Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
16. Rumah tangga Bahagia.


__ADS_3

Cinta memang tidak ada yang tahu, kapan ia akan berlabuh, dan pada siapa ia akan menetap. Cinta juga tidak selamanya menjadi surga seperti yang diharapkan. Terkadang, ada pahit manis dan sesekali rasa bosan melanda.


Zaskia dan Adam duduk di sofa di dalam kamar mereka. Satu bulan mereka membangun rumah tangga, sikap mereka semakin hangat saja. Bunga cinta dalam bahtera rumah tangga keduanya, semakin merekah dari waktu ke waktu.


Selama satu bulan ini, Adam tidak lagi mengunjungi Nia. Lelaki itu memilih untuk menyibukkan diri, untuk mengalihkan pikiran yang selalu tertuju pada adik iparnya itu. Sesekali menyambangi rumah Petunia dari kejauhan, untuk melihat wanita itu, memastikan keadaannya dan kandungannya baik-baik saja.


Sikap Adam juga selayaknya pria yang mencintai istrinya. Perlakuannya pada Kia sangat lembut, baik dan pengertian. Tak ada curiga. Tak ada rasa aneh yang Kia rasakan.


Inginnya Adam merelakan kebahagiaan Nia, dan membiarkan wanita itu bahagia dengan Farel. Tetapi naluri Adam menentang semua itu, sementara Nia sendiri telah menutup akses komunikasi keseluruhan dengan dirinya. Adam hanya khawatir pada kondisi Nia yang terabai oleh keluarga, dan juga kandungan Nia.


Meski tampak tenang dengan pembawaan kalem, namun siapa yang mengira, bahwa hati Adam penuh dengan luka lara? Lelaki itu demikian hancur, terlebih saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bahwa keluarga Nia seolah tidak peduli pada wanita itu, termasuk kedua orang tuanya.


"Mas Billy, kenapa hanya diam? Minumlah ini," ucap Kia mengingatkan, saat Adam hanya termenung memandangi langit senja.


"Oh terima kasih," timpal Adam. Lelaki itu lantas menyesap teh yang tadi panas, dan kini nyaris dingin.


"Kamu kenapa melamun? Apa ada yang di pikirkan?" tanya Kia, menatap dalam Adam yang duduk menghadap langit.


Adam mengangguk, meletakkan cangkir teh keramik bermotif bunga-bunga milik Kia, "tadi selepas pulang dari universitas, aku tidak sengaja mendengar perbincangan Ayah dan Ibu. Mereka membicarakan Petunia."


"Apa kata Ayah dan Ibu?" tanya Kia penasaran.


"Ibu ingin mengajak Ayah untuk menjenguk Kia, tapi Ayah menolak. Apakah Selama ini Ayah memang dingin sikapnya pada Nia?" tanya Adam penasaran, "tapi jika di lihat, sikap Ayah pada kita begitu hangat, dan tak pernah marah. Ini berbeda."


Kia diam sejenak, merasa tak nyaman dengan pembahasan sensitif yang tak ingin Kia angkat sebenarnya. Namun baru kali ini, Kia mendapati begitu kejamnya pada Nia. Padahal selama ini, Nia cukup penurut dan tak pernah membangkang.


"Selama ini, Ayah selalu baik pada kami berdua, aku dan Nia, sebagai putrinya. Hanya saja semenjak Nia mengandung, semua tak lagi sama. Rasa di rumah ini tak lagi sehangat dulu. Andai Farel tidak menghamili Nia, semua tak akan seperti ini," ungkap Kia mulai bercerita.

__ADS_1


Hati Adam seketika mencelos sakit.


Bukan Farel, melainkan Adam lah yang menjadi bencana untuk Petunia.


"Ayah dan Ibu kami, sebenarnya memiliki ambisi yang begitu tinggi untuk memiliki anak yang sukses. Aku juyg baru tahu, kalau Ayah sekejam itu pada Petunia. Kau tidak tahu, Billy, aku saja menjenguk Nia dua hari lalu, tanpa sepengetahuan Ayah. Kau harus tahu, perutnya sangat membuncit dan ya, aku ingin hamil seperti dirinya lama-lama. Sepertinya, farel cukup memberikan kebahagiaan dalam pernikahan mereka. Nia bahagia dan bibit tubuhnya naik," ungkap Kia kemudian, dengan senyum lebar.


