Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
34. Cinta tak saling memiliki.


__ADS_3

Sebuah meja bundar menjadi penghalang antara dua sosok lelaki dewasa yang kini tengah berhadapan. Masing-masing tersedia di hadapan mereka, secangkir teh panas yang asapnya masih mengepul di udara. Aroma teh ini begitu khas, hingga membuat Adam sedikit lebih rilex pasca terkejutnya akibat Farel yang sehat tanpa ia duga.


Nia tak habis pikir, dengan cara Farel menyambut kedatangan Adam yang telah berjasa besar atas kehancuran dirinya. Harusnya Farel mengusir saja Adam sata itu juga.


Nia tak mengerti, apa yang Farel pikirkan.


"Bagaimana kabar anda, Adam Billy Hutama?" tanya Farel dengan tenang. Sorot matanya, tak menunjukkan risau ataupun khawatir sama sekali. Farel emang telah berubah banyak, sepanjang yang Adam saksikan saat ini.


"Cukup Baik. Kau sendiri bagaimana?" tanya Adam berbasa-basi.


Sejujurnya, Adam sudah tak sabar untuk mempertanyakan, tentang kematian Farel kala itu. Ya, Adam melihat dengan mata kepalanya sendiri, kala Farel terbaring dalam peti kematian, dengan beberapa luka dan lebam pada bagian wajah. Antara percaya dan tidak, namun Adam melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Sulit dipercaya, tapi inilah kenyataannya. Terkadang, ada beberapa hal yang terjadi di luar nalar. Satu-satunya kesimpulan yang Adam miliki adalah, Farel mengalami sebuah kondisi yang di namakan mati suri.


"Sangat baik, melebihi kebaikan masa laluku. Memiliki istri yang cantik jelita, dengan kemahiran menguasai dapur dan ranjang, tentunya adalah sebuah kebahagiaan," ucap Farel tandas, sengaja membuat panas suasana hati Adam.


Dapat farel saksikan, jika Adam cemburu mendengar penuturannya. Kilat mata tak terima, begitu jelas berpendar. Wajahnya juga memerah menahan kesal. Sayangnya, Farel tentunya lebih mahir dalam memainkan emosi pria itu.


Dengan gemuruh yang kian menghantam seisi dada, Adam menikmati sesal. Rasanya sakit disertai nestapa. Mendengar ujaran Farel, mengingatkan Adam saat bersama Petunia mendaki ranjang panas hingga menghadirkan darah dagingnya.


Dalam diam, Adam mencoba tersenyum dan bersikap biasa saja. Ada banyak hal yang coba Farel lakukan untuk membuat kepercayaan diri Adam menciut.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Kairav?" tanya Adam, dengan sorot netra yang mendadak sendu.


"Sangat baik. Tumbuh kembangnya begitu stabil dan sempurna. Dia tak kekurangan apapun, termasuk kasih sayang. Lihat," tunjuk Farel pada Kairav yang anteng dalam gendongan Benn, "pipinya begitu gembul dan kulitnya cerah."


"Ya. Aku menyesali semuanya. Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Adam penuh pengharapan.


"Untuk masalah itu, Petunia Amarilys lah yang memiliki kuasa atas segala keputusan. Tanyakan saja padanya," jawab Farel menarik ulur harapan Adam yang setipis benang.


Hening menyelimuti keduanya. Benn yang tengah menggendong Kairav, segera berlalu ke ruang tengah, tempat dimana kakak iparnya tengah duduk mematung dengan tatapan kosong.


Benn tahu, bagaimana perasaan Petunia. Tetapi kakaknya lebih tahu, dengan apa yang harus ia lakukan demi kebaikan si Petunia sendiri.


"Aku tahu. Pada akhirnya, aku tetap tak akan mendapatkan izinnya. Ia marah padaku," ungkap Adam seraya tersenyum getir.


"Ceritakan padaku, dengan apa yang telah terjadi? Ayah mertuaku menyerahkan diri pada kepolisian, karena rasa bersalah dan merasa di kejar dosa," sambung Adam.


