
Waktu nyaris merambah memasuki dinihari, Ketika Nia masih saja membuka matanya. Wanita itu tidak bisa tidur, memikirkan banyak hal yang mengusik hidup tenangnya. Belakangan, Nia tak fokus sama sekali pada mata kuliahnya, dengan kata lain, prestasi putri bungsu Abimanyu itu menurun.
Nia tak bisa tidur, dan sengaja mematikan lampu agar orang tuanya mengira Nia telah terlelap. Untuk malam ini, Nia tidak ingin tidur, melainkan ingin meluapkan segala keluh kesahnya. Meski hanya seorang diri, Nia yakin, Tuhan pasti mendengar dan melihatnya.
"Bagaimana ini, Tuhan? Bisakah aku menawar takdir padamu, agar Adam segera sadar dan menikahi aku? Tolong, Tuhan, kasihanilah aku dan anakku," Nia berbisik lirih, bersandar pada pagar balkon kamar dan tangan kanannya mengusap-usap lembut perutnya yang membuncit.
"Sampai kapan aku akan berharap dan menjadi wanita bodoh begini? Astaga, aku benar-benar bodoh," gumam Nia seraya tertawa masam seorang diri. Bahkan hembusan angin malam, cukup membuat Nia sadar, bahwa waktu telah benar-benar larut.
Pintu kamar Nia terbuka dari luar, menampilkan sosok Kia yang malam ini pun sama tak mampu hanyut dalam lelap. Kening Kia mengerut, begitu ia mendapati sang adik tengah berada di balkon. Meski lampu padam, namun ada lampu tidur yang menjadi penerangan samar.
"Nia," panggil Kia, menuju balkon dan menghampiri sang adik yang gelagapan.
Spontan Nia meraih jaket yang ada di kursi balkon, memakainya sebab tak ingin Kia melihat perutnya yang mulai terlihat buncit.
"Ya, kak?" tanya Nia, membalikkan badan.
"Kenapa malam begini baru pakai jaket setelah Kakak datang? Kenapa juga kau menangis begini, Nia? Ada apa? Apa yang kau sembunyikan dari kami?" tanya Kia, mencecar Nia dengan banyak tanya.
"Baru terasa dingin, Kakak akan mengomeli aku pasti, sebab aku menghiraukan kesehatanku," jawab Nia.
"Kau kenapa belum tidur?" tanya Kia maju tiga langkah, dan mensejajarkan tubuhnya dengan sang adik.
"Sedang malas tidur, dan Nia tak bisa tidur," jawab Nia kemudian. Wanita itu lantas menoleh ke atas, menikmati pemandangan malam yang gelap, terlebih, langit tertutup oleh awan.
"Pasti ada sebuah alasan yang mendasarinya. Apa kau tak bisa tidur, karena memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan mas Billy?" tanya Kia, menoleh kea samping dan menatap Nia intens.
"Ya, tentu saja. Aku memikirkan kakakku yang akan menikah dengan mantan dosenku," jawab Nia.
"Dan kau terluka? Atau sebaliknya?" tanya Kia, mendesak Nia untuk jujur.
__ADS_1
"Tak ada apapun yang harus aku katakan, Kak. Pergilah ke kamar Kakak. Sudah larut dan harusnya kakak tidur segera," Nia mengalihkan pembicaraan.
"Mengapa kau menghindari pertanyaan Kakak, Nia?" tanya Kia kemudian. Ia penasaran, mengapa Nia tak ingin disentuh olehnya, juga penasaran sebab Nia menghindari kekasihnya, meski itu hanya sekadar untuk berbincang.
"Kak Kia mencintainya?" Tanya Nia balik.
"Sangat, aku sangat mencintainya. Hanya saja, aku tak akan meneruskan pernikahan ini jika kau memiliki perasaan pada Billy," jawab Kia jujur.
"Sebesar apa cinta itu untuk kekasih Kakak?" tanya Nia lagi.
"Tak bisa di deskripsikan dengan kata," jawab Kia.
Nia terdiam, memerangi perasaannya sendiri, agar tetap kekeh untuk tidak mengusik cinta dan kebahagiaan sang Kakak. Hatinya meski sakit, namun bila harus menghancurkan kebahagiaan Kia, itu sama saja Nia bahagia di atas derita Kia.
