
Tak ada yang bisa menggantikan sakit yang dirasakan oleh wanita yang baru melahirkan itu. Tak ada yang sepadan dengan luka yang ia derita selama nyaris setahun terakhir ini. Tak ada satu hati pun yang mengerti dan bersedia memberikan ketulusan, selain Farel Prahasta.
Kini, pemuda tampan lagi cerdas dengan hati yang luas itu, telah tiada, meninggalkan dunia dan gemerlapnya demi kehidupan baru di dalam tanah.
Adakah kehancuran yang lebih dari ini?
Petunia serasa tak sanggup, menjalani hari ini.
Andai sebelumnya Nia tahu akan ada hari duka sesakit ini, Nia bersumpah tak akan melibatkan pria manapun, sekalipun pria itu datang padanya untuk memberikan cinta. Farel yang malang, Farel yang tak tahu apa-apa, kini harus menjadi korban.
Andai Nia tak membiarkan Farel pergi bekerja sebelumnya, celaka tak mungkin mengantar lelaki itu pada kematian.
"Pergilah. Aku tak ingin melihat kalian lagi. Aku sudah terlanjur di buang oleh Ayah, jadi sepatutnya, jangan lagi mengenalku, jika suatu saat kalian bertemu denganku!" Petunia berkata datar. Tatapan matanya, tidak lagi terarah pada keluarganya, melainkan pada sesosok tubuh pucat yang terbaring nyaman di dalam peti.
"Kau sedang tidak bercanda, Nia?" tanya Kia dengan suara gemetar. Suara dan tatapannya begitu sangat mengandung luka, penuh dengan rasa sakit, "Aku tidak menghakimi dirimu selama ini, tapi kau juga mengusirku? Apa benar jika ... Billy adalah ... ayah biologis anakmu?"
"Tanyakan pada suamimu. Dia juga nekat mendatangi aku sehari pasca pernikahan aku dan mas Farel, dengan membawa susu ibu hamil dan sebagainya. Dia adalah Adam, Adam yang datang padamu dengan memperkenalkan diri sebagai Billy. Bawa dia pergi dari sini, bahkan untuk melihat wajahnya pun, aku tidak sudi!" seru Nia dengan suara lantang.
"Jadi, selama ini, kau menderita, sayang?" Kirana melangkah dua langkah, namun terhenti ketika Nia menatapnya tajam..
"Berhenti di tempatmu, Ibu. Masih teringat jelas, bagaimana kalimatmu sanggup menusuk jantungku berkali-kali dengan kalimat, bahwa aku tidak seperti yang kau ingin. Kau ibuku yang melahirkan aku, namun perlakuan dan hatimu tak mencerminkan bahwa aku adalah darah dagingmu. Aku sudah terbuang, bahkan selama pernikahanku dengan suamiku yang singkat itu, kau tak pernah datang mengunjungi aku dan memberi restu. Tatapanmu kala aku menikah dengan suamiku, sedikitpun tak mencerminkan kebahagiaan. Kematian suamiku, mungkin sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi kalian. Selamat, kalian telah berhasil menghancurkan hidupku dengan sangat kejam," tambah Nia.
Suara Nia gemetar, lirih disertai dengan derai tangis pilu. Siapapun yang mendengarnya, sudah tentu sangat iba.
__ADS_1
"Sudah cukup, Petunia, kami datang untuk turut berduka atas .... " kali ini Adam berusaha untuk menyudahi perdebatan. Lelaki itu menyadari akan kesalahan dirinya.
"Tutup mulut kotormu itu, bajingan!" Nia spontan bangkit, berjalan cepat menuju Adam dan mendorong Adam hingga Adam jatuh ke belakangan. Petunia lepas kendali, sebab hatinya sudah terlampau tak berbentuk lagi untuk sekadar merasakan sakit.
"Pergi kalian semua dari sini. Suamiku tak butuh kehadiran kalian. Pergi!" Hardik petunia dengan suara yang dalam. Napasnya naik turun, di sertai dengan matanya yang merah sebab digulung murka.
Cintanya pada keluarga, seolah musnah.
"Benn, Ibu, tolong suruh keluarga Abimanyu pergi. Aku ingin fokus pada suamiku," lirih Nia kemudian, membuat Abimanyu kian kehilangan arah.
Abimanyu ingin pergi, berlari dan menghajar Adam seketika. Lelaki itu lantas keluar, tanpa menunggu diusir oleh orang-orang sekitar, meski kakinya terasa lemas bagaikan jelly.
