Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
28. Awal petaka.


__ADS_3

Wajah mungil dengan kulit cerah, menjadi satu-satunya pusat pemandangan sang Petunia. Ada kebahagiaan, setelah rentetan panjang penuh siksa selama penantian kelahiran putranya. Bayi mungil yang tengah berada dalam gendongan Ibu mertuanya itu, terlelap dengan nyaman berbalut selimut bayi yang tebal.


Wajahnya demikian rupawan, dengan garis wajah yang mungkin akan sama persis dengan Adam nantinya. Namun meski begitu, sang Petunia tetap jatuh cinta, sekalipun sosoknya belum juga hadir kala itu.


Di buang, di campakkan, tidak diinginkan, dan bahkan ditinggalkan begitu saja. Sungguh malang nasib bayi mungil yang imut dan menggemaskan ini.


Tak jauh dari Nia, Farel terbaring dengan tubuh lemas. Lebam di pelipisnya terlihat membiru. Raut wajahnya nampak bahagia dengan apa yang dilihatnya kali ini.


"Maaf, aku tak mendampingimu saat melahirkan," ungkap Farel, yang entah untuk yang ke berapa kalinya. Genggaman tangan lelaki itu tak bisa lepas sedikit pun. Selalu ada rasa bersalah yang bergelayut di hatinya.


"Jangan katakan itu lagi. Kau kembali padaku saja, sudah menjadi keajaiban untukku. Tadinya aku pikir, aku akan kehilanganmu," ungkap Nia, menjawab ungkapan Farel yang ia rasa terlampau berlebihan.


"Terima kasih sudah kembali untukku. Aku tak bisa membayangkan, entah bagaimana aku tanpamu," ungkap Nia kemudian


"Kau mencintaiku?" tanya Farel kemudian.


Nia tak segera menjawab, memanyunkan bibirnya sebab kesal akan pertanyaan suaminya. Wanda sendiri hanya tersenyum-senyum, merasa ia perlu keluar dari dalam kamar tempat dimana Farel berada. Bayi laki-laki yang Nia lahirkan, tetap terlelap dalam gendongannya.


Di dalam kamar, Farel seperti patah hati, melihat ekspresi wajah istrinya yang tampak kesal padanya, "kau tak menjawab pun aku tak akan memaksa. Jangan kesal lagi."


"Kau hanya tak tahu, sehancur apa diriku tanpamu, Farel Prahasta. Andai kau tahu, kau tak akan mempertanyakan cinta. Mungkin terlalu cepat bagimu, tentang cinta ini. Tetapi kau sudah berhasil membuatku nyaman denganmu. Mungkin cinta ini tak sempurna, tetapi seiring berjalannya waktu, aku yakin kau bisa perlahan menggeser Adam di hatiku," jawab Petunia.

__ADS_1


Senyum cerah serupa matahari pagi, terbit di bibir Farel. Bibir dengan jambang tipis di atasnya. Pembawaan lelaki itu kian dewasa, tak kalah rupawan dengan Adam yang dulu begitu digilai sang bunga Petunia.


"Terima kasih. Mulai hari ini, aku berjanji akan memberikan yang terbaik untukmu dan anak kita. Ngomong-ngomong, kau sudah memberinya nama?" tanya Farel, berusaha mengurai tegang yang sempat tercipta.


"Belum. Aku ingin kau yang memberinya nama," petunia menjawab pelan.


Senyum wanita itu merekah, seindah bunga Petunia di pagi hari yang mengundang banyak kumbang datang. Seolah tidak lagi ada beban di hati sang Petunia, ibu muda itu akan menyerahkan segala hidupnya pada lelaki yang telah meratukan dirinya.


"Benarkah? Apa kau yakin?" tanya Farel tak percaya. Meski Farel sayang sekali pada bayi mungil yang saat ini berada dalam gendongan Wanda, namun tetap saja ia segan pada Petunia.


