Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
33. Kembali bertemu.


__ADS_3

Hari minggu adalah hari yang penuh dengan kebahagiaan. Ada kalanya, di hari Minggu yang begitu cerah seperti hari ini, terasa bagai mimpi bagi sang bunga indah Petunia. Petunia pikir, ia tak akan menemukan hari indah seperti hari ini.


Selepas dari kebaktian di gereja, seperti biasa, Farel Prahasta akan membawa istri dan putra mereka untuk pergi ke sebuah danau buatan dengan beberapa tanaman bunga hias di tepi danau. Terlihat asri, dengan banyak pepohonan yang menambah rindang suasana. Terlihat juga, beberapa balita dan anak-anak bermain dengan riangnya.


Rindu akan kota tempat kelahiran, tentu Nia sesekali merasakan. Hanya saja, rasanya akan sulit kembali, atau bisa jadi memang selamanya Nia tak akan menginjakkan kaki di kota kelahiran. Pada dasarnya, kedua orang tuanya begitu ingin Nia ketahui kabarnya. Tetapi ia masih belum bisa terima dengan apa yang Abimanyu lakukan terhadap Farel.


Di sinilah, tempat paling nyaman, juga tempat paling menyejukkan sepanjang pernikahan Nia dengan Farel. Dengan duduk di kursi memanjang tepi danau buatan, Nia dan Farel acap kali menjadi pusat perhatian.


Setelan kemeja putih dan celana jeans hitam yang Farel kenakan, melekat sempurna membalut tubuh lelaki itu. Dress putih bermotif bunga Petunia ungu, juga membalut sempurna tubuh Nia, Ibu muda yang tengah membawa tas bayi perlengkapan Kairav Prahasta.


"Kau suka tempat ini?" tanya Farel dengan suara lembut menyejukkan. Tatapan mata lelaki itu, senantiasa hangat untuk Petunia. Selalu ada cinta, yang tak akan pernah pupus terkikis jaman.


"Tentu aku suka. Bagaimana denganmu?" Petunia balik bertanya. Suara Nia lembut mendayu, layaknya permaisuri yang merayu sang raja.


"Apapun yang kau suka, aku selalu suka," jawab Farel bersungguh-sungguh.


Nia tak pernah menyangka dalam hidupnya, tak pernah menduga sebelumnya, bahwa dicintai justru lebih membahagiakan daripada harus mencintai.


Nama Adam yang hingga kini masih terukir dalam hatinya, sekuat tenaga Nia hapus demi Farel. Meski sulit, setidaknya Nia sudah bersumpah bahwa ia tak akan pernah sudi memiliki keterkaitan apapun dengan Adam.


"Terima kasih untuk semuanya, Rel. Terima kasih kau sudah menempatkan aku sebagai ratu di hatimu," ujar Nia. Bahagia tentu saja, dan sebuah ikrar janji Nia ukir seorang diri dalam hati dan pikiran, bahwa hidupnya akan senantiasa ia abdikan hanya pada Farel.

__ADS_1


Adam?


Si bedebah itu, Nia berharap Adam Billy Hutama akan mendapatkan balasan setimpal atas luka hatinya.


"Kau ratu abadi di dalam hati ini," sahut farel. Kedua lengan kokohnya, masih setia membawa Kairav dalam gendongannya.


Si pangeran kecil milik Nia dan Farel, begitu anteng dan nyaman dalam gendongan Farel. Nia yang duduk di samping Farel, demikian menikmati hembusan angin segar. Beberapa pengunjung, juga tampak bersantai dengan suasana saat ini.


Dari kejauhan, sepasang mata tajam menatap keluarga kecil Petunia, dengan tatapan tak percaya. Sosok Farel yang begitu kokoh membersamai Nia, bukankah harusnya tidur dengan nyaman dalam peti keabadian dalam tanah?


Adam Billy Hutama, lelaki itu dengan tegangnya, mengamati sepasang suami istri yang tengah duduk bersantai itu. Tak hanya itu, bocah kecil berjenis laki-laki itu, harusnya berada dalam gendongan Adam.


Ya Tuhan, apakah ini mimpi? Apakah Farel memiliki kembaran?


Batin Adam bergejolak penuh tanya.


Dengan langkah tremor, juga takut serta rasa bersalah, Adam melangkah sangat pelan, begitu hati-hati untuk memastikan kebenarannya. Bibir sensual lelaki itu terasa terkunci dengan lidah kelu. Demikian pula dengan tenggorokannya yang seolah tercekat tanpa mampu bersuara.


"Fa-Farelll .... " cicit lelaki itu dengan suara sangat lirih. Sayangnya, suara itu berhasil membuat sepasang mata Nia yang jernih itu, beralih menatapnya dengan sorot terkejut.


"Adam?" Nia mendadak bangkit, menatap lelaki itu dengan tatapan dingin membeku tulang, "untuk apa kau kemari? Pergilah. Jangan lagi mengusik hidupku dan suamiku!" seru Nia dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


Farel sendiri tak begitu banyak merespon, meski tatapan matanya menyorot penuh kebencian. Lelaki itu masih setia duduk, berusaha mengendalikan diri dan menganggap bahwa ini tak begitu penting baginya. Padahal, emosi pria itu menggebu penuh dengan murka.


"Jelaskan padaku, mengapa Farel bisa bersamamu disini? Bukankah harusnya ...."


"Farel terkubur jasadnya dalam tanah? Begitukah maksudmu?" tanya Petunia dengan nada masih penuh penekanan.


"Mari duduk dan bicara, Nia. Farel baik-baik saja sementara ayahmu terpenjara dalam terali besi sebab rasa bersalah," Adam mulai bisa mengendalikan diri.


Tak habis pikir, Adam tak tahu mengapa Farel bisa berubah drastis begini. Lelaki itu diam hingga sepersekian detik, untuk menenangkan dirinya yang cukup syok.


"Katakan pada tuan Abimanyu, dia berhak mendapatkannya. Merencanakan pembunuhan pada lelaki berhati malaikat yang telah menolong putrinya, itu bukan sesuatu yang dibenarkan. Semua Karenamu dari awal. Kau yang membuatku terbuang. Kau yang tak jujur, kau pula yang telah membuat hidupku dan Farel menderita," jawab Nia, seraya kembali duduk, merasa lunglai saat mengingat masa lalu menyakitkan yang pernah ia lalui.


"Sssttt, jangan terlalu emosi, sayang. Mari kita bicara dengan mantan dosen kita. Tentunya, dia lebih pintar dari kita. Tak ada salahnya kita melayani keinginannya," kata Farel tiba-tiba.


Petunia diam di tempatnya, membiarkan surai rambutnya di terpa angin ringan hingga beterbangan dan membuat nilai kecantikannya kian berkali-kali lipat.


"Terserah padamu," sahut Nia lirih.


Sepanjang jalan hidup sang Petunia, entah mengapa kehadiran Adam Billy Hutama hanya menjadi petaka tanpa batas.


Pada akhirnya, sang Petunia kembali di hadapkan pada sosok lelaki masa lalu yang menghancurkan segalanya.

__ADS_1


**


__ADS_2