
Roda bumi terus berputar, seiring dengan neraca waktu yang terus berjalan. Hari berlalu dengan setitik bahagia yang selama ini dimiliki oleh Petunia. Seperti sebelum berangkat bekerja, Farel harusnya sudah pulang malam ini, menyapa sang istri yang menunggu dengan bahagia kedatangannya.
Terlambat satu jam, Petunia mulai was-was ketika waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Wanita itu merasakan jantungnya seolah mau copot, dan sesekali ia sulit bernapas. Tetapi sayangnya, Petunia sendiri tidak tahu, apa penyebab dari firasat tak nyaman itu.
Mondar-mandir di ruang tamu, Petunia memandangi jendela, mengintip sekiranya mungkin suaminya akan segera pulang. Sayangnya, yang di tunggu tidak juga datang.
Entah untuk yang ke berapa kalinya, Nia menghubungi nomor ponsel suaminya, tetapi tak juga tersambung. Nia bingung, harus bagaimana kiranya ia mencari Farel.
Hingga lelah dan mata kantuk menyerang, Nia tak sengaja menyadarkan bahunya pada sandaran sofa yang empuk. Rasanya begitu nyaman, hingga membuat Nia terlelap tanpa sadar. Wanita itu tertidur sebab menunggu suaminya yang tak kunjung pulang dari bekerja.
"Dimana kau, Mas?" igau Nia memanggil suaminya, di sela-sela lelap yang merenggut kesadarannya.
Andai tak ada ketukan pintu dari luar, mungkin Nia masih terlelap nyaman meski udara di ruang tamu cukup dingin. Nia bangun, berjingkat kaget seraya segera bangun dan menghampiri pintu.
"Permisi, Nyonya," sapa suara di balik pintu. Nia meragu, sekiranya apakah ia harus membuka pintu, atau tidak. Nia pikir, yang pulang adalah suaminya.
"Ya, sebentar," sahut Nia dari dalam rumah, mencoba untuk berprasangka baik. Siapa tahu, ada tetangga yang tengah ada perlu dengannya.
Pintu terbuka dari dalam, dan pemandangan yang pertama kali Nia lihat adalah, dua orang berseragam kepolisian tengah memandangnya dengan tatapan yang sulit di definisikan. Entah mengapa, Nia mendadak tak nyaman firasatnya kali ini.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Nia, khawatir jika terjadi sesuatu pada Farel Prahasta, suaminya.
"Apa benar anda istri Farel Prahasta?" tanya polisi berperawakan gagah.
"Ya, saya istrinya. Ada apa ya, pak? Apa suami saya melakukan kesalahan yang fatal?" tanya Nia kemudian. wajah wanita itu memucat seketika ,khawatir jika benar-benar telah terjadi sesuatu pada suaminya.
Dua polisi yang mendatangi Nia, menatap satu sama lain, mengisyaratkan keprihatinan pada wanita hamil tua di depannya ini.
__ADS_1
"Kami kemari sengaja datang untuk menjemput Ibu, sesuatu telah terjadi pada suami Ibu. Maaf, sebaiknya Ibu mengajak salah satu sanak saudara Ibu atau saudara suami untuk ikut serta," jawab polisi yang sejak tadi hanya diam.
Nia syok. Sesuatu telah terjadi pada suaminya. Apa itu? Sesuatu apa kiranya yang terjadi pada Farel, hingga membuat dirinya harus di jemput oleh pihak kepolisian?
Tanpa sadar, wajah Nia seolah kehilangan ronanya, "sesuatu apa yang menimpa suami saya, Pak? Apakah mas Farel kecelakaan? Atau sakit?" tanya Nia mendesak dua polisi tadi.
"Ikut saja dulu, Bu. Nanti Ibu akan tahu sendiri. Jangan khawatir, saya sendiri dan rekan saya yang akan mengawal Ibu dan saudara Ibu, menuju ke lokasi dimana suami Ibu berada.
"Sebentar, biar saya hubungi adik ipar saya," jawab Nia kemudian, "silahkan masuk dulu, pak," pinta Nia, membuka pintu lebar-lebar.
