
Harusnya, pernikahan diselenggarakan dengan suka cita. Harusnya, pernikahan penuh dengan perasaan bahagia, haru dan penuh canda. Tetapi tidak dengan Petunia Amarilys, si bungsu Abimanyu. Meski wajahnya terbalut make up dengan sempurna, namun hal itu tidak akan menutupi lara yang tengah dirasakan gadis itu.
Tiba di hari pemberkatan sang Kakak, harusnya Petunia mengenakan busana pres body yang pas membalut tubuhnya. Tetapi sayangnya, petunia mengenakan busana yang tak pantas, hanya demi menutupi kehamilannya hingga Kakaknya resmi menyandang gelar Nyonya muda Hutama.
Mengapa hingga sampai Kakaknya selesai menikah? Sebab Nia tak ingin Adam tahu, dan berakhir pernikahan Kakaknya di batalkan.
Mungkin ini terdengar bodoh, juga Nia tidak perduli sama sekali. Yang Nia pikir adalah, demi perasaan sang Kakak, Nia tak masalah bila harus berkorban hingga sebesar itu.
Dua Minggu terakhir, Nia sudah memikirkan hal ini sebelumnya. Nia juga berpikir bahwa mungkin memang inilah yang terbaik untuknya dan juga Kia.
Dengan langkah kaki gemetar, Nia keluar dari mobil, memasuki gereja dengan kaki yang terasa kebas hingga ke pangkal paha. Meski sulit, namun Nia harus bisa kali ini. Tinggal menghitung mundur, setengah jam dari sekarang. Usai pemberkatan, Nia akan katakan pada seluruh keluarga besar, bahwa dia mengandung dan akan dinikahi oleh Farel.
Sekuat tenaga Nia menahan agar air matanya tak tumpah, ketika sang Kakak dan mantan kekasihnya menuju ke altar. Mata wanita itu sudah memerah.
Sepanjang acara pemberkatan, Nia merasa tak nyaman, dengan mual yang semakin sering terjadi, serupa trimester pertama. Pening menyerang kepala Petunia secara tiba-tiba. Bulir keringat berukuran cukup besar, menghiasi kening wanita itu.
Tepat ketika Adam mencium Kia dengan begitu dalam, Nia merasa tubuhnya mengambang, ringan dan tak bermassa. Wanita itu merasakan kepalanya berputar tak karuan, hingga sesak napas dan kegelapan merenggut kesadarannya.
Nia pingsan, membuat semua orang mendekat. Begitu dalam luka hati wanita itu, hingga kedua orang tuanya tak tahu, apa yang Nia rasakan saat ini.
"Astaga, Nia, bangunlah. Mengapa kau pingsan? Ya tuhan!" seru Kirana yang menatap putrinya sudah tergeletak tak berdaya di lantai.
"Apa yang terjadi?" Abimanyu datang, tak menyangka putri yang ia abaikan selama dua Minggu ini, sebab mempersiapkan segala sesuatu untuk pemberkatan putri sulungnya, harus pingsan dengan wajah yang sudah kehilangan ronanya.
"Nia pingsan tanpa sebab, entah karena apa. Ayo, Mas, kita angkat," jawab Kirana dengan panik.
Dan tangan Abimanyu mematung seketika, saat telapak tangannya, tiba-tiba menyentuh perut Nia yang memberikan tendangan pelan. Lelaki itu seolah seperti berhenti bernapas, kala melihat perut buncit putri bungsunya.
"Nia?" panggil Abi dengan suara bergetar. Lelaki itu bahkan tidak kuat sekadar untuk menggendong sang putri.
__ADS_1
"Nia ... hamil?" tanya Kirana berbisik lirih.
**
Sebuah petaka, siapa yang menduga bahwa ia akan datang tiba-tiba? Mengapa sebuah kekecewaan harus datang diwaktu yang tak tepat?
Harusnya ada tawa riang dan candaan hangat dari pasangan yang telah menikah, juga dari pihak keluarga kedua mempelai pengantin. Tetapi lihatlah, semua tak lagi sama seperti yang menjadi harapan semua orang. Pernikahan yang harusnya menjadi bahagia, harus berakhir dengan luka.
Kirana tak berhenti menangis, ketika mendengar kabar dari dokter keluarga yang menangani Nia. Cukup lama bungsu Kirana itu tak sadarkan diri, hingga lantas sebuah kabar mengejutkan, cukup membuat Abimanyu dan Kirana sendiri tidak percaya.
