Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
36. Berubah dingin.


__ADS_3

Di balik paras tampan dewasa penuh wibawa serta kharisma sosok Farel Prahasta, siapa yang menduga bahwa hatinya dipenuhi dengan bara dendam pada keluarga wanita yang sangat ia sayang.


Andai ayah mertua tak begitu kejam memisahkan Nia dari dirinya, Farel tak akan sesakit ini hatinya. Sesungguhnya, Farel adalah lelaki yang memiliki toleransi tinggi. Tetapi cara Abimanyu yang berusaha melenyapkan dirinya, Farel rasa itu sudah melewati ambang batas.


"Kenapa hanya diam?" tanya sang istri pagi ini, saat keduanya telah tiba di rumah lama Farel.


Rumah penuh kenangan, yang ditinggal cukup lama oleh Farel.


"Tidak ada. Hanya ingin diam saja," jawab Farel menutupi isi hatinya.


"Dusta. Kau mendustai aku. Jelas terlihat kau tengah melamun tadi. Mana mungkin hanya ingin diam tanpa sebab? Atau kelelahan Selepas perjalanan jauh?" tanya Nia kemudian.


"Salah satunya itu, lelah perjalanan. Aku hanya sedang memikirkan beberapa hal. Ada sesuatu yang harus aku pikir dulu sebelum kita menemui orang tuamu. Mungkin kakak iparmu itu sudah mendengar bahwa kita tiba di kota ini. Jika boleh aku memberimu masukan, jangan permudah mereka bertemu dengan Kairav," pinta Farel lembut.


Satu-satunya kunci dirinya untuk mengendalikan semuanya, termasuk menjalankan misi pulangnya kali ini, adalah Petunia. Jika sedikit saja Petunia lemah, mungkin Farel akan kehilangan istrinya itu secara perlahan.


"Itu yang aku pikirkan. Lagipula, aku tidak berharap banyak atas penerimaan mereka terhadap Kairav. Biarkan saja, aku akan mengatur tentang itu. Yang terpenting, atur saja bagaimana baiknya agar pertemuan kali ini tidak membuat mereka menyakiti aku," jawab Nia.


"Tentu saja. Ngomong-ngomong, kapan kiranya kau akan siap bertemu dengan keluargamu?" tanya Farel lagi, untuk memancing.


"Setelah lelah ini hilang. Mungkin sore nanti kita akan kesana. Kairav kita bawa saja, agar kita memiliki alasan tidak bisa lama singgah di sana. Selanjutnya, jika kita akan ke rumah Ayah dan Ibu, jangan bawa Kairav," jawab Nia.


Dalam anggukan yang memiliki berjuta makna, Farel tersenyum dalam hati. Jika keluarga Nia menerima dirinya dengan baik pasca tragedi enam tahun silam, maka Farel hanya akan memberi keluarga Nia pelajaran kecil. Namun, jika keluarga Nia tak memiliki penerimaan terhadap dirinya, masih membedakan antara Adam dan Farel, akan Farel pastikan selamanya mereka tak akan bertemu dengan Nia.


Di balik sisi baik seseorang, ada sebuah keburukan terpendam. Termasuk dendam salah satunya.

__ADS_1


Dulunya, Farel adalah lelaki baik berhati malaikat. Akan tetapi karena sesuatu yang buruk telah ia terima, dendam itu tumbuh begitu saja tanpa Farel minta.


"Apapun yang kau minta, sayang. Satu pintaku, setiap setia padaku dan jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, setelah semua perjuangan dan pengorbananku," ujar Farel.


Tatapan lelaki itu tampak sendu, dengan sesuatu yang membuat Nia penasaran.


"Kenapa berubah sendu? Aku mana mungkin meninggalkan dirimu?" Petunia memeluk suaminya, mengusap punggungnya lembut.


"Terima kasih," Farel bernapas lega. Setidaknya, meski Adam dan Nia akan bertemu, namun ia tak akan ketar-ketir dibuat takut kehilangan istrinya itu.


Adam dan Petunia, tidak akan bisa bersatu.


**


Seorang lelaki paruh baya tengah berjalan dengan langkah malas, menuju ruang tunggu. Lelaki itu adalah Abimanyu, dengan paras tampan yang mulai terkikis oleh waktu. Otot-otot lengannya yang tadinya kokoh, kini seolah tak lagi terlihat tangguh.


"Istri dan putrimu serat menantu, menunggumu di sana," terang seorang penjaga sel tempat Abimanyu.


Abi hanya mengangguk. Langkah beratnya terayun seperti di seret begitu saja.


"Ayah!" panggil suara yang telah lama Abi rindukan.


Abi diam, menekuri lantai sembari meyakinkan hatinya sendiri, bahwa apa yang ia dengar, adalah suara si putri bungsu. Tak hanya itu, Abi juga mengerjapkan matanya berkali-kali, demi memastikan dan mengumpulkan seluruh fokusnya.


Sosok langsing mungil dengan tatapan sendu itu, menatap Abimanyu dengan tatapan nanar. Antara marah dan rindu, rasa itu sungguh sulit didefinisikan. Mungkin beginilah, rasanya menjadi anak.

__ADS_1


Sedurjana apapun orang tua, tetaplah ada rasa rindu dan sayang yang tak mampu di tukar dengan apapun.


"Pp ... Petunia?" cicitan lirih Abimanyu, seolah terdengar begitu jelas di telinga Nia.


Alih-alih beranjak untuk memeluk Ayahnya, Nia jutsru tetap terdiam, menatap sepasang mata sendu penuh penyesalan itu, dengan beribu rasa tak terlukis.


"Aku kembali, Ayah. Bersama Farel yang dulu berusaha kau lenyapkan," ujar Petunia, seraya merasai ranting hatinya yang seolah berguguran sebab patah.


Farel lama-lama tak tega, membiarkan istrinya melawan rapuhnya seorang diri. Lelaki itu lantas merangkul sang istri seraya berbisik, "jangan terlalu terbawa perasaan. Santai saja."


Nia mengangguk samar, hanya Farel yang mampu melihat hal itu.


"Farel, kau??" Abi seolah tak sanggup berkata-kata, melihat sosok yang dulu begitu ia sepelekan, nyatanya kini berdiri kokoh penuh wibawa. Bahkan dari perawakan dan pembawaan yang begitu tegas, Farel tampak jauh lebih dewasa dan tampan.


"Aku berhasil melewati masa sulitku, Ayah mertua. Maaf, jika aku tak bisa berjalan pada alur skenario yang anda buat," ucap Farel.


Entah mengapa, tubuh yang tadinya tegak, kini seolah merasa gemetar perlahan.


Bayangan kecelakaan itu, juga darah yang mengalir melewati wajahnya, Farel seperti tengah merasakan traumanya muncul ke permukaan. Sudah bertahun lalu, tetapi bayangan itu tetap melintas saja saat bertatap wajah dengan Abimanyu.


"Maafkan aku, maaf," ungkap Abimanyu dengan gurat penyesalan.


Lelaki itu melangkah hendak mendekati Farel dan Nia, namun terhenti saat telapak tangan Petunia, menghadang Abimanyu sejauh satu meter tepat dari posisi Abimanyu saat ini.


"Cukup, Ayah. Mari kita bicara. Aku datang untuk menjenguk Ayah, sebagai putri yang dulu pernah kau besarkan, bukan sebagai putrimu yang bisa kau banggakan dan sepadan dengan Zaskia Kenanga!" seru Petunia dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Wajah yang semula sendu dan lembut ini, kini berubah dingin dalam satu waktu.


**


__ADS_2