Jantung Nia terasa berdetak cepat, dengan darah yang seolah saling bertengkar di dalam tubuh. Nia bingung, dilanda rasa penasaran serta takut yang berlebihan.
"Halo, Benni, datanglah ke rumah. Ada dua polisi yang datang menjemput Kak Nia, katanya sesuatu telah terjadi pada kak Farel," kata Nia, ketika panggilannya telah di terima oleh sang adik ipar.
"Apa? Baiklah, kak, aku akan bangunkan Ibu untuk ikut serta." jawab Benni kemudian dari seberang sana, sebelum menutup panggilan.
Nia segera meraih jaket tebal milik Farel. Entah mengapa, ia ingin sekali mengenakan jaket milik suaminya itu. Tak lupa, wanita itu juga mengikat rambutnya ke belakang.
"Ikutlah kami dulu, Bu. Nanti Ibu akan tahu sendiri," jawab polisi dengan nada iba, "suami ibu mengalami kecelakaan tak jauh dari tempatnya bekerja, ketika hendak pulang. Saat ini, suami Ibu ada di rumah sakit. Itulah sebabnya, saya minta ada Ibu, agar ada sanak saudara yang mendampingi ibu," jawab polisi bertubuh gagah tadi.
"Tuhan, cobaan apa lagi ini? Jadi, mas Farel terluka parah? Lantas, dimana dia di rawat?" tanya Nia penasaran.
"Di rumah sakit tak jauh dari tempat suami Ibu bekerja. Maaf, Bu. Nanti ada yang akan menjelaskan pada Ibu mengenai suami Ibu, jika Ibu dan keluarga sudah tiba di lokasi" jawab polisi yang satunya.
Nia sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. Gadis itu juga merasa tak percaya, dengan apa yang ia dengar.
"Astaga, aku benar-benar khawatir. Tolong beritahu saya sekarang, pak. saya ungu tahu kondisi suami saya," jawab Petunia kemudian.
__ADS_1
Hingga lantas Benni datang, menjadi sebuah keberuntungan tersendiri bagi dua polisi tadi.
"Kakak, apa yang terjadi?" tanya Benni, berlari menghambur Nia yang sudah berderai air mata.
"Mas farel kecelakaan, sekarang sudah ada di rumah sakit," jawab Nia, seraya pandangannya menatap Wanda yang juga berjalan mendekat ke arahnya.
"Jangan panik. Jaga kesehatan kandunganmu. Ingat, kita bisa mengunjungi Farel dan berangkat sekarang," Wanda berusaha menenangkan, meski batinnya sendiri tertekan dan perasannya khawatir.
"Ayo kita ke mas Farel, sekarang, Bu," ajak Nia seraya menangis.
"Ayo," jawab Wanda kemudian. Mereka lantas menuju ke rumah sakit, dengan rasa begitu menyakitkan. Membayangkan Farel terluka parah, Nia tak bisa membayangkan.
"Mas Farel, tunggu aku. Aku akan segera sampai. Kumohon, bertahanlah, sayang," gumam Nia, di sela-sela tangisnya.
Di samping nia, Wanda dan Benni juga tak kalah paniknya. Terlebih, farel baru saja sembuh dari sakitnya.
"Doakan saja mas Farel baik-baik saja, Kak," Benni mencoba menenangkan dua wanita yang ia sayangi.
"Semoga saja," ujar Petunia dengan penuh pengharapan.
Tak lama, mereka lantas tiba di rumah sakit. Nia seolah lupa diri, berlari kesetanan menuju ke arah ruangan di mana Farel diletakkan. Ia seolah tak peduli pada kandungannya, juga pada kekhawatiran orang-orang sekitar yang menyayanginya.
"Mas Farel. Dimana dia? Kenapa dia diletakan di tempat ini?" tanya Petunia dengan lantang, tak lagi memiliki kontrol diri yang baik seperti biasa.
Mata Nia memanas, seolah jantungnya pun yang jatuh seketika, ketika netranya menatap tulisan di atas ruangan. Sungguh mengerikan.
Sepasang mata basah Nia, menatap tubuh dingin suaminya yang tergeletak.
__ADS_1
Tuhan, setragis inikah takdir hidup sang bunga yang terasa nyaris gugur?
**