Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
15. Ungkapan Cinta.


__ADS_3

Apa perlu saya ingatkan, bahwa saya adalah suaminya yang memiliki tanggung jawab penuh atas Petunia Amarilys?


Adam seolah ditampar dan diseret kasar menuju kesadaran. Harusnya Adam Billy Hutama yang cerdas itu, tak harus diberitahu dua kali masalah ini, terlebih yang memberitahukan dirinya, adalah mantan mahasiswanya.


Berapa bodohnya Adam. Karena merasa bersalah, lelaki itu bahkan kehilangan kecerdasannya.


"Maaf," ujar Adam kemudian. Lelaki itu lantas meletakkan belanjaan berisi susu ibu hamil, biskuit, dan bermacam camilan sehat, di kursi yang tadi menjadi tempat duduk Petunia, "tapi setidaknya tolong terima ini dulu. Saya tidak mungkin membawa pulang semua ini ke rumah."


"Berikan saja untuk istri anda, dan katakan jika anda ingin Kak Kia segera mengandung. Saya rasa itu masuk akal dan tak akan jadi masalah," sahut Farel.


Sebagai suami, meski tidak kaya, namun Farel ingin menanggung semua kebutuhan istrinya dengan cukup. Kerja keras siang malam pun tak masalah, asal Nia bahagia dan tak kurang sesuatu apapun sebagai istrinya. Bila Nia menerima pemberian dari Adam, itu sama artinya dengan harga diri Farel di kulit secara terang-terangan.


Adam menunduk, menatap nelangsa barang belanjaan yang tadi di belinya untuk Nia, harus menerima penolakan keras dari pemiliknya. Ini bahkan tak seberapa, bila dibandingkan dengan luka Nia yang menerima penolakan dari dirinya, ketika Nia menuntut tanggung jawab dari lelaki itu.


Adam sadari hal itu.


"Tolonglah. Saya janji, ini terakhir kali saya memberikan sedikit untuk anak kami," ujar Adam.


"Tetapi anak itu adalah anak Farel dan Petunia, jadi mohon pengertiannya," kata Farel kemudian, "silahkan masuk dan duduk jika anda datang untuk berkunjung, tapi jika tidak, maaf, saya harus masuk dan segera mandi."


"Saya permisi, sampaikan salam saya pada Petunia," jawab Adam sebelum berlalu pergi. Lelaki itu lantas berlalu, selepas Farel mengiyakan. Langkahnya terasa berat, seiring dengan penolakan yang Nia dan Farel berikan padanya.


Tak ada akses dan kesempatan bagi Adam, untuk bicara apalagi menyentuh calon anaknya. Entah mengapa, Adam merasa bahwa kali ini, memang tak ada ampun baginya sedikitpun.


Semoga saja, setelah ini kau bisa memaafkan aku, Nia. Aku tahu aku tak layak mendapatkan maaf darimu yang aku sakiti, namun setidaknya, aku sudah datang dan berusaha mendapatkan maaf darimu.


Batin Adam penuh sakit. Lelaki itu pergi, membawa duka yang entah sampai kapan akan selesai.

__ADS_1


**


"Jangan khawatir, Nia. Dia sudah pergi," ucap Farel, ketika lelaki itu baru selesai mandi.


"Kenapa dia bisa tahu alamat rumah ini, Rel? Harusnya dia tidak tahu dan biarkan saja dia urusi hidupnya. Aku tak suka dia datang kemari dan berakhir mencariku," ungkap Petunia.


"Dulu kau mencarinya dan nyaris gila sebab dia pergi darimu tanpa kabar," kata Farel mengingatkan.


Nia menatap Farel yang seperti tengah jahil padanya. Di tatapnya lekat wajah tampan pria itu. Farel tak bisa di katakan buruk juga, sebab parasnya terbilang tampan, dengan tatapan mata yang teduh menghanyutkan.


"Jangan bahas itu. Kita sudah menikah, jangan ada Adam dalam pembahasan kita, dalam momen apapun," pinta Nia, yang diangguki oleh Farel.


"Aku mencintaimu, Petunia Amarilys. Sangat mencintaimu," ungkap Farel tiba-tiba, mengutarakan apa yang ia rasakan dan ia sembunyikan selama ini dari Petunia. Lelaki itu lantas duduk di tepi ranjang, dan menatap Nia dengan serius.


