Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
39. Tak lagi memiliki celah.


__ADS_3

"Maaf, Ayah, Ibu. Kami harus pulang karena sesuatu hal," ungkap Petunia, pamit setelah ia benar-benar membulatkan keputusannya. Ia tak bisa berbuat banyak, namun ia memiliki pilihannya sendiri.


Berlama-lama di rumah ini, hanya menjadikan neraka semakin berkobar apinya. Petunia tak ingin panas seorang diri, sebab Adam dan kakaknya mengusiknya dengan semua yang mereka katakan.


Kia orang baik. Nia tahu itu.


Hanya saja, Petunia tak bisa seperti dulu lagi.


Hati itu ibarat kertas. Sedikit saja kau membuatnya kusut, ia tak akan pernah kembali seperti semula sekalipun kau menyetrikanya. Bukannya kembali serupa semula, yang ada justru akan hangus terbakar menjadi abu.


Begitulah hati seorang Petunia.


Wanita itu sudah terlanjur terluka parah, terlanjur rusak dan tak akan bisa disembuhkan seperti semula. Sebaik apapun niat Adam dan Kia untuk memperbaiki keadaan, alih-alih Nia menyambutnya dengan baik, yang ada Nia justru semakin murka.


Hati wanita itu terlampau terluka parah.


Sedari ia ditinggal begitu saja oleh Adam, lantas mencari Adam dan Adam datang sebagai calon suami kakaknya, percayalah, itu bukanlah sesuatu yang mudah dilalui. Jika tidak kuat mental, Petunia mungkin sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa saat ini.


Di tambah lagi, ia diselamatkan dalam suatu keadaan menyedihkan oleh Farel, dan Abimanyu menganggap Farel telah merusaknya hingga berusaha membungkam Farel untuk selamanya. Hati Petunia seolah hancur berkeping setelahnya.


Adakah keadilan?

__ADS_1


Tidak. Petunia hanya akan menjadi boneka. Yang disayang orang tuanya adalah Kia, dan Nia kala mengandung darah daging Adam, harus mendapatkan perlakuan dingin membekukan hati. Disanalah, Petunia memiliki rasa semacam trauma jiwanya.


"Kenapa terburu-buru? Apa ada masalah?" tanya Abimanyu ketika Nia pamit pulang segera, dan duduk tepat disamping Farel yang tengah memangku Kairav.


"Sedikit," jawab Petunia lirih. Dengan lapang, Petunia akan mencoba memaafkan ayah dan ibunya, namun tidak tersedia maaf untuk Adam Billy Hutama.


"Kau baru pulang dua hari, Nia. Tinggallah lebih lama disini. Ibu masih ingin mengajak Kairav untuk berkeliling kota bersama Ayahmu," kali ini Kirana bicara.


Petunia menatap lekat Ibunya tanpa kata, hingga membuat Kirana salah tingkah sebab rasa tak nyaman, di tatap sedemikian dingin oleh putrinya.


"Juga Emily? Maaf, Bu. Urusan pekerjaan suamiku jauh lebih penting. Ibu mertuaku juga lebih penting dari sekadar jalan-jalan berkeliling seperti domba bodoh mencari makan. Masa lalu sudah terlupakan, aku juga sudah berusaha memaafkan kalian. Tetapi untuk membiarkan anakku terus berinteraksi dengan lelaki yang telah menghancurkan hidupku, aku tak lagi memiliki toleransi," Petunia berkata lirih, namun memiliki makna menyakitkan sebab rasa bersalah orang tuanya.


Farel tersenyum simpul. Inilah momen yang Farel tunggu. Ada sisi licik yang Farel miliki untuk balas dendam kali ini. Menjauhnkan Petunia secara terang-terangan dari orang tuanya.


Hidup Adam akan diwarnai kesuraman rindu. Petunia, hanya boleh dimiliki Farel. Tak salah bila Farel harus angkara murka untuk urusan memiliki sang Petunia.


