petunia yang dulu memikat hatinya.


**

__ADS_1


**


__ADS_2