Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
14. Penyesalan


__ADS_3

Langit ibukota kembali mendung hari ini. Awan tebal tampak berarakan seolah tengah mengitari bumi untuk menyiraminya dengan hujan. Air langit seolah telah penuh dan hendak tumpah, membanjiri bumi ibukota dengan berkatnya.


Adam Billy Hutama duduk seorang diri di dalam mobilnya, menatap kosong area luar jendela dimana kendaraan berlalu lalang dengan padatnya. Sepulang dari universitas tempatnya mengajar, Adam tak segera pulang, melainkan berniat untuk menepi sendiri.


Menyendiri, belakangan Adam terlihat letih dan banyak melamun. Lelaki itu seolah asik dengan dunia barunya, menghabiskan waktu menyendiri hanya untuk meratap dan menikmati hatinya yang berdarah, serupa dengan hati Petunia.


Jangan dikira hanya Petunia Amarilys yang kini terluka. Bahkan hati Adam pun sama hancurnya. Inilah sebuah kesalahan fatal Adam untuk pertama kalinya. Ia meninggalkan wanita yang selama ini telah memberikan seluruh jiwa, raga dan hatinya.


"Dasar tak bermoral, dasar biadab, dasar bajingan, dasar brengsek kau Adam!" seru Adam mengumpat dirinya sendiri yang bodoh lagi tolol.


Lelaki itu kembali membenturkan kepalanya pada stir mobil, untuk melampiaskan kekesalannya pada dirinya sendiri.


"Andai aku tahu dari awal bahwa kau mengandung, Nia, aku tak akan sebodoh ini dan tak akan pernah mencari wanita dewasa untuk aku jadikan istri," lirih Adam dengan bibir bergetar. Lelaki itu juga tampak pucat, dengan rambut yang sudah acak-acakan.


"Ya Tuhanku, kau yang selalu menumpahkan kasih pada semua umat, mengapa kau harus membuat aku dan Nia sama merana seperti ini? Mengapa aku begitu bodoh dan tolol, sebab aku telah mengabaikan wanita itu. Astaga, apa yang aku lakukan?" lirih Adam dalam diam.


Dalam hening, Adam menyumpah serapah dirinya sendiri.


Inginnya Adam nekat dan mengatakan pada semua orang, bahwa dirinyalah Ayah biologis dari anak yang Nia kandung. Inginnya Adam nekat membawa lari Nia sejauh mungkin dari sana andai Nia mau. Namun, sayangnya nia tak pernah menginginkan dirinya lagi seperti dulu. Nia telanjur muak akan perlakuan Adam. Nia terlanjur membenci Adam sebab sakit hatinya.


"Mengapa kau harus menikah dengan Farel, Nia? Mengapa semua orang harus tahu tentang kehamilanmu, setelah aku menikahi Kakakmu? Balas dendam mu sungguh sempurna. Kau benar-benar telah berhasil membalas aku," teriak Adam. Ingin sekali lelaki itu melampiaskan amarahnya, juga penyesalan.


Mata Adam tiba-tiba memanas, kala netranya itu menangkap siluet ibu-ibu paruh baya yang tengah menggendong bayi, serta menenteng kresek yang berisi popok bayi dan susu formula.

__ADS_1


Tiba-tiba ingatan Adam kembali pada sosok Nia.


Aku tak pernah mengonsumsi susu hamil ataupun vitamin sedikitpun. Mau mati ataupun hidup, anak ini memang sudah ditakdirkan dibenci oleh semua orang. Berhentilah Kak Kia mengurusi urusanku, dan jangan pernah peduli lagi padaku!


Tak pernah mengonsumsi susu hamil. Itulah yang Nia katakan saat itu. Adam ingat betul, bahwa Nia mengatakan kalimat itu tanpa melupakan kata-kata dan nadanya, secuil pun.


"Apa karena kau membenciku, hingga kau tak sedia merawat anak kita dengan baik, Nia? Baiklah. Aku yang akan memedulikan anak kita. Tunggu aku, aku akan segera menghampiri dirimu," ujar Adam seraya melakukan mobilnya, dengan laju sedang.


