Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
8. Kompensasi.


__ADS_3

Dalam sebuah permainan, kerap kali sebuah manipulasi di perlukan. Sebuah kewajaran, bila sebuah kecurangan dilakukan demi bisa mencapai garis finish lebih cepat, dan mengalahkan banyak rival yang sanggup menjatuhkan.


Dunia memang terkadang penuh dengan kebohongan, namun seolah tak ada pilihan lain selain melakukan kebohongan itu sendiri, untuk kita tetap bisa menempati zona nyaman. Seperti halnya dengan apa yang dilakukan oleh Adam Billy Hutama.


Bukan tidak tahu, Adam tahu betul bahwa nomor yang baru saja mengiriminya sebuah pesan, adalah nomor Petunia Amarilys, mahasiswi yang dulu membuatnya khilaf, bahkan berkali-kali.


Terdengar bajingan memang, namun inilah kenyataannya. Adam memang sudah menghapus nomor Nia, dan juga memblokirnya belum lama ini. Ia sadar, Nia membencinya sebab sikap pengecutnya.


Namun, Adam tak memiliki pilihan lain kali ini. Ia benar-benar jatuh hati pada sosok Kia, wanita dewasa yang demikian cerdas dan mampu melindungi dirinya dengan baik dari rayuannya. Bahkan Kia berhasil membuat Adam mengalami penasaran tingkat tinggi akan sosok si cantik itu.


Keputusannya untuk memilih Kia, itu sudah melewati pertimbangan yang ketat. Dari segi perasaan, ada cinta yang begitu besar untuk Kia di hati Adam. Meski harus meninggalkan Nia tanpa penjelasan, namun Adam memutuskan untuk menata hidupnya dengan baik. Adam ingin berubah serius kali ini.


Siang mulai tiba, dengan jam makan siang yang seharusnya menjadi waktu bagi Adam untuk beristirahat. Namun, Adam memilih untuk keluar dari universitas tempatnya mengajar, dan menemui Nia di tempat yang sudah ditentukan oleh wanita itu.


Ruangan privasi yang di pesan Nia, adalah ruangan yang tertutup dengan rahasia ketat yang di jaga oleh pihak kafe. Meski Nia harus mengeluarkan uang cukup banyak, tak masalah demi dirinya bisa bicara dengan Adam empat mata.


Adam berjalan tegap, menuju ruangan yang sudah disebutkan Nia pada pesan terakhirnya. Meski Adam merasakan hatinya tak karuan, namun Adam sudah siap, bila Nia menuntutnya dan memaki dirinya.


Sepanjang langkah dirinya menuju ke lantai tiga, Adam mengingat-ingat saat bersama Nia dulu sebelum keduanya berpisah.


Waktu itu ....


Nia mengusap pelan dagu Adam yang terbaring menyamping menghadap ke arahnya. Bungsu Abimanyu itu demikian manis, dengan senyum lembut dan bahasa yang santun khas Nia.


"Mas Adam, kalau terjadi sesuatu pada Nia nanti, mas Adam tanggung jawab, ya?" tanya Nia pelan, "Nia takut hamil dan kuliah Nia belum selesai."


"Ya, tentu saja," jawab Adam kemudian.


"Mas Adam tidak mau janji pada Nia, jika mas Adam akan menyayangi Nia hingga tua nanti?" tanya Nia lagi.

__ADS_1


"Ya, aku janji padamu," jawab Adam, mengusap lembut puncak kepala Nia, dan tersenyum lembut.


"Jangan mendua atau meninggalkan Nia, apapun yang terjadi. Tunggu sampai Nia selesai kuliah, kita menikah," atur Nia tanpa segan.


Tak ada jawaban, hanya senyum hangat yang Adam ulas di bibirnya, membuat Nia berpikir bahwa diamnya Adam, adalah mengiyakan apa yang dirinya katakan.


Semua tajuk dalam hubungan dirinya dengan Petunia, tak juga mendapat kejelasan.


Hingga Adam kini terseret kesadarannya dari lamunan, lelaki itu lantas tersenyum masam, saat dirinya mendapati pintu ruangan yang sudah ada Nia di dalam. Seorang pelayan muda laki-laki, menunjuk pintu padanya, agar Adam segera membuka.


"Silahkan, Pak. Atas nama Nona Petunia sudah ada di dalam. Bapak silahkan masuk saja, seperti pesan Nona," ujar lelaki muda itu.


Adam tersenyum, sebagai respon balasan untuk si pelayan yang mengantarnya. Sesaat, Adam menghela napas panjang, sebelum membuka pintu. Hingga pintu terbuka, dan sosok Nia telah duduk membelakanginya.


Adam berjalan pelan, menghampiri Nia dan menyapa Nia seperti dulu, seolah tak pernah ada perpisahan yang terjadi, dan juga tak pernah ada masalah yang mendera keduanya.


