
Sarapan pagi kali ini, seperti hari sebelumnya. Keluarga Abimanyu tetap berkumpul di meja makan, sekalipun semalam Nia menciptakan huru-hara sebab pulang terlalu larut, dan kedua orang tua Adam Billy Hutama yang datang tiba-tiba meminta pernikahan dilakukan secepat mungkin.
Suasana meja makan tampak hening, dengan Nia yang tetap mengenakan baju longgar seperti biasa. Makin hari, bagian tengah pada tubuh wanita itu kian berisi, dan tak satu pun dari orang rumah yang menyadarinya.
"Nia, kalau Ibu perhatikan, tubuhmu makin berisi dari waktu ke waktu. Padahal, kau tak suka nasi belakangan ini," ujar Kirana yang tiba-tiba bersuara. Wanita itu terheran-heran, akan perubahan putrinya yang terbilang drastis.
"Nia hanya ingin diet dan tak mengonsumsi nasi, Bu," jawab Nia, "Lagipula mungkin sebab stress mikir mata kuliah dan berakhir suka camilan yang manis-manis," tambah Nia lagi.
"Ya sudah kalau begitu. Oh ya, semalam, kau pergi kemana bersama Farel?" tanya Kirana lagi, seraya mengunyah makanannya.
"Di kafe tempat biasa nongkrong bersama Tika. Hanya makan malam, membicarakan masalah mata kuliah dan ya, perbincangan anak muda pada umumnya," jawab Nia, masih dengan nada tenang.
"Kau yakin, sayang?" tanya Abimanyu tiba-tiba, membuat Nia mengerjapkan matanya tak nyaman. Pertanyaan demikian, tak seharusnya Nia terima. Tatapan tajam sang Ayah, seolah mengisyaratkan bahwa Ayah Nia itu tak mempercayai dirinya.
"Silahkan Ayah pergi ke kafe sebelum lampu merah, Ayah. Cek semua CCTV yang ada di sekitar Kafe, Ayah pasti akan menemukan Nia disana bersama Farel semalam," jawab Nia apa adanya.
Nia yakin, hanya gambar dirinya dan Farel, yang pasti akan terlihat disana. Hanya saja, tentang apa yang menjadi pembicaraan Nia dan Farel, Ayah tidak akan tahu.
"Ayah bukan tak percaya, Ayah hanya sekadar bertanya," ujar Abimanyu untuk menimpali.
"Oh ya, Dua Minggu lagi Kakakmu akan melakukan pemberkatan di gereja, pernikahan dilakukan dengan cepat, sebab keluarga kekasih Kakakmu yang meminta, dan Kakakmu juga bersedia," tambah Abimanyu, bagaikan belati yang siap menghujam jantung Nia tanpa perasaan.
Perlahan namun pasti, wajah Nia memucat, seiring dengan napasnya yang terasa terhenti di kerongkongan Rasanya sesak, namun Nia tetap harus bersikap biasa saja.
Dua minggu lagi?
Pemberkatan?
Di gereja?
__ADS_1
Ya Tuhan, mengapa harus secepat itu?
Jadi, keluarga Adam yang meminta secara langsung, agar pemberkatan di lakukan secepat mungkin? Nia ingin meraung saat ini juga, namun wanita itu masih menahan, dengan segenap kekuatan hatinya yang tinggal secuil.
"Tak masalah, Nia akan memberikan restu. Hanya saja, Nia ingin katakan pada Ayah, mungkin keluarga Farel juga akan datang untuk meminta Nia, pada Ayah dan Ibu. Nia dan Farel, ingin menikah secepatnya juga," Ungkap Nia, membuat Kirana tersedak makanannya sendiri.
"Apa yang kau katakan, Nia?" tanya Abimanyu kemudian, "bukankah kau dan Farel, hanya sekadar menjalin hubungan persahabatan?" tanya Abimanyu memastikan.
"Ya, namun kami sama suka, dan memang harus menikah. Untuk menikah, usiaku dan Farel sudah cukup, farel juga memiliki pekerjaan yang membuatnya berpenghasilan meski tak banyak," jawab Nia tenang, menyuapkan sesendok sayur yang dimasak menjadi capcay.
"Biarkan Kakakmu selesai menikah, Nia. Jangan terlalu terburu-buru, lagipula, kalian juga masih sama-sama kuliah," ujar Kirana mengingatkan.
"Tidak, Bu. Kami sudah mantap untuk menikah," ujar Nia sebagai jawaban.