Percaya tak percaya, tetapi itulah kenyataannya.
Erangan lirih Nia terdengar, membuat Kirana segera menghampiri Nia dan menghapus air matanya.
"Nia, kau sudah bangun, sayang?" tanya Kirana lirih. Hanya ada Kirana dan Nia di dalam ruang rawat Nia.
"Dimana aku?" tanya Nia, mengusap keningnya yang terasa berat.
"Di rumah sakit, kau pingsan tadi. Ya Tuhan, Nia. Mengapa kau tak bicara terus terang selama ini? Mengapa kau bisa menyembunyikan hal besar selama ini dari kami, keluargamu?" tanya Kia dengan penuh emosi.
"Ada apa?" tanya Nia yang tak sadar sepenuhnya.
Suasana mendadak hening, membiarkan kebisuan panjang mendera. Ingatan Nia tiba-tiba kembali pada masa dimana sebelum dirinya pingsan.
Luka itu kembali terasa. Andai Nia tahu jika ia sadar, maka akan mengingat sejarah menyakitkan ini, Nia memilih untuk pingsan saja selamanya. Nia memejamkan mata, membiarkan kenangan buruknya menjadi sebuah hal yang terpatri dalam di hatinya.
"Siapa yang membuatmu hamil begini, Nia?" tanya Kirana bergetar.
Ibu mana yang rela putrinya harus hancur tanpa dirinya ketahui? Sungguh, ini adalah kejutan paling menyakitkan di sepanjang hidup Kirana selama ia menjadi seorang Ibu.
__ADS_1
"Ibu sudah tahu?" tanya Nia lirih, membiarkan ibunya menangis terseguk, juga Kia yang menangis pilu.
"Farel. Itulah sebabnya Nia ingin menikah dengan Farel secepatnya," ungkap Nia kemudian penuh dusta.
"Kenapa kau harus melakukan hal menjijikkan itu sebelum menikah? Beruntung tak ada tamu undangan, yang datang hanya keluarga besar yang bisa menjaga rahasia. Bayangkan jika banyak orang yang tahu? pasti mereka akan menghujat dan menghina kita sebagai keluarga tak terdidik dan amoral!" Muntah sudah amarah Kirana yang sejak tadi di tahan.
Nia mematung di tempatnya.
Jadi, yang Ibu dan Ayah pikir, semua yang terpenting hanyalah prestasi, pencapaian, dan nama baik? Tidakkah mereka memikirkan perasaanku? Tuhan, Nia merasa sendiri saat ini.
Batin Nia menangis pilu.
"Bu, Nia dan Farel mengaku salah. Maafkan kami. Farel juga sudah membuktikan bahwa dirinya akan bertanggung jawab. Tolong, Bu . Tolong bicara pada Ayah untuk memaafkan Nia," ujar Nia kemudian.
Tepat di saat Nia menyelesaikan kalimatnya, Abimanyu dan Adam masuk ke dalam ruang rawat Nia. Abimanyu menatap tajam Nia, dan Adam menatap Nia, dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Kenapa kau memilih lelaki yang tak sebanding denganmu, Nia? Bukan harta dan kasta yang menjadi dasarnya, melainkan sebab kau dan Farel sama-sama masih kuliah dan belum mapan," ungkap Kirana sambil terisak.
Petaka dalam keluarganya, Kirana tak menyangka akan sebesar ini.
"Lihat Kakakmu, Kia. Dia menikah dengan lelaki mapan dan sebanding dengannya. Karier Kak Kia juga sedang bagus-bagusnya, Kakak iparmu juga sudah mapan. Mau kau kasih makan apa anakmu nanti? Mau kau biayai dengan apa jika kau bersuamikan Farel, yang bahkan untuk merintis pun, dia belum memulainya!" Seru Abimanyu yang sejak tadi, menahan amarah.
"Mas, tolong. Nia masih sakit," ujar Kirana pelan, seraya menahan lengan suaminya.
"Jangan kau manjakan anak ini, Kirana! Lihat hasilnya, dia yang kita rawat dan kita sayangi sejak kecil, telah melemparkan kotoran pada muka kita!" nada suara Abi sedikit meninggi.
"Tolong, Ayah. Nia tahu jika Nia bersalah. Tapi tolong, jangan bandingkan Nia dengan kak Kia. Nasib Nia ... hanya tak seberuntung dengan kak Kia yang dipenuhi dengan cinta," jawab Nia lirih, seraya menatap Adam penuh lara.
**
__ADS_1