
Waktu terus berlalu dengan banyak drama kehidupan. Penuh dengan luka dan air mata, terkadang Petunia berpikir, apakah selamanya wanita itu ada pada zona derita?
Petunia duduk di kursi balkon seperti biasa, tempat yang kini telah menjadi favoritnya sejak ia menjadi Ibu hamil. Wanita itu menghabiskan waktunya seharian ini, dengan melamun, dan terdiam sendirian. Ada banyak luka yang begitu dalam Nia rasakan.
Dari balkon, pagi tadi Nia menyaksikan Farel dan keluarganya datang ke rumah, memasuki rumah dengan disambut oleh Kirana. Sempat Nia mendengar, sayup-sayup suara Ayah dengan nada tinggi.
Khawatir hingga kini menyelinap di hati Nia, menjadi sebuah ranjau yang perlahan menghantam hatinya. Seuntai tanya bercokol dalam hatinya, tentang bagaimana nasib Farel tadi pagi. Mungkin Ayah memarahinya, atau bisa jadi menghajarnya.
Rasa bersalah tentu ada. Namun, Nia tak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Farel, demi buah hatinya. Bila suatu saat putranya bertanya, Nia akan mengatakan jika ayah anaknya adalah Farel. Nia tak ingin lagi memiliki keterkaitan dengan Adam, dan tak ingin menyebut nama Adam di depan anaknya kelak.
Meski waktu makan malam tiba, Nia tak sedikitpun diperbolehkan keluar oleh Ayah dan Ibunya. Bahkan makan siang dan sarapan pun, Bibi Rahmi lah yang mengantar.
Hidup Petunia tak ubahnya seperti Burung dalam sangkar, atau tawanan yang tak boleh bergeser sedikitpun dari selnya.
Pintu kamar terbuka dari luar, dan Nia tak peduli sama sekali. Siapapun yang datang mengunjunginya, Nia tak peduli lagi. Meski Nia mengunci pintu, tetapi kedua orang tuanya memiliki kunci duplikat seluruh pintu kamar seisi rumah.
"Non, ini makan malamnya. Kata Ibu, non Nia harus makan, jaga kesehatan kandungan dengan baik ya, Non," ujar bibi Rahmi, yang paling mengerti dan paling iba pada Nia.
"Nia tak ingin makan sekarang, Bi. Letakkan saja makanannya di meja, nanti Nia akan memakannya jika lapar," jawab Nia kemudian.
"Tolong, Non. Tolong jangan siksa diri Non Nia .... " Kata bibi Rahmi.
"Tolong jangan memancing perdebatan apapun dengan Nia, Bi. Nia hanya ingin sendirian," jawab Nia kemudian, "Oh ya, Bi, bagaimana hasil akhir keputusan Ayah dan keluarga Farel?"
__ADS_1
"Non Nia akan segera di boyong oleh mas Farel, setelah menikah. Pernikahan akan di gelar dalam waktu dekat ini. Bibi ... bibi pasti akan merindukan non Nia," ungkap bibi Rahmi, yang lantas duduk di samping Nia.
Wanita paruh baya itu lantas mengusap lembut puncak kepala Nia. Ada banyak perasaan yang mungkin tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Sejak Nia kecil, bibi Rahmi lah yang merawat dan menumpahkan kasih sayang yang tak pernah habis. Nia sudah seperti putri bibi Rahmi sendiri, yang selalu ia manja dengan penuh kasih sayang.
Membayangkan Nia akan enyah dari rumah ini, tentunya akan menorehkan luka tersendiri bagi pengasuh Nia itu.
"Nanti Nia akan hubungi Bibi Rahmi lewat telepon. Jangan khawatir, Nia pasti akan memberikan kabar dan alamat Nia pada bibi Rahmi. Bibi bisa datang sesekali untuk jenguk Nia. Tapi, tapi Nia sendiri mungkin tak akan pulang lagi ke rumah ini," jawab Nia.
"Non, mengapa mas Farel tega melakukan ini pada Non Nia?" tanya bibi Rahmi, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Semilir angin malam yang berhembus ke arah balkon Nia, nyatanya tak juga mampu menyejukkan hati Nia yang gersang. Nia tak bisa, bila harus menipu wanita paruh baya yang telah baik padanya sejak bayi.