Apa lagi yang Nia harapkan? Toh farel sudah bersedia memberikan status hukum yang jelas nanti untuk anak Nia. Jadi untuk membutuhkan Adam, rasanya itu tak mungkin lagi.
"Nia? Mengapa hanya diam? Tanya Kia kemudian.
Petunia sadar, dirinya adalah seorang penipu. Suatu saat, kebohongan dan kedok yang selama ini ia sembunyikan, lambat laun pasti akan terbongkar juga.
Bayangkan saja apa yang akan terjadi, jika sampai rahasia Nia terbongkar? Kia pasti kecewa, dan menyalahkan dirinya sebab tak jujur dari awal. Tidak, Nia tak mau jika hal itu sampai terjadi.
Ketika Nia memutuskan untuk tidak menerima Adam lagi, mengubur lelaki itu menjadi sebuah kenangan yang tak akan Nia ingat, maka saat itu pula, Nia membulatkan tekad untuk tidak lagi berurusan dengan Adam meski hanya sebagai Ipar.
"Itu sudah pasti, Nia. Kakak hanya heran, mengapa kau begitu menghindari Billy? Apa ada sesuatu yang membuatmu membencinya, atau ada sesuatu yang membuatmu terluka?" tanya Kia tepat sasaran.
"Jangan pernah mengurusi apapun tentangku, Kak. Aku memiliki sejarah buruk dengan calon suamimu. Namun terlepas dari apapun yang terjadi diantara aku dan Dia, kurasa Kakak lah yang diinginkan olehnya. Lebih baik, Kakak kembali dan istirahat. Aku lelah dan ingin tidur segera," jawab Nia dengan suara dingin, berbalik dan menuju ke arah pintu balkon.
Kia terbengong di tempatnya, menatap sang adik dengan tatapan penuh tanya, juga tak nyaman yang perlahan membuat Kia bertanya-tanya.
__ADS_1
Ada apa ini sebenarnya? Mengapa Nia berubah jadi dingin begini? Astaga, apa yang harus aku lakukan?
Bisik batin Kia.
"Kak, sudah malam. Kau mengantuk dan mau tidur, segeralah kembali ke kamarmu," Nia sengaja mengulangi permintaannya.
"Apa sejarah buruk itu, Nia? Jelaskan pada Kakak," tegas Nia.
"Jangan hanya aku yang kau cecar dengan banyak pertanyaan, harusnya kau juga bertanya pada Adam," jawab Nia, seraya tangannya bergetar memegangi gagang pintu balkon.
"Adam?" tanya Kia kemudian.
"Ya, Adam Billy Hutama. Namanya Adam Billy Hutama, bukan?" tanya Nia.
Kia mengangguk, melangkah maju dan meninggalkan kamar sang adik dengan perasaan tak nyaman, serupa gumpalan yang mengganjal napas Kia.
"Nia," panggil Kia sekali lagi, sebelum ia benar-benar keluar dari kamar sang adik.
"Pergilah, Kak. Aku sedang tak ingin membahas apapun," jawab Nia seraya menutup pintu, membiarkan Kakaknya mematung di tempatnya.
Nia terdiam di balik pintu, bersandar seraya memejamkan mata. Ia lelah, air matanya terus tumpah tanpa bisa dikendalikan.
Nia lantas menuju ranjang dengan langkah lunglai, menepis segala bayangan tentang Adam. Kejujuran Kia yang mencintai Adam dengan begitu besar, membuat Nia tak berdaya. Hatinya seolah dihantam dengan ribuan ranjau tak kasat mata.
Andai boleh memilih, Nia ingin segera pergi saja dari rumah, sejauh mungkin dan memilih hidup sendiri di rantauan. Mungkin kedengarannya bagus.
Sayang seribu sayang, Nia takut untuk sekadar memulai, dan juga takut bila ia tak mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan anaknya. Nia terlalu pengecut, penakut dan tak mau hidupnya terlunta di jalan.
Nia ingin tidur, memejamkan mata dan melupakan semua lukanya. Sakitnya di khianati, nyatanya membuat semua emosinya terkuras sejauh ini.
__ADS_1
Besok, Nia bertekad untuk menemui Adam, lelaki pujaan hatinya sekaligus calon Kakak iparnya itu, untuk bicara terakhir kalinya, sebelum Nia benar-benar mundur, dan mereka menjadi orang asing yang tak saling mengenal satu sama lain.
**