Dapat Farel lihat sorot terkejut di mata wanita itu. Nia sampai menganga, dengan ekspresi menggemaskan di mata Farel. Sungguh, Nia benar-benar tak menyangka Farel akan bicara demikian.


"Aku tidak bercanda, Nia. Aku memang sudah lama menyukai dirimu. Hanya saja, aku tak pernah berani dan memiliki nyali untuk mengatakannya langsung padamu," ungkap Farel jujur.


Nia mengerjapkan matanya beberapa kali, seperti bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


"Sejak kapan?" tanya Nia mencicit lirih.


"Sudah lama. Aku tulus dan aku bersedia menerima apapun kekuranganmu, dan aku ingin, tak ada kata cerai, melainkan sebuah mahligai rumah tangga yang berhasil. Apakah ... kau bersedia menjadi istriku selamanya, dan belajar perlahan untuk menerima, juga mencintaiku?" tanya Adam, menatap lekat Petunia dan menggenggam lembut tangan istrinya itu.


Petunia diam tanpa rasa ingin menjawab. Rasanya bibirnya kelu, dengan leher yang seolah tercekik.


"Apa aku bisa, Rel? Aku takut jika aku nanti membuatmu kecewa," lirih Petunia.

__ADS_1


"Asal ada kemauan, aku yakin kau pasti bisa," timpal Farel, "tetapi disini aku tak akan memaksamu dan tidak akan menekan dirimu, Nia. Semalam aku menyentuh dirimu pun, juga atas dasar dirimu yang memberi izin. Maaf, aku tidak akan menekan seseorang untuk mencintaiku. Aku hanya mengutarakan apa isi hatiku. Aku harap kau mengerti," ucap Farel.


Petunia diam, mencoba untuk mempertimbangkan banyak hal.


Sejauh ini, Farel telah banyak berkorban untuknya. Lelaki itu juga bahkan menghabiskan seluruh tabungannya, untuk menikahi dirinya dan demi menuruti kemauan Nia yang ingin tinggal berdua saja.


Sejauh ini, bahkan Farel menerima Nia dan mengakui anak Nia, sebagai anaknya. Lelaki itu juga mengorbankan banyak hal, meski harus mulai bekerja keras dan mencari beberapa pekerjaan sampingan.


Keluarga Petunia sendiri?


Bahkan Nia seolah di buang begitu saja oleh Ayah. Ibu juga tak membela Nia, apalagi mencoba meredam amarah Ayah. Selama ini, Nia hanya diperas dan di bentuk untuk memiliki prestasi yang gemilang dan membanggakan. Sedikit saja Nia melenceng dan jauh dari apa yang di perkirakan Ayah, kini Nia di buang, bagaikan sampah yang harus segera di singkirkan dari rumah.


Bahkan, Ayah tak segan-segan menyuruh dirinya enyah, ketika kabar mengenai kehamilannya, baru terendus Abimanyu.


Sebaik itu Farel, hingga bersedia merangkul Nia dan membebaskan Nia dari orang tua yang menekan, serta sekadar memanfaatkan dirinya.


"Baiklah. Aku bersedia," jawab Nia seraya tersenyum lebar.


Sebuah pernyataan yang sederhana, namun cukup membuat Farel merasakan hatinya merekah. Lelaki itu tertawa renyah, seraya membawa Petunia ke dalam pelukannya. Hatinya terasa hangat, seiring dengan bejana cinta yang mulai terbentuk perlahan.


"Semoga rumah tangga ini menjadi rumah tangga yang berhasil, Rel. Aku tak punya banyak kata untuk mendeskripsikan rasa terima kasihku, terima kasih sudah banyak berkorban untukku," petunia menambahkan.


"Aku berjanji, Nia, aku akan menjagamu, mencintaimu, dan melindungi dirimu dari Adam sekalipun. Terima kasih banyak sudah bersedia membuka hati untukku," timpal Farel.


Sedari hari ini, akan ada kisah baru yang akan dirajut oleh Petunia dan Farel. Sementara sebuah takdir pilu penuh derita, tak henti-hentinya menunggu Petunia di depan sana.


Akan ada banyak luka, yang bahkan lebih dari ini, menanti dan siap menempa Petunia dengan kerasnya.

__ADS_1


**


__ADS_2