Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
27. Keputusan dan Hukuman.


__ADS_3

"Tolong rahasiakan keajaiban untuk suamiku ini, dari semua keluargaku, Bu. Tolong katakan kada semua orang yang ada disana, bahwa Farel Prahasta telah dikebumikan," pinta Petunia dengan sangat mengiba pada ibu mertuanya, Wanda.


Bukan hanya Farel Prahasta yang terbaring tak sadarkan diri sebab dalam perawatan dokter, melainkan Nia juga terlalu syok hingga ia tadi sempat pingsan. Kondisi tubuhnya yang begitu lemah, sebab terlampau syok dan baru saja melahirkan, membuat Nia kini tak punya banyak tenaga untuk sekadar berdiri.


Meski tubuh letihnya itu tak lagi bertenaga, namun bahagia kembali di hatinya. Jika sudah bisa berdiri sendiri nanti, Petunia berjanji, akan memeluk Farel seerat mungkin agar Farel tidak pergi darinya lagi. Itu janjinya.


"Baiklah. Itu tak masalah. Yang terpenting sekarang, kau harus sembuh dan jangan banyak pikiran. Ibu tidak mau jika nanti kau sakit juga. Farel pasti akan sedih jika nanti dia tahu kau begini," ujar Wanda, dengan senyum tulus keibuan.


"Miris sekali. Bahkan ibu kandungku sendiri tega membuangku, Bu. Entah aku harus berkata apa setelah ini. Ibu benar-benar baik padaku," Ucap Petunia, dengan sebuah harapan, ia bisa membuka lembaran baru.


Sudahi saja semua ini. Nia ingin pergi sejauh mungkin, bersama suaminya, juga keluarga suaminya yang bahkan jauh lebih baik padanya, di bandingkan keluarganya sendiri.


**


"Apa yang kau lakukan, pada dua putriku, Billy? Mengapa kau tega hingga Petunia di benci oleh Ayahnya sendiri? Sekarang karena perbuatannya itu, kami semua menyesal telah menganggapnya hina. Astaga .... " ucap Kirana yang sudah tidak tahan lagi. Wanita itu begitu terpukul, atas kejadian beberapa lalu tentang pengakuan Putrinya.


Setibanya di rumah. Kirana dan Abimanyu mengeluarkan amarahnya tanpa bisa dibendung lagi.


"Maafkan saya, Bu," Adam tertunduk tak berdaya. Abimanyu benar-benar telah menghajarnya hingga sedemikian parah. Wajah lelaki itu sudah babak belur. Lihat saja, bahkan ada beberapa bagian dari sudut wajahnya, terluka dan beberapa lagi, memar.


Tak ada ketampanan. Tak ada kharisma. Tak ada lagi senyum lembut. Yang ada, Adam merasa terluka atas kejadian ini.

__ADS_1


Namun, rupanya itu cukup membuat rasa bersalahnya berkurang. Meski begitu, ia tetap akan menebus kesalahannya di masa lalu, pada Petunia.


"Akan saya perbaiki semuanya," sambung Adam lagi.


"Bajingan!" Abimanyu menggebrak meja dengan suara begitu keras, "dengan cara apa? Nia begitu membenciku, dan anakku yang aku buang itu, mungkin tak akan menerimaku lagi setelah ini!" jawab Abimanyu lagi.


Mata Adam terpaku pada Kia, Kia yang terluka dengan sorot mata duka yang begitu dalam. Mungkin sebab lelah, Kia hanya diam, merasa berada pada titik paling rendah.


Membayangkan betapa Petunia menderita sebab karena kebahagiaan dirinya, menjadi alasan Nia memendam masalahnya seorang diri, dan harus merelakan pria yang ia cintai.


"Hentikan saja semua ini, Ayah. Suruh mas Billy menceraikan aku. Farel sudah tiada, Nia sudah cukup menderita dan biarkan mas Billy bertanggung jawab atas anaknya. Jangan ada lagi kemarahan dan kebencian. Lupakanlah itu semua. Yang terpenting sekarang, bagaimana caranya bisa membuat Nia bahagia. Sudah cukup dia menderita karena aku yang merebut kekasih hatinya," ucap Kia, menatap Abimanyu dengan tangis yang kembali tumpah.


"Tidak akan!" jawab Abimanyu dengan tegas, "Adam Billy Hutama yang sudah menyakiti hati dua putriku, tak boleh datang untuk mengambil salah satu putriku. Lebih baik kau pergi, Billy. Untuk mengurus Nia dan Kia, aku lebih sanggup."