"Tidak. Tidak akan bersama Emily. Ayah mohon, Nia. Tinggallah lebih lama. Enam tahun adalah waktu yang cukup lama bagi Ayah menerima hukuman. Dipenjara bukanlah hal yang sulit Ayah jalani, bila dibandingkan dengan harus jauh darimu. Cinta kami, tolong kau mengerti bahwa saat ini cinta kami untukmu, porsinya sama dengan cinta kami pada Kia. Kalian berdua adalah putriku, tolong hentikan perselisihan ini karena Adam. Semua sudah berlalu, tolong maafkan kami dan mari memulai hidup baru," seorang Ayah mengiba untuk sebuah kesempatan.


"Semua sudah berlalu, tetapi aku tak bisa membunuh mati rasa sakitnya meski bertahun-tahun telah berlalu. Aku menyayangi keluarga ini, namun aku tak bisa tinggal lebih lama, hanya karena rindu Ayah sementara kenangan masa lalu begitu menyiksa. Tolong, Ayah. Tolong Ayah mengerti," Jawab Petunia dengan hati rapuh.


"Nia, Ibu mohon. Setidaknya tinggal lebih lama demi Ibu. Ibu sangat rindu padamu. Beri kesempatan kami untuk menebus semua dosa kami padamu. Ibu berjanji, akan bersungguh menjadikanmu gadis kecil kami selayaknya kamu masih tinggal di rumah ini dulu," Kirana juga tak mau kalah.

__ADS_1


Nia tak sanggup berkata-kata, sementara Farel tersenyum melihat kedua mertuanya akan kehilangan putrinya.


"Baiklah, kita akan pulang segera," timpal Farel tiba-tiba.


Abimanyu memucat dengan Kirana yang menangis perlahan.


"Tolong jangan pergi, Petunia," Kia melangkah cepat menuju sofa dekat Nia. Tetapi sayang, itu tak akan mempengaruhi sedikitpun keputusan Nia.


"Kau sudah bahagia bersama lelaki pilihanmu, Kak. Inilah yang aku harapkan sejak dulu, melihatmu bahagia sebab kau terlalu baik padaku. Tetapi menetap dan berada disini, aku tak bisa. Sebesar apapun maafku untuk kalian, hatiku tak bisa kembali pulih sedia kala jika melihat Adam. Aku tak mau menjadi munafik, dan membohongi semua orang," ujar Nia dengan mata berkaca-kaca.


Meski terlihat tegar, namun mata indah sang Petunia menyorot penuh kepedihan.


"Farel, tolong. Tolong sekali bujuk Nia untuk menginap lebih lama lagi. Aku, aku tak memiliki kesempatan untuk bicara dengan adikku dari hati ke hati. Tolong, Rel. Aku percaya kau orang baik, bantu aku," Kia mengiba pada Farel.


Kia yakin, Farel bisa mengubah keadaan.


"Maaf, Kak. Sepertinya memang Petunia harus aku bawa pergi. Maaf jika mungkin di masa depan, aku tak bisa kembali lagi kemari. Biarkan aku dan Nia bahagia, tanpa perihnya bayangan masa lalu. Aku ingin istriku bahagia. Jika mau, berkenanlah untuk mengunjungi kami di tempat tinggal kami, aku akan menyambutnya dengan baik. Hanya saja tolong, jangan biarkan Nia melihat Adam lagi. Nia milikku sekarang, dan di masa depan," Farel memutuskannya.


Bak petir, yang dirasakan seonggok hati di balik dinding pemisah ruang belakang dan ruang tengah. Hati Adam mencelos serasa ingin loncat dari rongga dadanya.


Apalah daya, ini adalah pertemuan terakhir dirinya dengan Nia. Si Petunia yang indah dan manis penuh manja itu, tak akan bisa lagi Adam lihat setelah ini.

__ADS_1


Adam, benar-benar telah kehilangan bayangan Petunia akibat ulahnya di masa lalu. Petunia tak akan memberinya celah untuk sebuah kesempatan, maupun maaf.


**


__ADS_2