Baru saja Abimanyu dan keluarganya keluar, sesuatu yang begitu besar telah terjadi di dalam ruangan, tanpa sepengetahuan Abimanyu sekeluarga.
"Bajingan! jadi kau yang menodai putriku dan merusak masa depan Nia!" Abimanyu berseru tiba-tiba, ketika mereka semua sudah tiba di tempat parkir depan.
Suara pukulan demi pukulan yang Abimanyu layangkan untuk Adam, berhasil menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di area parkir. Tak ada belas kasihan dari hati Abimanyu untuk Adam.
Kia dan Kirana hanya bisa saling berpelukan, untuk bisa saling menguatkan. Terlebih, hati Kia begitu hancur begitu tahu bahwa rupanya, adiknya rela menjauhkan diri dari keluarga semata karena ingin Kia tetap bahagia dengan Billy.
"Kau tega, Mas Billy. Nama Adam yang pernah aku baca di sebuah kertas milik adikku, rupanya adalah dirimu. Kau tega memanipulasi semua situasi, sebab kau lah pelaku utamanya. Kau tega pada adikku. Lihat, dia tidak lagi sudi menjadi bagian dari keluarga kami lagi. Kenapa kau lakukan ini semua? Harusnya kau jujur dari awal," tangis Kia pecah.
Putri sulung Abimanyu itu sungguh tidak tahu apa-apa. Dirinya merasa bodoh dan tak becus menjadi kakak yang bisa melindungi sang adik.
__ADS_1
"Kau apakan hati kedua putriku, bajingan? Aku bersumpah aku membencimu! Aku membencimu!" teriak Abimanyu yang kembali melayangkan pukulan.
Adam Billy Hutama, berhasil menciptakan huru-hara dalam keluarga Abimanyu yang semula bahagia.
**
Kehendak Tuhan memang sanggup mengalahkan segalanya. Takdir Tuhan memang tak ada yang bisa menentangnya. Sebuah fakta yang baru saja terjadi bahwa mendiang Farel Prahasta telah tiada, nyatanya sanggup menimbulkan petaka bagi semua orang.
Sayangnya, baru saja peti kematian itu hendak di tutup rapat, sebuah kehidupan kembali pada lelaki berhati malaikat itu. Keajaiban Tuhan benar-benar nyata. Wajah tanpa rona yang semula sanggup menjatuhkan Petunia dalam dunia derita yang gelap, kini kembali memancarkan ronanya. Sayangnya, sesak mendera dada lelaki yang tadinya telah resmi menjadi mayat itu.
Mati suri harusnya terjadi sekitar beberapa menit lamanya. Namun kali ini, Farel bahkan telah di nyatakan tiada, selama berjam-jam lamanya. Sulit di percaya, tetapi memang keajaiban itu ada.
Jemari kelingking laki-laki itu bergerak, perlahan seiring dengan rona wajah yang kembali secara bertahap.
Sejenak, Petunia menatap tak percaya pada jasad suaminya.
"Apa aku hanya sekadar berhalusinasi?" gumam Petunia lirih. Mau tidak percaya, tetapi nyatanya ada secuil harapan yang berkembang, bahwa suaminya tidak benar-benar mati.
"Ibu, mas Farel, Bu. Lihat. Tangannya bergerak," ucap Petunia dengan lantang. Seisi ruangan yang berisi seluruh kerabat dekat Farel, seolah tak percaya, menganggap bahwa Petunia mulai depresi sebab ditinggal mati suaminya.
"Jangan bercanda, Nia. apa maksudnya kau bica .... " Wanda menghentikan ucapannya, ketika ia menghampiri putranya yang terbaring. Benar adanya. Farel emang bernapas perlahan.
"Tolong, siapapun yang ada disini, panggilkan dokter, cepat tolong Farelku, dia sesak napas. Tolong aku, tolong suamiku!" teriak Petunia kesetanan. Sebuah cinta yang mulai tumbuh, kini menjadi milik Petunia hanya untuk Farel.
__ADS_1
Keajaiban hari ini, bahkan Petunia yang malang itu bersedia menukar segalanya agar bisa mendapatkan suaminya kembali. Mati suri yang Farel alami dan berlangsung selama berjam-jam, berhasil membuat Petunia sadar, bahwa dirinya benar-benar tak ingin kehilangan Farel.
**