
Wajah mungil dengan aura tegas setegas kelopak bunga teratai putih, menjadi pusat perhatian Abimanyu. Wajah yang begitu mirip layaknya wajah Adam versi kecil, menatap polos Abimanyu yang matanya sudah berkaca-kaca.
Kairav Prahasta.
Anak itu harusnya menyandang nama besar Hutama. Tetapi sayang, nama Prahasta yang disandang oleh nama Kairav, si teratai putih penuh pesona.
Bahkan keberadaan pengacara yang tengah duduk berdampingan dengan Farel, tidak begitu penting bagi Abimanyu.
Sebongkah penyesalan itu, bahkan menjadi pemicu utama Abimanyu mengalirkan air mata. Matanya yang dipenuhi dengan garis-garis halus, seolah menjadi saksi bahwa Abimanyu telah melewati banyak tekanan tanpa bisa tidur beberapa waktu terakhir.
Adakah yang lebih menyakitkan dari ini? Nyatanya, Abimanyu merasa bahwa saat ini adalah saat paling menyakitkan, bila dibanding saat dirinya mendengar bahwa putri bungsunya itu tengah hamil kala itu.
"Cukup, Ayah. Mari kita bicara. Aku datang untuk menjenguk Ayah, sebagai putri yang dulu pernah kau besarkan, bukan sebagai putrimu yang tak bisa kau banggakan dan sepadan dengan Zaskia Kenanga!"
Kalimat Petunia, berhasil membuat Abimanyu sadar sepenuhnya, bahwa putri tersayangnya itu telah berubah.
Tak mampu bersuara akibat seperti tenggorokan yang tercekat, Abimanyu hanya mengangguk sebagai isyarat kesediaan untuk bicara.
"Hari ini Ayah bebas. Pulanglah bersama kami. Suamiku akan mengantar Ayah pulang ke rumah," ungkap Petunia pertama kali, dengan nada datar.
"Farel .... " Abi menatap Farel. Fokus yang tadinya hanya terpatri pada sang putri, kini beralih pada lelaki gagah dengan perawakan liar nan berotot di samping Petunia.
"Tuhan memberkati aku dengan memberi kesempatan kembali, untuk membahagiakan Petunia. Terima kasih sudah mengajarkan aku, bahwa harta dan tahta menjadi kehormatan dan harga diri bagi seorang lelaki," jawab Farel, memahami kiranya tanya yang ayah mertuanya lontarkan.
"Jadi .... " Abimanyu tak melanjutkan kata-katanya. Ayah yang telah banyak melakukan dosa di masa lalu itu, bertanya tanpa kata dengan wajah yang masih sepucat tadi.
__ADS_1
"Tuhan mengembalikan ruhku atas kuasanya. Aku bisa membawa Petunia pergi, menemukan kebahagiaan yang tak ia dapatkan di tengah-tengah keluarganya," Farel menjelaskan.
"Maafkan aku, Rel," hanya itu yang bisa Abimanyu katakan. Lelaki itu tak mampu berkata apapun lagi, selain mendengungkan kata maaf.
Farel diam tak menjawab. Hanya sang istri lah, yang bangkit berdiri, tidak tahan berlama-lama dalam situasi seperti ini.
Sang Petunia khawatir, dirinya tak sanggup mengendalikan diri lebih lama lagi.
"Ayo, Ayah. Kita pulang dan beri kejutan pada Istri dan putri sulung Ayah," ujar Petunia dua langkah, lantas berhenti dan berbalik untuk menyambung kalimatnya, "oh tak lupa, juga kejutan untuk menantu kesayangan Ayah yang suci tanpa cacat cela itu," sambung Nia lagi.
Petunia berjalan keluar, menuju mobil segera tanpa menunggu suami dan Ayahnya. Wanita itu hanya menggandeng tangan Kairav yang merasa aneh dengan tempat ini.
"Tadi itu, kakek ya, Ma?" tanya Kairav dengan polosnya.
"Ya, tadi adalah ayahnya Mama. Ayo kita masuk mobil. Papa sudah mengurus semuanya agar kakek bisa pulang dengan kita hari ini juga," jawab Petunia, seraya menyaksikan putranya bersorak kegirangan.
**
Siang tak terelakkan, ketika Abimanyu datang di rumah besar tanpa kabar. Bersama Petunia, Farel, dan juga si kecil Kairav yang bermata coklat itu, Abimanyu diam tak banyak. Ada banyak hal yang coba lelaki pendam, termasuk rasa ingin tahu tentang cerita Farel dan Petunia.
Semua orang terkejut, termasuk Adam yang tak menyangka, akan kehadiran Petunia.
Adam pikir, Petunia tidak akan pulang dan lebih memilih tinggal dengan keluarga kecilnya.
"Ayah?" tanya Adam dengan sorot penuh keterkejutan. Belum selesai rasa terkejut itu, Adam semakin dibuat mencelos hatinya, kala Farel muncul dari balik dinding ruang tamu, tengah mengekor Abimanyu dengan menggendong Kairav.
__ADS_1
Petunia sendiri berjalan dengan tatapan datar, mengitari ruangan.
Tak banyak yang berubah dengan desain rumah yang ia tempati sejak kecil. Semua desainnya sama, hanya beberapa perabotan dan hiasan dinding saja yang berubah.
Lihat, bahkan tak ada foto pernikahan dirinya yang terpasang di dinding. Yang ada hanyalah foto pernikahan Kia dan Adam. Tanpa sadar, Petunia Amarilys tersenyum getir.
Benar kata Farel. Dirinya tak seharusnya berada di tempat yang lingkungannya, tidak menganggap dirinya Adam. Menghilangnya dirinya, adalah keputusan terbaik.
"Ya," Abimanyu menjawab dengan nada suara datar. Lelaki itu membenci Adam yang telah membuat kedua putrinya menangis. Hanya saja, Abi tak akan bersikap kekanakan.
Toh semua itu terjadi sudah bertahun lalu.
"Farel?" Adam menatap Farel. Ekor matanya melirik Petunia tanpa berani menyapa.
"Ya. Aku datang untuk menjenguk orang tua istriku," jawab Farel dengan tenang.
Entah apa yang dipikirkan Farel, Adam sedikit tak nyaman dengan situasi ini saat Adam menatap Kairav dengan tatapan sendu. Mungkinkah Farel cemburu?
Bagi Farel, Kairav adalah putranya. Adam hanyalah ayah yang menghadirkan Kairav ke dunia. Selebihnya, semua hal dilakukan oleh Farel, termasuk peran ayah.
"Aku akan memanggil Kia dan Ibu," ujar Adam berlalu.
"Nia, Ayah minta maaf. Tolong maafkan Ayah yang penuh dosa ini," ungkap Abimanyu.
Mereka kini telah duduk di sofa ruang tamu. Hingga tak lama kemudian, Kia dan Kirana turun dari tangga mendapati Farel dan Abimanyu dengan rasa syok yang menyertai.
__ADS_1
**