
Sore kali ini terasa sejuk. Suasana rumah Abimanyu dengan keramaian tawa dan jerit anak-anak, menambah suasana rumah kian hidup. Kairav dan Emily adalah kebanggaan terbesar dalam hidup Abimanyu dan Kirana, sekalipun kedua cucunya itu tidak bisa akur layaknya saudara.
Petunia duduk di pinggir taman kecil di bawah pohon jambu, dengan memangku sepiring puding susu buatannya, untuk Kairav. Anaknya itu tengah bermain di kolam ikan seorang diri, sambil sesekali menghampiri Nia untuk memakan pusing susu.
Tak jauh dari Kairav, Emily tak pernah bosan mendekati Kairav sebagai saudara. Sayangnya, Kai hingga kini masih juga belum bisa dekat dengan Emily tanpa Petunia tahu apa sebabnya.
Angin sejuk sore ini, menerbangkan anak rambut Petunia. Dress satin selutut berwarna merah jambu, dengan balutan motif bunga sakura di bagian ujung bawah, juga sesekali bergerak-gerak akibat terpaan angin.
Sudah Tujuh Candra berlalu selepas kecelakaan yang Petunia alami. Wanita itu akhirnya menyadari satu hal, bahwa sebesar apapun kesalahan orang tua, selalu ada rasa tulus dan sayang orang tua yang tidak bisa diungkapkan dengan kata.
"Kairav, ayo cepat habiskan. Sebentar lagi senja tiba dan kita harus segera masuk ke dalam," ujarnya.
Suara tongkat yang beradu dengan benda mati lainnya di belakang rumah, membuat Nia terfokus pada Ayah yang tengah menghampirinya. Wanita itu lantas bangkit dan menghampiri Ayahnya.
"Ayah mengapa tak di dalam saja?" tanya Petunia sembari menuntun Abimanyu untuk duduk di kursi memanjang miliknya.
"Ayah minta tolong, tolong hubungi Farel bahwa Ayah tidak jadi memesan teh herbalnya. Ayah tidak mau merepotkan," pinta Abimanyu pada Petunia.
"Mas Farel sudah membelinya, Yah. Ayah tidak perlu khawatir. Jangan terlalu takut merepotkan, apa yang Ayah pinta pada suamiku, tak sepadan dengan apa yang Ayah berikan untuknya," ujar Petunia kemudian.
"Ya sudah. Ayah tidak enak sendiri. Dia sendiri yang menawarkan teh herbal untuk menghilangkan capek-capek. Oh ya, mana Kairav?" tanya Abimanyu kemudian.
"Kairav, kemari. Kakek menanyakan dirimu," panggil Petunia pada Kairav.
__ADS_1
Kairav segera berhambur untuk memeluk kakeknya. Bagi Kairav, sangat menyenangkan bisa memiliki kakek seperti ini. Kairav pikir, dirinya tak akan merasakan hangatnya kebersamaan bersama kakek seperti temannya yang lain.
"Kakek, aku ingin bermain layang-layang bersama kakek. Tak apa, nanti kakek ikut saja, Kai akan bermain bersama Papa nanti jika Papa sudah datang dari rumah Kai yang lama," ujar anak itu, seraya memeluk Abimanyu.
Farel memang sering bolak balik dari rumahnya, ke rumah mertuanya untuk menjenguk Petunia. Jarak yang begitu jauh, terpaksa harus sering ditempuh akibat Farel tak bisa membiarkan bisnisnya terlalu lama.
Abimanyu tertawa senang. Meski dengan segala keterbatasan penglihatan, namun Abimanyu bersyukur ia kembali bisa akur dengan sang putri.
Dari pintu rumah bagian belakang, Kia hanya menatap miris pada Ayah dan juga adiknya. Tak hanya Kia, rupanya Adam pun merasakan hal serupa. Adam juga tengah berdiri di belakang Kia.
Karena kesalahannya yang tak bertanggung jawab, Adam harus merasakan penyesalan seumur hidup. Karenanya, Petunia tidak ingin lagi dekat dengannya, sekalipun dirinya adalah kakak iparnya.
