
Petunia sepagi ini bermekaran di halaman belakang kediaman Abimanyu pagi ini, merekah indah dengan menarik para kumbang dan kupu-kupu yang tengah mencari indah. Semua seolah terpikat dengan bunga yang menjadi pusat perhatian para serangga itu.
Sayangnya, petunia yang tumbuh di halaman belakang kediaman Abimanyu, tak serupa dengan Petunia Amarilys, si bungsu Abimanyu. Wanita itu harus di kurung di dalam kamar sejak Kirana bangun, sebab keluarga Farel akan datang pagi ini, untuk meminta Nia.
Lucu memang.
Mereka pikir, Nia akan kabur, atau melakukan hal yang nekat dan semakin mempermalukan keluarga. Padahal, Nia tak sebodoh itu.
"Jangan biarkan anak itu bisa bebas berkeliaran setelah melempar kotoran ke wajah keluarga kita. Anak tak tahu malu itu harus mendapatkan hukuman, hingga ia resmi menjadi tanggung jawab Farel dan enyah dari rumahku ini!" Seru abimanyu, ketika Nia keluar kamar pagi ini, untuk pergi ke dapur.
Nia hanya bisa menunduk tak berdaya, mendengar bagaimana sang Ayah memperlakukan dirinya. Sesakit inikah untuk menjadi seorang calon Ibu?
Dari seberang sana, ada Kia yang baru turun dari tangga, dengan sang suami yang berjalan di belakang wanita itu. Tak ada sedikitpun tanda-tanda Adam hendak membelanya, padahal semalam Adam begitu ingin bertanggung jawab pada Nia, dan bayinya.
Dasar bajingan. Umpat Nia dalam hati.
"Jangan khawatir, Pa. Otakku tak sedangkal itu untuk kabur dan berulah. Aku akan pergi ke kampus seperti biasa," jawab Petunia lirih.
"Tidak ada kuliah sebelum kau pergi dari rumah ini," Abimanyu makin kejam tak berperasaan.
"Andai yang menempati posisiku saat ini adalah Kak Kia, apakah Papa akan melakukan hal serupa?" tanya Nia kemudian.
"Sayangnya, Zaskia Kenanga tak semurah dirimu. Jangan membantah dan masuk kamar," perintah Abimanyu dengan suara dingin.
Emosi tengah membalut hati lelaki itu, hingga ia lupa putrinya disini juga adalah korban. Kirana sendiri tak banyak berkutik, sebab di matanya, sepenuhnya kesalahan ada pada Petunia.
"Ayo Nia, masuk kamar," ujar Kia seraya menghampiri Nia, menuntun adiknya itu agar segera menuju kamar. Ia tak ingin, sang Ayah terbawa emosi, dan berakhir dirinya memancing tangan ayahnya melayang pada tubuh Nia.
__ADS_1
Nia diam tak menyahut, namun mengikuti langkah sang Kakak untuk masuk ke dalam kamar. Begitu juga dengan Adam yang ikut Kia tanpa kata. Hati lelaki itu dilanda bingung, juga sakit melihat Nia-nya begitu.
"Nia, selama mengandung, kau mengonsumsi susu untuk ibu hamil?" tanya Kia hati-hati, begitu mereka bertiga telah berada di dalam kamar Nia.
Petunia menghentikan langkahnya, menatap tajam sepasang suami istri yang kini terlihat sok perhatian padanya, seraya berkata, "aku tak pernah mengonsumsi susu hamil ataupun vitamin sedikitpun. Mau mati ataupun hidup, anak ini memang sudah ditakdirkan dibenci oleh semua orang. Berhentilah Kak Kia mengurusi urusanku, dan jangan pernah peduli lagi padaku!"
Pintu kamar dibanting oleh Nia. Ia tak akan menunggu pintu kamarnya terkunci dari luar sebab Ayah Abi berniat mengurungnya. Yang Nia lakukan, mengunci dirinya sendiri di dalam kamar. Hatinya seolah sakit, ketika kedua orang tuanya menghakimi dirinya, membandingkan dirinya dengan sang Kakak yang memang terlihat lebih sempurna dari dirinya.