**


Sore ini mendung kembali menyapa, membuat Petunia sedikit khawatir hujan akan segera turun, sebab suaminya belum juga pulang. Mentari yang tadi sempat memberi kehangatan, entah kini pergi kemana.


Nia duduk di teras depan, dengan taman mini yang Farel buat untuk menyegarkan mata. Beberapa tanaman hias dan bunga Petunia berwarna putih ungu, menghiasi taman depan rumah Minimalis Nia dan Farel.


Nia menunggu kedatangan suaminya seraya termenung, Ada banyak hal yang ingin sekali rasanya Nia ungkapkan. Hanya saja, Nia tak tahu harus mengungkapkan pada siapa.


Tak hanya itu, Nia juga beberes rumah, melakukan sesuatu yang selama ini tak pernah ia lakukan kala di rumah. Nia juga bersikap layaknya istri, bahkan semalam pun ia mengatakan secara terang-terangan, ia bersedia di sentuh oleh Farel, suaminya. Dan ya, tahu sendiri apa yang dilakukan sepasang pengantin di malam pertama. Mereka bergulat di ranjang, dengan sangat lembut sebab Farel tak ingin menyakiti Nia, terlebih Nia tengah mengandung.


Inilah hari pertama Petunia menjadi istri Farel Prahasta. Melayani Farel sepenuh hati sebab Farel telah menolongnya. Bahkan pertolongan Farel, lebih berharga dari apapun selama ini.


Motor matic berwarna putih milik Farel, mendekat dengan laju pelan menuju ke arah pekarangan rumah Nia dan Farel. Lelaki itu tersenyum cerah, menampilkan gigi-giginya yang putih lagi rapi.


"Hai, sudah mandi?" tanya Farel, begitu dirinya turun dari motor, dan mendapati Nia berdiri dan menghampirinya.

__ADS_1


Setelan daster berwarna putih tulang dengan corak Teddy bear, begitu pantas dikenakan wanita itu.


"Sudah. Katanya orang hamil tidak boleh mandi terlalu malam, jadi, aku mandi pukul setengah empat baru saja," jawab Nia seraya ikut tersenyum lebar.


"Lihatlah, aku bawakan baju daster baru yang aku beli baru saja di dekat kampus. Ini bahannya cukup adem dan lembut. Ambillah, untuk pakaian gantimu," ungkap Farel seraya menyerahkan paper bag pada istrinya itu.


"Wah, terima kasih banyak, Rel. Tapi setelah ini, aku tak mau kau boros dan menghabiskan uang sesukamu untukku. Ayo masuk. Segeralah mandi dan sebentar lagi aku akan bersiap memasak makan malam," jawab Nia kemudian.


"Ya baiklah, istri cantikku," kata farel menggoda Nia. Keduanya lantas tertawa lantang, seperti yang biasa mereka lakukan saat mereka kuliah.


Namun baru saja keduanya nyaris memasuki pintu rumah, suara deru mobil mendekat, terdengar di telinga keduanya. Refleks mereka membalikkan tubuh, dann mendapati mobil yang mereka kenali, berhenti di halaman rumah Nia dan Farel.


Nia segera berjalan cepat untuk masuk, tak ingin menemui Adam, segera duduk di sofa ruang tamu.


Biarlah Farel sendiri yang menghadapi si bajingan itu.


Batin Nia.


"Kemana Nia? Aku ingin bertemu dengannya," ujar Adam yang melihat Nia menghindarinya. Tak lupa, Adam juga menenteng belanjaan yang ia beli tadi, sebelum ia kemari.


"Mungkin tidak ingin bertemu dengan anda, Kakak ipar. Dan lagi, tolong, lebih baik jangan pernah menemui Nia lagi. Anda sudah bersama Kak Kia dan Nia sudah menikah dengan saya. Mohon pengertiannya," ujar Farel, membuat Adam seolah tidak lagi memiliki kepercayaan diri.


"Setidaknya, dia mengonsumsi susu hamil dan makanan bergizi," jawab Adam layaknya orang bodoh.

__ADS_1


"Apa perlu saya ingatkan, bahwa saya adalah suaminya yang memiliki tanggung jawab penuh atas Petunia Amarilys?" tanya Farel, berhasil memberikan efek luka yang bahkan kian dalam, menusuk jantung Adam.


**


__ADS_2