Jangankan dekat, untuk bicara saja, Petunia lebih banyak menghindari. Wanita itu hanya menimpali simpel setiap kalimat tanya yang Adam lontarkan.
"Baiklah, nanti jika adik Kairav sudah keluar, jangan asik bermain sendiri, ya? Adik juga harus diajak bermain," ujar Abimanyu pelan. Namun, tentunya masih bisa di dengar oleh Adam dan Kia di ambang pintu sana.
Tawa sepasang kakek dan cucu itu terdengar hangat. Sebuah bahagia di hati Nia kembali membuncah, saat rupanya ia dan Farel dianugerahi janin dalam rahimnya. Tentunya benih Farel.
Petunia tengah mengandung dua bulan saat ini.
Jangan tanya kehancuran apa yang dimiliki sang mantan kekasih. Lelaki itu seolah dihukum oleh Tuhan, dengan bisa melihat Petunia, tanpa bisa memilikinya meski hatinya sungguh jatuh sepenuhnya pada Petunia.
Hukuman Tuhan memang tidaklah ringan, sekalipun Petunia sudah berhenti dan lelah untuk membalas dendam. Wanita itu lebih memilih diam dan membiarkan tangan Tuhan yang bekerja. Selain itu, Petunia juga sudah merelakan semuanya. Wanita itu hanya terfokus pada pertumbuhan Kairav dan calon bayinya bersama Farel. Mengurus Farel sehari-hari saat Farel mengunjunginya, nyatanya cukup menyenangkan.
__ADS_1
Dengan sebongkah penyesalan yang tak akan pernah habis di makan masa, Adam berbalik badan dan berlalu pergi. Hanya dengan pekerjaan, lelaki itu melampiaskan segala masalahnya.
Dengan Kia?
Adam akan tetap membahagiakan Kia dan Emily, putrinya. Selanjutnya, Adam tak mau lagi melibatkan anak lagi di dalam rumah tangganya bersama Kia. Cukup Emily yang ia punya sebagai putri yang sah. Perkara Kairav adalah putranya, biarlah dirinya dan Tuhan saja yang mengakuinya.
Adam tak lagi peduli sekalipun seisi semesta mengutuknya.
"Mas, mengapa pergi? Kau tidak rindu Kairav?" tanya Kia lirih, tanpa membalikkan badan.
Langkah Adam terhenti, berbalik menatap istrinya yang memunggungi dirinya.
"Aku merindukannya. Tetapi cukup Tuhan saja yang tahu rinduku. Aku sudah punya Emily untuk bisa aku bawa dalam rengkuhan sayang. Tolong jangan pernah meminta perpisahan lagi untuk yang ke seribu kalinya. Aku sudah pernah membuang Kairav, aku tak ingin meninggalkan anakku satunya untuk aku buat sama seperti Kairav. Kau boleh membenciku, Kia. Mungkin memang inilah hukuman yang pantas untukku, memiliki rumah tangga dingin sebeku kutub selamanya, sebagai ganjaran dosaku di masa laluku," ujar Adam panjang lebar sebelum berbalik pergi.
Tanpa mereka sadari, Farel sudah datang dan mendengar ujaran pasrah Adam.
Farel lelah, dan bingung harus bagaimana bersikap. Yang Farel tahu, ia harus membalas kebaikan Ayah mertua sekalipun dulu ia nyaris mati karena kebencian Ayah mertuanya itu.
Setiap perbuatan buruk, selalu ada ganjaran setimpal yang alam persiapkan. Namun, dengan ketulusan, maaf bisa membuka pintu perdamaian dalam keluarga penuh kasih.
Cinta tak pernah salah. Yang salah adalah, ketika kita menempatkan cinta, sebagai ajang permainan yang bisa dipergunakan, dan diletakkan sesuka hati.
Pada akhirnya, pemenangnya adalah mereka yang memilih mengalah.
__ADS_1
**