"Ya, benar sekali. Berilah nama untuk putra kita. Sedari kita menikah, dia bukan hanya darah dagingku, tetapi dia juga anakmu," ungkap Petunia dengan penuh keyakinan.


Farel tersenyum lebar, menatap langit-langit ruangan dan tengah berpikir keras. Sang istri, memiliki nama yang berasal dari sebuah bunga yang indah. Dan kali ini, sang putra akan ia beri nama yang bermakna teratai putih.


"Bagus. Aku suka. Mulai sekarang, panggil dia Kairav," timpal Nia dengan senyum lebar.


Sebuah tempat tinggal baru, yang menjadi lembaran baru bagi hidup sekaligus rumah tangga sang Petunia. Ada banyak cinta dan kasih sayang yang kini tengah berusaha Farel tumpahkan untuk sang istri dan putranya.


**


Di sebuah kamar di kediaman Abimanyu, pemiliknya tengah duduk di area balkon kamar utamanya, dengan menyesap sebatang rokok yang kini tengah menemaninya. Entah batang ke berapa, lelaki itu bahkan telah menghabiskan banyak batang rokok.

__ADS_1


Antara rasa bersalah, juga di kejar rasa dosa yang tak henti-hentinya menghantui, lelaki itu bahkan merasa seolah dirinya di kejar oleh bayangan Farel Prahasta. Padahal, tak ada apapun yang mengejar lelaki itu.


Bayangan dan imajinasi semata, bayangan Farel yang menuntut tanggung jawab dan keadilan, membuat Abimanyu merasa ketakutan. Tak jarang, semenjak Farel tiada, Abimanyu kerap kali dilanda mimpi buruk yang tak pernah usai.


Menyerahkan diri ke lembaga hukum terkait, apakah ini keputusan yang tepat? Menurut Abimanyu sendiri, mungkin itu bisa mengurangi rasa bersalahnya. Hanya saja, entah, Abimanyu tidak siap jika ia harus mendekam dalam sel jeruji besi penuh pesakitan batin.


"Mas, kenapa melamun disini sendirian?" tanya Kirana, yang tiba-tiba datang dan mendapati sang suami yang tengah duduk sambil melamun.


Di lihat oleh mata kepala Kirana sendiri, jari-jari Abimanyu nyaris terkena api dari rokok yang tersemat diantara jari tengah dan jari telunjuknya.


"Oh, tidak ada. Hanya ingin sendiri," jawab Abimanyu lirih. Semenjak kematian Farel, Abimanyu seolah tidak lagi marah-marah. Hanya ketika menghajar Adam saja, terakhir dirinya dirundung emosi.


Kirana duduk di sebelah Abimanyu, menatap lelaki yang begitu sangat ia cintai, yang tengah membuang puntung rokok kada asbak.


"Kia sering menyendiri sekarang, Mas. Tadi pagi juga, ketik aku pergi ke pasar, aku menyempatkan diri untuk singgah di rumah Petunia. Mas tahu, putri bungsu kita pergi jauh, entah kemana Tetapi Ibu dan Adik mendiang Farel, yang telah membawa putri kita pergi. Nia benar-benar marah pada kita. Bagaimana ini?" tanya Kirana dengan suara lirih.


"Apa? Kenapa baru bicara sekarang? Astaga, aku tak menyangka Nia akan senekat ini," ujar Abimanyu seraya memejamkan matanya. Lelaki itu seolah lemas, meski hanya sekadar mendengar kabar.


"Aku harus mencarinya," tambah Abimanyu lagi.


"Aku takut, Mas. Firasatku, Nia akan pergi dalam waktu yang cukup lama. Aku benar-benar takut," ujar Kirana kemudian. Ada rasa tak nyaman yang menghiasi hati sang Ibu. Gundah gulana yang dirasakannya, betapa sanggup menghancurkan pertahanannya sebagai seorang Ibu.

__ADS_1


Apa yang ditakutkan, nyatanya kini adalah awal petaka bagi sepasang suami istri itu.


**


__ADS_2