Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
41. Mengembalikan senyum dan bahagia.


__ADS_3

Sepasang suami istri yang senantiasa saling menyayangi dan saling menghargai itu, sama terbaring di ranjang pesakitan. Ruang UGD menjadi saksi bahwa mereka tertawa, menangis dan terbaring disana. Terluka di bagian raga, nyatanya tak membuat keduanya saling meninggalkan.


Celaka lalu lintas di sebuah perempatan dekat rumah Abimanyu, menyebabkan Petunia tak sadarkan diri. Beruntung wanita itu hanya mengalami cedera ringan. Demikian pula dengan sang putra semata wayang, Kairav Prahasta.


Kairav tak terlalu parah kondisinya. Anak laki-laki itu beruntung mendapat pelukan dari Nia, hingga terhindar dari bermacam benturan keras ketika celaka tengah mereka alami.


Lain Kairav lain pula dengan Farel. Lelaki itu mengalami kebutaan, sebab matanya mengalami benturan keras ketika di dalam mobil. Kemalangan ini, siapa yang meminta? Bahkan semua keluarga Nia pun memberikan berkat doa terbaik mereka pada Farel. Hanya saja, mungkin Tuhan memiliki cara terbaik untuk lelaki itu di masa depan.


Rencana Tuhan, tak ada yang tahu, bukan?


Kini, dua hari telah berlalu. Farel juga sudah dipindahkan ke ruang rawat. Begitupun dengan Nia yang juga sudah mulai sadar. Kairav yang kondisinya tak terlalu parah, beruntung sudah bisa bangun seperti sedia kala.


Tangis Nia pecah, setelah tragedi kecelakaan itu berlalu selama empat puluh delapan jam. Wanita itu baru mendengar penjelasan dokter, bahwa suaminya mungkin tak dapat melihat indahnya dunia lagi akibat kebutaan pasca kecelakaan.


"Apa yang harus aku lakukan? Bangunlah, mas. maafkan aku. Maaf karena aku sudah membuatmu begini. Andai aku tak memaksamu untuk pulang segera, kita tak mungkin akan seperti ini," kata Nia terisak.


Di samping sang Petunia, Kia dan Kirana sama menangisnya. Ibu dan putri sulungnya itu juga sama terluka hatinya, melihat malaikat Nia terkapar tak berdaya.


"Sabar, Nia. Pasti ada jalan keluarnya. Mari kita pikirkan baik-baik, pasti Farel bisa disembuhkan. Biar Ayah bernegosiasi dengan dokter, untuk mengembalikan penglihatan suamimu," ujar Kirana, mengusap puncak kepala putrinya penuh sayang.


Kia keluar ruangan, tak tahan mendapati adiknya menangis. Ada besar rasa bersalah pada Petunia, membuatnya semakin merasa tak berguna. Pengorbanan Nia yang merelakan Adam untuknya, cukup memperlihatkan, betapa sayangnya Petunia padanya.


Lantas saat Nia berada di titik ini, dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Dasar tak berguna! hanya itu umpatan batin Kia.

__ADS_1


"Ayah, apa Ayah yakin?" tanya Kia, menatap Ayahnya dengan perasaan tak menentu.


Abimanyu tersenyum, menghapus air mata Kia yang mengalir perlahan, "sangat yakin. Ayah sudah tua, takutnya Ayah tak lagi memiliki kesempatan untuk membuat adikmu tersenyum lagi. Mungkin inilah saatnya, Ayah harus melakukan sesuatu demi kebaikan semua orang," jawab Abimanyu kemudian.


Terang cahaya langit pagi, menjadi saksi bahwa tangis Petunia, akan dibayar dengan pengorbanan Abimanyu atas kesalahannya.


Demi langit yang masih menggantungkan awan kelabu, Abimanyu segera menandatangani kesepakatan dengan pihak rumah sakit, untuk mendonorkan sepasang matanya. Mata memanglah jendela dunia, namun semua itu tak ada artinya bila ia pergunakan untuk melihat tangis putrinya.


"Kia, jangan. beritahu adikmu dulu. Biarkan dia tahu setelah semuanya usai. Farel harus sembuh dan hanya dia yang bisa memberikan bahagia untuk adikmu. Tolong, bantu Ibumu untuk menenangkan Kia. Ayah tak apa sendiri disini," perintah Abimanyu kemudian.


Kia mengangguk, berlalu meninggalkan sang Ayah.


**


Sekujur tubuh lemah si pria paruh baya itu, terbaring di brankar rumah sakit. Senyum hangat lelaki itu, masih terulas di atas bahagia. Rasanya puas, Abi bisa memberikan yang terbaik kali ini.


Perlahan, suara langkah kaki mendekat. Abi tahu itu. Sayangnya, lelaki itu berpikir bahwa yang datang adalah istrinya, atau putri sulungnya.


Tangan halus nan lembut, menyentuh tangannya yang dihiasi garis keriput. Lelaki itu tak sabar, ingin mendengar hasil dari donor matanya untuk Farel Prahasta.


"Kia, bagaimana dengan hasilnya? Apakah berhasil?" tanya Abimanyu dengan suara lirih.


Hening, tak ada jawaban apapun. Abimanyu mengerutkan kening, merasai tangan hangat putri bungsunya yang ia kira itu adalah Kia.

__ADS_1


"Kenapa hanya diam? Ayo jawab. Apa Farel benar-benar sudah bisa melihat lagi?" tanya Abimanyu kembali, mengulang tanya menuntut jawaban.


"Mengapa ayah lakukan ini? Untuk membayar kesalahan Ayah di masa lalu pada Nia dan Farel?" Suara Petunia pelan menyayat hati. Wanita itu tengah menahan Isak tangis agar tangisnya tak pecah seketika.


Abimanyu hanya diam, merasakan hatinya berdebar tak karuan. Ia pikir, Kia lah yang datang padanya.


"Maaf, Ayah hanya ingin membuatmu tersenyum bahagia bersama Farel. Dia pilihanmu. Ayah rasa, tak ada gunanya Ayah bisa melihat, namun hanya bisa melihatmu menangis dalam kesakitan. Semoga dengan begini, bisa membuat Farel terus membahagiakan dirimu," jawab Abimanyu.


Yang terdengar selanjutnya adalah, tangis sang Petunia pecah tanpa bisa dicegah. Rasa bencinya yang mendarah daging pada sang Ayah selama ini, kini seolah terkikis dan berganti dengan rasa bersalah.


Sejatinya, tak ada anak yang membenci orang tua yang telah membesarkannya. Sebaliknya, tak ada juga Ayah yang akan membiarkan putrinya menangis. Semua yang dilakukan Abimanyu di masa lalu, adalah sebuah bentuk ambisi Abimanyu untuk menjadikan Petunia wanita hebat.


"Nia berjanji, akan selalu bahagia dan tersenyum untuk Ayah. Mas Farel pasti bisa sembuh. Terima kasih atas semuanya, Ayah. Terima kasih," ungkap Petunia.


Senyum dan bahagia sang Petunia, pada akhirnya kembali secara perlahan.


Di balik jendela, sepasang mata. sendu itu hanya bisa melihat dari jauh.


Adam benar-benar kehilangan kesempatan untuk bisa dekat, apalagi untuk bicara dengan Petunia.


Dalam hening seorang diri, semua tragedi yang dialami oleh keluarga Abimanyu, disebabkan oleh dirinya. Selamanya, mungkin Adam hanya akan berkubang dalam penyesalan.


**

__ADS_1


__ADS_2