Nia tak peduli jika kalimatnya ini mampu menusuk jantung sang Kakak. Yang ia lakukan, adalah mengikuti kata hatinya. Andai tak ada Adam, Nia tak akan bersikap sekasar ini pada Kia.
Untuk menangis, Nia berniat menghemat air matanya. Farel juga sudah menentukan hari pernikahan dirinya dan lelaki berhati malaikat itu. Tinggal menghitung hari, hingga lantas Nia enyah dari rumah ini, dan berharap tak lagi melihat wajah Adam setiap hari.
**
Terbentang luas tanaman padi hijau di depan mata, tak juga mampu mengenyahkan kalut dalam hati dan otak seorang Adam Billy Hutama. Pemandangan segar yang memanjakan mata itu, nyatanya tak juga mampu memanjakan hati pria itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Adam bermonolog.
Suasana sepi, beruntung mendukung sekali bagi Adam untuk melampiaskan kerisauan hatinya.
"Andai aku tahu Nia mengandung darah dagingku sebelum aku menikahi Kia, aku tak mungkin membiarkan dirinya dalam situasi sulit seperti ini. Bagaimana aku harus mengambil sikap, Tuhan? Apa aku harus berterus terang saja pada keluarga Nia, sebelum terlambat badan Nia di miliki oleh lelaki lain? Lantas, bagaimana dengan perasaan Kia?" ujarnya lagi, menumpahkan resah pada angin yang berhembus begitu sejuk.
Lelaki putra kebanggaan Hutama itu memejamkan mata, mengingat kembali momen kebersamaan dirinya dengan Petunia. Lelaki itu terlambat, sebab baru kali ini menanyakan tentang isi hatinya yang ia teguhkan pada siapa. Petunia, atau Zaskia?
Dan rupanya, wajah yang pertama kali tersenyum padanya di dalam bayangan imajinasi lelaki dewasa itu, adalah wajah manja Petunia, menebarkan sarat akan pemujaan yang begitu besar, dan ketulusan yang begitu dalam.
Disinilah kejelasan mulai terungkap perlahan.
__ADS_1
"Apa mungkin, rasaku pada Kia hanyalah sebatas kekaguman semata, sebab Kia lebih dewasa dari Nia?" Adam bertanya-tanya dalam sepi.
Harusnya, saat ini Adam berada di kampus di universitas yang dekat dengan rumahnya. Kepindahan dirinya sejak memutuskan untuk menghindari Nia, nyatanya membuatnya tak nyaman.
Hingga tanpa sengaja, Netra Adam melihat Farel dari kejauhan, lelaki itu tengah mengendarai motornya pelan, Adam refleks menghentikan laju motor Farel.
Sontak saja Farel berhenti, seraya menatap tajam Adam.
"Mau mati, ya?" tanya Farel seraya berseru pada Adam. Ia sendiri terkejut sebab Adam menghentikan dirinya secara spontan, ketika dirinya sudah nyaris menambah kecepatan laju motornya.
"Berhenti sebentar, mari kita bicara. Ada yang perlu aku bicarakan," ajak Adam, menatap Farel yang kesal padanya.
"Aku sibuk dan banyak yang harus aku lakukan. Menyingkirkan, aku tak mau menabrak anda hingga tewas," jawab Farel kemudian.
"Ini tentang Petunia dan kehamilannya. Saya mohon, tolong saya. Hanya kamu yang bisa menolong saya," timpal Adam.
"Dan hanya anda yang bisa menolong Petunia saat kehancurannya, namun, anda menghilang dan meninggalkan dirinya," balas Farel kemudian.
"Sebentar-sebentar saja, saya akan lakukan apapun yang kau mau, jika kau tak keberatan menemani aku berbincang. Ini hanya berbincang, oke?" pinta Adam mengiba.
Farel tampak menimbang, kiranya bagaimana baiknya. Sejujurnya, Farel ingin sekali rasanya menendang wajah tampan Adam. Hanya saja, Farel merasa saat ini belumlah waktunya.
"Baiklah, hanya berbincang. Tetapi jika anda berani mengusik Nia dan anaknya setelah ini, saya bersumpah saya akan membongkar kebiadaban anda pada wanita polos itu," putus Farel kemudian, seraya menepikan motor kesayangannya.
Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
**
__ADS_1