Kali ini tak ada air mata buaya, melainkan Air mata tulus seorang pria yang mengakui kesalahannya, dan enggan dipisahkan dari wanita yang ia cintai.


Tetapi sayang, tak ada yang bersedia lagi sudi meski sekadar untuk melihat ketulusannya. Kini, tatapan mata penuh luka itu, terabai tanpa belas kasih. Kesalahan Adam begitu fatal, tanpa bisa di tolerir lagi di mata Abimanyu.


"Dulu aku pikir, menantu yang mapan lagi dari keluarga sederajat denganku, akan mampu membuat putriku bahagia. Dan aku pikir, lelaki ingusan tanpa masa depan cerah, hanya akan menjadi benalu dalam keluargaku. Nyatanya, aku salah besar. Kau yang aku kira bisa menjaga dan mencintai putri sulungku, nyatanya telah melukai hati dua putriku sekaligus. Aku menyesal menerimamu. Pergi dari rumahku, dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku lagi," usir Abimanyu.


Adam mengangguk, mencoba untuk menerima semuanya. Hanya saja, karakter Adam adalah orang yang enggan merugi meski sedikit saja. Jika ia di usir begitu saja dari kediaman Abimanyu, setidaknya ia tak pergi sendirian, melainkan ada Kia yang harus tetap bersamanya.

__ADS_1


Mata Adam menatap Kia, mencoba meneliti setiap rasa yang Kia punya melalui matanya.


"Aku akan pergi, dan mencoba untuk memperbaiki diri. Namun, aku akan membawa Kia ikut serta denganku," jawab Adam seraya menatap semua orang bergantian. Dapat ia lihat, sorot terkejut yang terpancar pada netra mata istrinya itu, "Tetapi, aku akan pergi dengan membawa istriku. Dan aku, aku tetap tak akan menceraikan Kia. Tolong, Ayah. Aku sangat mencintai Kia."


Baik Kirana maupun Abimanyu, dibuat terkejut olehnya. Tetapi tidak dengan Kia.


Meski Kia merasa terluka dan berdosa pada adiknya, juga setengah membenci Adam, setengah lagi rasa di hatinya hanya untuk Adam, "jangan mengada-ada, mas Billy. Lupakan cinta. Kesalahanmu terlampau fatal untuk aku toleransi!" seru Kia yang kembali tersulut emosinya.


"Dan setiap orang memiliki kesempatan kedua untuk menebus dosa dan memperbaiki dirinya. Aku mohon, Kia. Jangan meminta perpisahan dariku. Aku tidak bisa menceraikan mu. Aku tak sedia menceraikan dirimu, sebab aku mencintaimu. Aku mohon," pinta Adam dengan mengatupkan kedua tangannya.


Kia yang duduk bersebelahan dengan sang ibu, begitu terkejut ketika Adam berlutut di kakinya.


"Apa yang kau lakukan, mas Billy?" tanya Kia pada Adam yang sengaja memohon untuk pernikahannya agar tetap utuh. Suara Kia gemetar. Antara marah, benci, juga cinta yang begitu besar untuk suaminya, tercampur aduk.


"Jangan tinggalkan aku, Kia. Aku mohon," pinta Adam dengan suara gemetar pula, "aku pernah menyakiti Petunia dengan sangat kejam. Sekarang, aku tak mau kau meminta aku menceraikan dirimu. Aku tak mau meninggalkan dua wanita yang sangat aku cintai."


Kia berpikir sejenak, menatap kosong meja yang ada tak jauh darinya.


"Mari tenangkan diri dan pikiran masing-masing, Mas. Biarkan aku tenang dulu. Sementara, menjauhlah dariku. Aku sedang dalam masa berduka. Petunia telah kehilangan suaminya. Adik semata wayangku juga masih dalam suasana berkabung ketika ia melahirkan. Tolong, jangan hanya aku, perhatikan juga darah dagingmu yang terlahir dari adikku. Beri aku waktu untuk bisa tenang," ujar Kia kemudian.


Sebuah keputusan besar diambil oleh Kia, semata hanya untuk meredam amarahnya, dan menghukum Billy-nya. Antara keputusan dan hukuman, seolah kompak membuat hati Adam mencelos sakit.

__ADS_1


**


__ADS_2