Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
21. Pelukan Hangat.


__ADS_3

Hari terus berganti, Minggu terus berlalu dengan segenap bahagia yang menyertai Nia. Dua Minggu lagi, adalah HPL yang Dokter katakan padanya, juga Farel yang selalu setia menemani Nia setiap memeriksakan kandungan. Tak pernah ada kata mengeluh, tak pernah ada kata enggan bagi Farel, bila itu menyangkut tentang Nia dan buah hati Nia.


Tak ada yang berubah selama Nia menikah dengan Farel. Ayah yang terus mengintimidasi Nia, juga menebarkan banyak ancaman yang tak berguna. Tak henti-hentinya Abimanyu memberikan hinaan, makian, bahkan hujatan pada Farel yang sudah mengorbankan banyak hal sejauh ini.


Bahkan pernah suatu ketika Nia mendengar dari Kak Kia, bahwa Ibu sempat diancam Ayah untuk di ceraikan, hanya karena memaksa hendak mengunjungi Nia. Terbuat dari apa sebenarnya hati Ayah? Mengapa Ayah bisa setega itu pada Farel dan putri kandungnya sendiri?


Apakah pantas di sebut sebagai suami dan Ayah?


Petunia merasa, sosok Ayah yang benar-benar dulu Nia miliki, saat ini seolah Nia tak lagi mendapatinya. Ayah yang dulu begitu penyayang dan perhatian, kini seolah Petunia tak lagi mengenalnya.


Lantas, kemana sosok Ayah yang selama ini Nia banggakan? Nia tak mengerti. Jangankan untuk sekadar sayang melepas rindu, yang ada justru Ayah semakin gencar memerintahkan Nia berpisah dari Farel.


Apakah Nia akan menuruti? Jawabannya tentu saja tidak. Nia tak akan semudah itu mengiyakan apa yang Ayahnya perintahkan.


Begitu juga dengan bahtera rumah tangga yang tak seumur jagung itu. Bahagia tak selamanya datang. Roda tak selamanya diam di tempat tanpa berputar. Selalu ada masa, dimana kita di bawah, di mana kita ada di atas.


Perasaan Nia yang biasanya ceria sebab Farel selalu menghiburnya, dan menyuntikkan semangat untuknya, entah mengapa tiba-tiba terasa tak nyaman. Nia merasa bingung bagaimana hendak mendeskripsikan perasaannya.


"Rel, sebaiknya tidak usah berangkat bekerja. Aku ingin di temani seharian ini," pinta Nia dengan nada memohon, dan entah ke berapa kali wanita itu mengiba pada Farel. Tak biasanya Nia begini pada Farel. Farel sendiri heran di buatnya.


"Sayang, jangan begini. Aku berangkat bekerja dan bekerja demi kau dan si bayi. Jangan khawatir, aku tak akan mampir kemana pun dan akan segera pulang. Aku mohon pengertiannya. Aku khawatir tabunganku yang tak seberapa itu masih kurang untuk biaya lahiran," jawab Farel seraya membawa si istri ke dalam pelukannya.


Sebenarnya farel merasa berdosa sekali, akan absen dirinya menemani sang istri, tak memenuhi keinginan sederhana dari wanita yang menjadi pusat dunia dan sumber cintanya. Tetapi mau bagaimana lagi? Tak ada yang bisa menjadi sandaran Farel. Untuk mengeluh pada Ibu, Farel tak ingin menyusahkan Wanda terus menerus.


"Tapi aku, aku tak bisa jauh darimu sekarang. Entahlah, apa mungkin aku mulai mencintaimu? Aku sendiri tak mengerti dengan perasaanku," Nia memeluk Farel lebih dulu, sesuatu yang selama ini tak pernah ia lakukan, jika bukan Farel yang memeluk Nia lebih dulu.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memelukmu cukup lama, tak akan membiarkanmu merasa sendiri. Tapi jangan menghalangi aku untuk bekerja, oke? Ini demi kebaikan dirimu dan buah hati kita," ucap Farel, seraya memeluk Nia lebih lama.


Sebuah kehangatan begitu menjalar pada di hati Nia, mengusir banyak kekhawatiran, yang seolah menghantui hari-hari Nia selama ini.


