Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
18. Rasa yang penuh sesak.


__ADS_3

"Bagaimana perasaanmu hari ini, Rel? Kau baik-baik saja?" Winda masuk ke dalam kamar, begitu menantunya memberitahu, bahwa Farel sudah bangun. Hari sudah nyaris siang, ketika lelaki itu terjaga dari lelapnya.


Senyum manis sang istri, yang seolah membuat sakit di kepalanya, terasa sirna. Suhu tubuhnya pun sudah mulai turun. Tentunya, Farel tak mau merepotkan sang istri terlalu lama.


Cinta yang tulus terkadang tak butuh banyak kata untuk diungkapkan, melainkan cukup dengan sebuah bukti nyata.


"Sedikit pusing, Bu. Aku baik setelah minum obat. Mana Benny? Apakah Benny tak mengantar Ibu?" tanya Farel, saat Ibunya masuk ke dalam kamar.


Lelaki yang menyandang gelar suami itu lantas berniat bangkit, untuk bisa lebih nyaman berbincang dengan wanita cinta pertama yang telah melahirkannya. Namun, urung sebab suara Nia yang terpekik karenanya.


"Jangan duduk. Tetap istirahat dan jangan banyak tingkah!" Kata Nia kemudian.


"Sayang, aku hanya sakit, bukan mau melahirkan," sahut Farel, membuat wajah Nia memerah sebab malu.


"Sudah. Tak masalah kau mau duduk, berdiri atau merangkak. Yang penting kau lekas sembuh," kali ini Winda menimpali.


"Senyum istriku adalah obat yang paling mujarab, Bu," Farel gencar menggoda Petunia hingga wajahnya kini sudah semerah tomat.


Kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga, Farel berharap Nia benar-benar bisa mencintainya setelah ini. Ada banyak hal yang menjadi pengharapan seorang Farel Prahasta. Entah Nia melahirkan anaknya atau bukan, asal Farel bisa membersamai wanita itu, tak menjadi masalah baginya.


Di tengah canda tawa yang menghiasi kebersamaan Farel dan Petunia, sebuah ketukan pintu terdengar, membuat Nia bergegas keluar untuk melihat siapa tamu yang datang.


Si bunga yang telah layu itu melangkah keluar, dengan langkah pelan sebab mengimbangi perutnya yang buncit. Wanita itu keluar, tanpa mengintip dari dalam siapa tamu yang datang, Nia membuka pintu. Senyumnya yang tadi bertengger indah pada bibirnya, kini mendadak musnah, saat tahu ada Abimanyu dan Kirana.


"Ayah, Ibu," Nia berusaha tersenyum, menampilkan betapa ia menyambut kedatangan orang tua yang begitu Nia rindukan, "mari masuk."


Dan tatapan dingin Abi, Nia terima dengan perasaan tak nyaman. Tatapan yang mengitari seluruh isi ruangan, seolah meremehkan, lagi merendahkan.


Nia keluar dari rumah tak membawa apapun termasuk perabotan. Namun, Nia berpikir cerdas, dengan membawa perhiasan dan seluruh barang-barang pribadi mewah dan berharganya. Bila sewaktu-waktu dirinya terdesak, Nia bisa menjualnya.


"Ayah dan Ibu apa kabar? Kalian sehat?" tanya Nia seramah dan seceria mungkin. Sekuat hati, Nia mencoba mencairkan gunung es dalam hati Abimanyu.


"Baik. Kau bagaimana? Kandunganmu juga sehat?" tanya Kirana dengan tatapan matanya yang sendu.

__ADS_1


Ada segumpal rasa bersalah yang seirama dengan penyesalan. Andai Kirana tak mengatakan hal yang melukai hati putrinya, mungkin setiap hari dirinya akan mengetahui perkembangan calon cucunya.


Seburuk apapun Petunia di matanya, nyatanya nurani keibuan jauh lebih kuat mendominasi. Harusnya Kirana menyadari hal itu. Tetapi dengan Abimanyu, Kirana tak bisa menentang suaminya itu.


Lelaki yang menjadi suami Kirana itu selalu mendominasi, tak membiarkan siapapun boleh menentangnya.


"Nia baik, Bu. Kandungan Nia juga baik-baik saja. Syukurlah jika Ayah dan Ibu baik-baik saja. Sebentar, Nia akan buatkan teh untuk Ayah dan Ibu," ujar Petunia, berusaha mengabaikan sakit sebab perlakuan dingin lelaki yang menjadi cinta pertama anak perempuannya.


"Tidak perlu. Aku datang tidak lama," jawab Abimanyu tiba-tiba.


Seperti belati yang menusuk jantung Nia, rasanya sesak sebab Ayah yang ia cintai, nyatanya tak sudi tinggal lebih lama di rumahnya. Mendapati ini, hati Petunia terasa sedih bukan main.