"Aku tak menyuruh Ayah Petunia menyerahkan diri. Dia sendiri yang menghalalkan segala cara untuk melenyapkan aku. Jika ia terpenjara dalam terali besi, itu salahnya sendiri. Abimanyu memang harusnya menjadi ayah mertua yang berhak mendapatkan baktiku. Tetapi dia telah membuang Petunia ketika istriku itu hamil anakmu, hanya karena Nia tak dapat menjadi seperti Zaskia Kenanga," jawab Farel telak.


"Mengenai mengapa aku tak jadi mati, karena mungkin Tuhan mempercayakan Nia padaku, untuk dipulihkan rasanya yang tergilas habis olehmu. Wanita sebaik Nia, dia berhak bahagia. Lingkungannya terdahulu hanya memberi dia luka. Maka saat ini, aku bersumpah akan membahagiakan dia dengan caraku, sekalipun aku bukan tergolong dari orang mampu seperti dirimu," sambung Farel.


Adam serasa di tampar dengan sangat kejam. Oh bukan, lebih tepatnya di pukul dengan begitu dahsyat.

__ADS_1


"Aku memang pantas menerima hukuman ini. Jika diperbolehkan, aku meminta padamu, bawa pulang Petunia untuk menemui orang tuanya yang penuh kehancuran. Kia sedang hamil anakku saat ini. Dia juga ingin sekali bertemu dengan Nia. Tolong, izinkan Nia untuk pulang agar ia bisa melihat keadaan orang tuanya. Seburuk apapun, seisi dunia tahu jika Abimanyu dan Kirana, adalah orang tua Petunia Amarilys," pinta Adam dengan mengiba.


"Rumah Petunia disini, bukan di rumah lamanya. Dia sekarang milikku, aku yang lebih berhak atas dirinya dan disaksikan langsung oleh Tuhan. Jadi, aku rasa Nia memang harus tetap disini, di rumahnya," jawab Farel.


"Nia harus kembali bukan untukku, Farel. Tapi demi keluarganya, Ibu yang telah melahirkannya," sahur Adam tak patah semangat.


Farel terdiam dengan mengulas senyum tipis. Tak ia pungkiri, apa yang Adam katakan memang ada benarnya. Mungkin inilah saatnya, setelah beberapa waktu berlalu lamanya, Farel harus pulang membawa Nia.


Sudah saatnya, Farel menunjukkan pada keluarga istrinya, Abimanyu dan Kirana, Farel tak bisa sepelekan apalagi dibanding-bandingkan dengan Adam Billy Hutama.


"Baik, aku akan membawa istriku menjenguk kampung halamannya. Tetapi perlu kau ingat, bukan saat ini. Ada saatnya nanti, aku akan kembali mempertemukan Nia dan keluarganya jika sudah siap. Aku tak akan kembali jika aku tak sesukses dirimu dan kembali menjadi bahan perbandingan. Antara kau dan aku, aku bukanlah apa-apa. Sekarang pulanglah. Jangan meminta kembali bertemu dengan Nia, karena aku tak akan mengizinkan sampai kapanpun," putus Farel kemudian.


Tak ada ruang bagi Adam untuk membantah. Hati lelaki itu meski merana, namun tetap saja ia tak bisa berbuat banyak.


Daun kering di luar sana tampak berguguran akibat terjangan angin ringan. Demikian pula hati Adam yang memiliki banyak harapan berguguran. Semua terasa menyakitkan, tapi Adam memang pantas menanggungnya.


Tak hanya Petunia, akan tetapi Kairav juga tak dapat Adam gapai.


Di dalam ruang tengah, alangkah sakitnya hati sang Petunia. Ia dan Adam sama memiliki rasa sayang, tapi tak dapat lagi bagi mereka untuk bersatu. Cinta itu telah ia bunuh mati, dan akan tergilas oleh sumpah Petunia berupa pengabdian diri pada Farel Prahasta, suaminya.


Sampai sini Petunia mengerti, cinta tak saling memiliki itu, memang benar adanya.

__ADS_1


**


__ADS_2