"Bi, Nia ingin, bibi Rahmi tidak membenci Farel. Dia yang baik, dan tidak bersalah. Farel, telah menolong Nia dari derita lara ini, Bi. Akan Nia ceritakan pada bibi, apa yang sebenarnya terjadi," ungkap Nia, mengusap air matanya yang jatuh tanpa di minta.
"Apa maksud Non Nia?" tanya bibi Rahmi lirih. Mata bi Rahmi menatap dalam netra berkaca milik Nia, mencari maksud dan arti dari apa yang Nia katakan baru saja.
"Anak ini milik Adam Billy Hutama, Bi, bukan milik Farel. Farel justru menolong menyelamatkan Nia," ungkap Petunia, seolah menjadi gelegar petir bagi hati bibi Rahmi.
"Apa, Non?" tanya bibi Rahmi memastikan.
"Mas Adam dan Nia, kami saling mencintai. Dan karena cinta buta, membuat Nia dan mas Adam melakukan kesalahan yang tak harus kami lakukan. Naasnya, empat setengah bulan lalu mas Adam menghilang, menjauhi Nia dan datang sebagai calon suami Kak Kia. Nia tak bisa menghancurkan kebahagiaan Kakak, Bi. Nia lebih memilih mengalah saja, daripada harus melihat Kak Kia menderita. Merebut milik Kak Kia, sama sekali bukan karakter Nia. Apa Nia salah, Bi?" Petunia bertanya dengan suara terisak.
__ADS_1
Bibi Rahmi sontak menangis, memejamkan matanya seraya memeluk Nia. Tangis pilu itu kembali terdengar menyayat hati, semakin memperdalam luka yang memang telah berdarah-darah.
"Jika Nia tahu sesakit ini mencintai laki-laki, Nia tak akan lakukan sejak awal. Intensitas pertemuan yang begitu sering, membuat Nia tak bisa mengelak cinta ini, bi. Bagaimana jika seandainya, Kak Kia semakin terluka jika tahu? Itulah mengapa, Nia memilih bungkam, dan tolong, rahasiakan ini semua hingga masing-masing dari kita, terbujur dalam peti mati dalam tanah," pinta Nia kian dalam.
"Non, mengapa non Nia sekuat ini menahan sakitnya? Apa non tidak memberi tahu mas Adam? Kalau masalah cinta orang dewasa, bibi yakin jika non Kia bisa melupakan mas Adam dan mencari pengganti yang tepat untuknya. Tetapi ini tentang anak, Non. Mengapa non Nia memilih untuk merelakan mas Adam?" tanya bibi Rahmi kemudian.
"Nia tak mau menyakiti hati kak Kia, Bi. Nia ingin Kak Kia bahagia, itu saja. Nia tak masalah jika harus mengalah," jawab Nia.
Pelukan bibi Rahmi kian erat, mendekap seonggok tubuh dengan hati yang semakin berdarah. Angin malam disertai dengan gerimis rintik-rintik, ditambah malam pekat tanpa bintang, menjadi saksi betapa kelam kisah sang bunga Petunia yang telah layu.
Hamparan langit luas, menggambarkan berapa luasnya hati sang bunga. Membuktikan sebuah rasa yang begitu tulus sebab sebuah keterpaksaan, terpaksa mengalah demi bahagia seonggok hati lain yang Petunia sayang.
"Doakan saja, Nia bahagia setelah ini, Bi. Meski tak selamanya menikah dengan Farel, tetapi mungkin Nia selamanya tak akan pernah kembali tinggal di rumah ini. Nia pasti akan sangat merindukan bibi, masakan bibi, dan juga pelukan hangat bibi," ujar Nia, seraya menahan perih.
"Bagaimana jika bibi ikut Non Nia saja?" jawab bibi Rahmi.
"Tidak. Bibi harus tetap disini, menjaga dan memastikan, bahwa Ibu, kak Kia dan Ayah tetap baik-baik saja," pinta Nia dengan tulus.
Rasa luka itu semakin tak tertahankan, ketika terdengar suara deru mobil memasuki garasi. Terlihat di sudut mata Nia, Adam Billy Hutama datang, dengan Kia yang juga baru pulang dari bekerja.
Jika aku terus bertahan di rumah ini, pemandangan neraka inilah yang akan aku dapatkan setiap hari. Maka dari itu, aku harus pergi secepat mungkin.
Batin Nia penuh lara.
__ADS_1
**