Nia menatap Adam datar. Tak ada kehangatan, tak ada senyum lembut, dan juga tak ada kalimat manja yang biasa Adam dengar dulu. Semua itu terasa semu di mata Adam sekarang.


Nia yang sekarang, begitu berjarak dan menatap dingin Adam.


"Ya. Tak terkejut bahwa yang ingin bertemu denganmu ini, aku orangnya?" tanya Nia.


"Tidak. Aku sudah tahu bahwa itu nomormu, dan aku hapal betul hingga saat ini, dengan nomormu," jawab Adam.


"Sekalipun kau sendiri yang telah memblokir nomorku?" tanya Nia lagi, dengan cepat.


"Maaf, aku ingin menghapus apapun yang berkaitan dengan masa lalu, Petunia, dan aku ingin memulai hidup baru dengan wanita yang aku cintai," jawab Adam kemudian.


Petunia tersenyum masam seraya bertanya, "jadi, kau tak ada rasa denganku, tetapi kau meniduri aku berulang kali? Bajingan!" umpat Nia tanpa filter.

__ADS_1


"Maaf, Nia. Aku mencintai Kakakmu, dan berniat serius dengannya. Aku mohon pengertianmu. Kita tak pernah tahu, pada siapa cinta akan berlabuh, dan kapan cinta itu datang, bukan?" ujar Adam tanpa perasaan.


"Tak tahu malu! Kau pikir semudah itu, Adam? Lantas, bagaimana dengan aku yang ...." Nia mulai bergetar meski ia masih bisa menahan tangis. Kalimatnya tak berlanjut, sebab Adam kembali menyela dengan kalimat pernyataan yang begitu menyakitkan, lagi menyayat hati.


"Aku akan memberikan kompensasi, sebut saja berapa yang kau minta," sahut Adam datar.


Inilah yang Adam tak suka dari Nia. Wanita itu kekanakan baginya, dan juga banyak bicara. Tidak seperti Kia yang cenderung bersikap dewasa dan mengerti dengan dirinya. Kia tak mudah di taklukkan, tak mudah terjerumus dalam bujuk rayu, dan bisa melindungi dirinya dengan baik sejauh Adam mengenalnya.


Sebuah perbandingan yang jauh, antara Kia dan Nia.


"Kompensasi? Coba ulangi apa yang kau katakan," pinta Nia dengan mata berkaca.


"Maaf, aku tak terbiasa mengulang kalimat yang sama. Kau cukup cerdas di kampus, Nia. Aku yakin kau bisa mencerna dengan baik apa yang aku katakan," ujar Adam tanpa perasaan.


Nia bungkam, dengan air mata yang terus berderai. Hatinya terlampau sakit, mengalahkan sakit ketika ia tahu nomornya telah diblokir oleh Adam.


"Sesakit inikah mencintaimu, mas Adam? Tuhan tak akan pernah tidur untuk hal ini, untuk nasib yang aku terima ini, dan untuk perlakuan dirimu padaku. Empat bulan aku mencarimu kesana kemari, mencari dengan segenap cinta dan berjuta tanya, tentang apa salahku padamu hingga kau tega meninggalkan aku. Sekarang aku tahu apa maksud Tuhan menjauhkan aku darimu. Rupanya kau tak pantas untukku, aku pun tak pantas denganmu," ujar Nia dengan suara parau, khas orang menangis.


Hebatnya, Nia masih bisa tegar dan tetap tenang di tempatnya, sekalipun ingin rasanya Nia marah dan menginjak kepala Adam saat itu juga.


"Aku juga berharap kau tidak menyesali ucapannya hari ini, mas Adam. Semoga kau bahagia dengan Kakakku, dan aku harap kau tak akan mencabut ucapanmu ini. Selamat untukmu, sudah berhasil menghancurkan hatiku, hidupku, juga masa depanku. Untuk kompensasi seperti yang tadi kau tawarkan, aku tak butuh. Aku tak akan menuntut apapun lagi padamu. Sebagai ganti kompensasinya, aku harap kau tak lagi mencariku suatu saat kelak. Dengan begitu, kita impas. Terima kasih," sambung Nia lantas bangkit dan berlalu pergi, meninggalkan Adam yang memanggil dirinya, dan berusaha menarik tangannya.


Nia terlanjur sakit hati, Nia terlanjur terluka, Nia terlanjur kecewa pada Adam.


Dan puncak dari kecewa atas dasar rasa sakit itu adalah, Nia memilih diam dan pergi perlahan dari hidup Adam.


Sebaris tanya muncul tiba-tiba di kepala Adam, apakah kelak Adam memang tidak akan mencari Nia?


**

__ADS_1


__ADS_2