Hati Adam seolah dihantam oleh ranjau. Sakitnya lumayan dalam, dan sungguh Adam tidak sanggup mendengar Nia sehancur itu. Sudah hamil, harus melanjutkan kuliah dengan biaya dari Farel yang pas-pasan, juga tidak di harapkan lagi dalam keluarganya. Semua berawal dari satu akar, kesalahan Adam yang tidak bertanggung jawab.


"Semoga saja Nia selalu bahagia," ujar Adam.


Baru saja Kia hendak menimpali kalimat Adam, ponsel wanita itu berdering, dengan nama Ibu terpampang di sana.


"Sebentar, Billy, kurasa Ibu memanggilku untuk ke bawah," ujar Kia, yang diangguki oleh Adam.


Semakin kesini, hati Adam semakin gelisah tak karuan. Andai saja Nia bersedia menerima uluran bantuan darinya, mungkin Adam yang akan menanggung biaya kuliah Nia, kehamilannya, juga kebutuhan Nia dan bayi mereka.


**


Dengan segenap cinta dan kasih yang Farel miliki, lelaki itu begitu memanjakan Nia kali ini. Tak masalah bila ia harus menghabiskan banyak waktunya di luar untuk bekerja, asal ia dan Nia masih bisa melanjutkan kuliah, akan Farel lakukan.


Bekerja sebagai penulis paruh waktu, disertai dengan menjadi waiters dari sore hingga pukul dua belas malam di salah satu kafe milik saudaranya, membuat Farel tak memiliki banyak waktu untuk membersamai Petunia. Begitu juga dengan Nia yang mencoba peruntungan sebagai penulis di beberapa platform berbayar, untuk membantu biaya kuliah dan belanja kebutuhannya, meski hasilnya tak sebesar uang belanja dari sang Ayah dulu.


Sebulan menjalani rumah tangga bersama Farel, dengan kondisi yang hampir melahirkan sekitar satu bulan lagi, membuat Nia benar-benar bahagia. Tak banyak uang belanja yang Farel berikan, namun Nia begitu menikmati hari, dengan tawa dan suka cita.


Tak bisa memasak, itulah yang membuat keseruan tersendiri bagi Farel, ketika di rumah. Lelaki itu kerap kali menjahili Nia, dengan mengajari memasak istrinya itu.


"Rel, kau sakit? liburlah kerja dan jangan memaksakan. Aku tidak ingin kau memaksakan diri," ucap Nia, ketika dirinya baru bangun dari tidur dan mendapati badan farel yang panas, namun lelaki itu menggigil.

__ADS_1


"Entah, kepalaku terasa berat. Aku tak bisa libur yang akhirnya membuat gajiku kepotong," jawab farel lirih dengan suara serak.


"Tak masalah. Bulan depan aku juga pasti akan mendapat gaji. Uang kita pasti cukup untuk kebutuhan kita," sahut Nia, "tunggulah disini sebentar, aku ingin membuatkan teh panas untukmu. Kau kuat untuk mengendarai motor? Atau kita pesan taksi saja untuk pergi ke dokter."


"Tidak perlu. Tolong belikan obat demam di warung dekat sini saja. Mungkin aku hanya kelelahan," ucap Farel menolak.


Bukannya apa. Satu bulan lagi bukan waktu yang cukup lama untuknya mengumpulkan uang lagi, untuk biaya kelahiran anak Nia. Ia tak mau bila sampai tak memegang uang bila waktunya Nia melahirkan, tiba, sementara ibu Farel juga sudah menguras habis tabungannya.


Kemana orang tua Petunia?


Abimanyu dan Kirana dengan tega melepas Nia begitu saja, tanpa sepeserpun uang sebagai bekal simpanan Nia, maupun perabotan isi rumah.


Sungguh tega.


Bahkan hingga kini pun, Nia tak dijenguk sama sekali oleh mereka. Mau Nia mati ataupun sekarat, mungkin mereka tetap tak perduli. Sungguh miris.


"Baiklah. Tunggu sebentar. Nanti aku akan mengompres dirimu," jawab Nia seraya menyingkap selimut, untuk segera pergi ke kamar mandi.


Nia hanya tidak menyadari, ada senyum cerah di wajah pucat Farel. Ada segumpal bahagiakan ketika Nia mengkhawatirkan kondisi kesehatannya menurun.


Mungkinkah Nia sudah mulai mencintai Farel?


Aku bahagia hari ini, Tuhan. Terima kasih atas cinta kasih dan berkatmu padaku. Aku berjanji, aku akan membahagiakan istriku hingga maut datang menjemputku.


Batin Farel.


**

__ADS_1


__ADS_2