"Ayah, kenapa ayah tidak mau tinggal lebih lama di sini? Nia masih rindu pada Ayah," ungkap Petunia, mencoba untuk membiarkan Ayahnya datang lebih lama, "tunggu sebentar, Mas Farel sedang sakit. Nia akan memanggilnya agar menemui Ayah dan Ibu," tambah Petunia, seraya berdiri dan mencoba mengabaikan luka di hatinya.


"Aku tidak ingin bertemu dengan lelaki yang telah merusak hidup anakku!" tegas Abimanyu tanpa perasaan.


"Nia, Ayah minta, gugurkan saja kandunganmu!"


Tahukah kau definisi mati dalam kehidupan?


Tahukah kau definisi kehancuran dalam bahagia?


Tahukah kau definisi sakit dalam tawa?


Petunia yang malang itu kini merasakan semuanya. Bahkan pada Farel yang telah menyelamatkan hidup dan masa depan dirinya dan anaknya, Abimanyu tetap bersikap dingin tanpa perasaan. Terlebih, Abi juga meminta Nia untuk melenyapkan bayi tak berdosa dalam rahimnya.


Andai Ayah tahu bahwa bukan Farel yang merusak masa depan Nia, apakah Ayah masih bisa bersikap sedingin ini? Apakah Ayah akan melakukan hal serupa pada menantu kesayangan Ayah jelmaan iblis yang bernama Adam itu?


Batin Nia berteriak lantang.


Harusnya Nia mengatakan secara lisan agar Ayahnya tahu. Sayangnya, ada kebahagiaan sang Kakak yang telah baik padanya.


Bahkan, selama ini Kia datang pada Nia secara diam-diam, untuk memastikan keadaan Nia dan calon keponakannya baik-baik saja. Itulah yang membuat Nia memilih membiarkan luka ini membersamai dirinya.

__ADS_1


"Farel sedang sakit, Mas. Tolong jangan bicara begitu. Biar bagaimana pun, Farel juga menantu kita. Tolong, perlakukan dia sama seperti Adam," pinta Kirana yang mulai berani bersuara, "jangan egois, anak Nia adalah cucu kita."


"Jangan mengajari aku suatu hal kebaikan, jika kau sendiri tidak mengerti mana yang baik dan tidak. Jelas disini Adam jauh lebih baik daripada suami Petunia! Dan anak itu, aku tak mau menerimanya sebagai cucuku!" hardik Abimanyu pada sang istri.


Pada akhirnya. Kirana tak berdaya, kalah di bawah tekanan sang Ayah.


Dan saat itu pula, Nia melirik pintu kamar yang terbuka. Farel berjalan pelan dengan wajah yang masih pucat, disusul Wanda, sang ibu mertua Nia berhati malaikat, menyusul di belakangnya.


Bukan tidak mendengar, baik Farel maupun Wanda mendengar perbincangan mereka sejak Abimanyu dan Kirana datang.


"Rel, kau sakit apa? Apakah sudah baikan?" tanya Kirana, berdiri dan menatap Farel dengan tatapan merasa bersalah, mengabaikan tatapan tajam netra Abimanyu yang menghunus harga diri istrinya.


"Hanya demam biasa, Bu. Ayah dan Ibu, apa kabar?" tanya Farel berbasa-basi, tetap tersenyum meski hatinya merasa merana sebab menerima penolakan keras dari Abimanyu.


Dulu, Abimanyu begitu baik padanya.


"Baik. Semoga lekas sembuh," jawab Kirana menimpali.


Ada tatapan tulus penuh sesal pada netra Kirana yang sendu. Farel tahu akan hal itu.


"Ayo pulang. Aku tak punya banyak waktu," kata Abimanyu tiba-tiba.


"Tinggallah sebentar lagi, Ayah. Biar Nia membuatkan minum," pinta Farel pelan, seraya hendak duduk di sofa.


"Ayo, Kirana," ajak Abimanyu, mengabaikan pinta menantu berhati malaikat.


Baik Wanda, Petunia maupun Farel menatap punggung sepasang suami istri yang menyakiti hati mereka. Satu purnama tak bertemu, nyatanya tak juga mampu membuat hati Abimanyu merindukan sang putri yang dulu begitu dibanggakannya itu.


Mari kita lihat. Setelah ini, apakah Ayah masih bisa bersikap semena-mena pada Farel, setelah Ayah tahu fakta yang sebenarnya? Jika ayah menyakiti hati Farel sesering mungkin, aku akan lebih memilih membongkar yang sebenarnya.


Batin Petunia penuh sesak.


**

__ADS_1


__ADS_2