Hangat pelukan keluarga, sudah tak lagi wanita itu rasakan, semenjak ia menyandang nama Petunia Amarilys Prahasta.


Hingga tak lama kemudian, Farel terpaksa memeluk istrinya yang tiba-tiba ingin bermanja. Lelaki itu tak ingin terlambat datang ke kampus.


"Katanya nanti Tika akan datang kemari, ia rindu denganmu. Jadi saat aku ke tempat kerja, ada Tika yang akan menemanimu lebih lama," ungkap Farel lagi.


"Benarkah?" tanya Nia dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Ya, tentu saja. Kapan memangnya, aku pernah berbohong padamu?" tanya Farel kemudian.


"Tidak pernah," Nia tersenyum manis, senyum yang sejak dulu berhasil membuat Farel takluk.


"Tanya apa? Katakan saja?" tanya petunia kemudian.


"Jika nanti kau melahirkan, lantas Adam datang untuk memeluk, menyapa dan menggendong anak ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Farel kemudian, seraya tangannya mengusap lembut perut Nia penuh kasih sayang.


"Aku tak akan membiarkannya, aku tak Kan mengizinkannya, aku tak akan membuatnya bisa melakukan itu semua selama aku bernapas," ungkap Petunia kemudian.


"Benarkah?" tanya Farel, seraya mengangkat alisnya sebelah.


"Ya. Dan menjadi tugas wajibmu untuk melindungiku dan anakmu. Mulai sekarang, aku minta padamu, jangan lagi membahas tentang Adam sebagai ayah anak ini. Mulai sekarang, kau lah Ayah yang sah untuk anakku," jawab Nia penuh keyakinan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memberiku wewenang untuk menjaga anak ini. Aku berjanji, aku akan menjagamu, dan akan menua bersama denganmu. Kau tak akan menyesal, kan, jika hidup dengan lelaki miskin sepertiku? Tetapi aku berjanji, aku akan berusaha kerja keras demi kalian, kau, dan anak ini," ungkap Farel, tersenyum manis.


"Rel, jika diperhatikan, kau tampan juga," puji Nia pada Farel.


"Ya, aku memang tampan sejak dulu. Hanya saja, kau baru menyadarinya, dan kau baru tahu hari ini, sebab dulu kau begitu tergila-gila pada Adam," timpal Farel.


"Ya, itu dulu. Tetapi sekarang, tidak akan lagi," ungkap Nia.


"Ya sudah, keburu siang, sebaiknya aku berangkat sekarang agar tidak terlambat," ujar Farel kemudian, setelah di rasa ia benar-benar kesiangan kali ini.


Nia tersenyum, melepas kepergian suaminya dengan anggukan. Sebuah perasaan berat tiba-tiba menggulung asa, berat melepas pelukan hangat Farel, yang entah sejak kapan, mendadak menjadi candu bagi Nia.


**


Seorang lelaki tengah berdiri di balik jendela kaca besar, yang memperlihatkan pemandangan sibuk ibukota dari baliknya. Siang nyaris tiba, ketika lelaki itu merasa tak tenang, dan dilanda rasa yang tak ia mengerti berasal dari apa.


Beberapa hari terakhir, Abimanyu dilanda sebuah rasa bersalah, di tambah dengan kebencian yang begitu dahsyat. Melihat kondisi putri sulungnya yang harus hidup dalam kesederhanaan, begitu jauh dari kemewahan yang dulu ia berikan pada Nia, membuat hatinya sebagai seorang Ayah terluka.


Rasa tak terima, rasa kalah, dan juga egonya sebagai seorang Ayah, seolah tercoreng.


Lelaki itu lantas keluar, berniat pulang dan mendelegasikan pekerjaan pada bawahannya saja. Ia perlu memisahkan Nia, dari lelaki yang bernama Farel itu, apapun yang terjadi, dan bagaimana pun caranya.


Lelaki itu semakin tak tahu diri, juga semakin melambungkan kesombongannya setinggi langit.


Semoga saja, tak ada penyesalan yang menghampirinya setelah ini.

__ADS_1


**


__ADS_2