Sontak saja Abimanyu membanting sendok pada piringnya, menciptakan suara denting keras di meja makan.
"Ayah sudah tidak selera untuk melanjutkan makan," ungkap Abimanyu kemudian, seraya meminum airnya dan segera bangkit.
Keheningan terjadi di meja makan, diantara Kia dan Nia, sebab Kirana juga pergi menyusul sang suami yang tampak terlihat tak nyaman.
"Apa maksud dari semua ini, Nia? Kau membuat Ayah marah, dan Ibu menghindari dirimu kali ini. Jawab Kakak, apa yang membuatmu ingin menikah dengan Farel secepat mungkin?" tanya Kia.
Tak ada api jika tak ada asap, tak mungkin Nia meminta pernikahan dengan Farel, jika sesuatu tidak terjadi pada keduanya. Ada apa ini sebenarnya?
"Aku dan Farel saling mencintai, Kak. Sama halnya seperti kak Kia dan Adam," jawab Nia santai, menyuapkan sepotong sosis yang dicampur dengan capcay miliknya.
"Namanya Billy, Nia. Bukan Adam," ungkap Kia kemudian.
"Terserah Kakak mau memanggilnya siapa. Yang jelas, sejak dulu ia lebih suka aku memanggilnya dengan sebutan pak Adam," jawab Nia menunduk, menahan tangis sebab tak ingin Kakaknya melihat tangisan dirinya.
__ADS_1
"Apa Billy mantan pacarmu?" tanya Kia, mulai berspekulasi ke arah ikatan percintaan, "kau terluka sebab Billy memutuskan untuk menikahiku dalam waktu dekat?" tanya Kia lagi.
"Jangan hanya mencecarku, Kak. Tanyakan juga hal serupa pada kekasihmu. Aku hanya berharap, dia bisa lebih baik sebab menikahi Kakak. Tolong, jangan bertanya apapun lagi," jawab Nia seraya meminum air putih di dekatnya, "berikan aku ponsel Kakak, aku pinjam sebentar dulu."
"Untuk apa?" tanya Kia.
"Melihat nomor kontakku, dan akan aku kirim ke WhatsApp milikku," dusta Nia.
Sayangnya, dengan percaya Kia memberikan ponselnya, tanpa mengintip apa saja yang Kia ketikkan pada ponselnya.
Nia tak kehabisan akal untuk mencari nomor ponsel Adam yang baru. Nia ingin bertemu lelaki itu, menanyakan banyak hal dan menuntut janji yang dulu pernah diumbar oleh lelaki itu.
Usai mengirim pada WhatsApp dirinya, Nia segera menghapus chatnya, dan mengembalikan ponsel Kia.
"Terima kasih, Kak. Aku harus berangkat kuliah sekarang," ujar Nia yang lantas berlalu pergi, meninggalkan Kia yang menatapnya penuh penasaran.
Kia lama-lama meragu untuk melanjutkan pernikahan dengan Adam. Meski sejak hari ini Adam mengurus semuanya, dan juga mendaftarkan pernikahan, namun Kia masih belum puas.
Zaskia hanya ingin tahu, apa sebab adiknya bertingkah demikian aneh, termasuk kala dirinya harus mendapati tingkah dan respon Nia yang seolah enggan menerima Billy-nya.
Sedang Nia, wanita itu menuju ke dalam kamar, sebelum berangkat kuliah diantar sopir. Bungsu Abimanyu dan Kirana itu mengambil tasnya, laptop beserta dengan ponselnya. Beruntung, semalam dirinya telah membeli nomor baru untuk ia gunakan menghubungi Adam.
Ia pandangi sebuah WhatsApp dari nomor Kia, nomor ponsel Adam yang baru. Beruntung riwayat chat di ponsel Kia tadi, sudah dihapus olehnya.
Nia berpikir sebelum mengirim pesan pada Adam, bahwa dirinya ingin bertemu. Ada banyak pertimbangan, yang kini menjadi ganjalan di hati Nia.
'Aku ingin bertemu denganmu di kafe anggrek tak jauh dari tempat kerja kekasihmu, pukul 13.00 siang . Aku harap kau datang sebelum kau menyesal sebab telah terjadi sesuatu padaku.'
Pesan itu terkirim, dan segera dibaca oleh Adam. Bagus, Nia tersenyum dalam hati.
__ADS_1
"Sejauh apapun kau menghindari aku, aku tetap akan bicara denganmu, Adam. Mari kita lihat, kau mencintaiku, atau kakakku!" gumam Nia dengan suara pelan.
**