Petunia Amarilys

Petunia Amarilys
38. Tak sanggup lagi.


__ADS_3

Dingin kian menusuk, ketika malam telah tiba. Angin berhembus pelan, membawa kembali kabar luka yang dulu telah coba Petunia lupakan. Antara sedih dan bahagia, bercampur. Hanya saja, entah mengapa disini lebih banyak luka yang Nia rasakan dari pada bahagianya.


Di sebagian keadaan, ada kalanya Petunia begitu rindu keluarga, seperti momen-momen saat natal tahun ini. Namun, di bagian keadaan lain, rasanya Nia terasa tak memiliki keluarga.


Sejak kecil, keluarga Nia memang begitu baik padanya. Hanya saja, kebaikan mereka tak lebih dari sekadar menjadikan Nia sebagai boneka, seperti yang mereka inginkan. Mau disesali seperti apapun, Nia tetap tak akan memungkiri bahwa ia sangat menyayangi keluarganya.


"Kairav, hentikan bermain gadgetnya. Emily sejak tadi melihat dirimu, dia mungkin ingin berbincang denganmu, sayang," ujar Petunia, melirik gadis kecil putri Kia dan Adam.


Meski Nia sakit hati pada Adam, namun tidak membuatnya serta merta membenci gadis kecil yang telah kakaknya lahirkan. Emily tak tahu apapun tentang dosa Ayahnya.


"Maaf, tapi aku tidak butuh teman, apalagi perempuan," jawab Kairav masih mengacuhkan keberadaan Emily. Bocah itu menatap dingin pada Emily.


"Kai, tidak boleh begitu. Emily adalah saudarimu," Saudari satu ayah tepatnya.


Batin Adam tersenyum getir.


"Aku tidak memiliki saudari, Ma. Mengapa Mama mengganggu aku?" tanya Kairav dengan gaya jengkelnya, "lebih baik Mama masuk dan bicara pada nenek dan kakek, untuk menyingkirkan gadis pengganggu ini!" sambung Kairav dengan nada berseru.


Petunia memelototkan matanya, "siapa yang mengajarimu begini, Kai? Mamanya Emily adalah kakaknya Mama, mana mungkin Emily bukan saudarimu?" ujar Petunia pelan.


Kairav hanya menggidikkan bahu tak peduli, seraya menatap tajam pada Emily. Anak itu entah mengapa, tidak suka pada Emily sekalipun Emily tak mengusiknya sejak Kai datang. Rasa tak suka itu muncul sedemikian rupa tanpa ada dalam rancangan otak Kairav.


Petunia menarik napas sedalam yang ia mampu, berusaha untuk menetralkan perasannya agar tak mudah tersulut emosi akibat mulut tajam Kairav.


"Ada apa ini?" Adam muncul, menghampiri keduanya.


Mood Petunia sendiri yang tadinya sedikit terganggu, mendadak semakin hancur lebur. Rasanya tak suka, bila Adam muncul tiba-tiba, dengan mudahnya menghampiri Kairav dan berinteraksi langsung dengan anak itu.


"Papa, dia tidak suka pada Emily," tunjuk Emily pada Kairav dengan gayanya yang khas anak kecil yang polos.

__ADS_1


Adam tersenyum lembut, menatap putra biologisnya dengan perasaan rindu. Putra yang terlahir dari rahim Petunia, ingin rasanya Adam merengkuh erat dalam balutan kasih sayang. Sayangnya, Adam mungkin selamanya tak memiliki kesempatan untuk itu.


"Tidak apa-apa. Kalian hanya belum saling mengenal," ujar Adam seraya memeluk Emily sejenak, "Kairav dan Emily, tidak boleh bertengkar, ya?" sambung Adam lagi.


"Mama, aku mau puding susu buatan Mama. Sekarang bisa?" tanya Kairav menatap Petunia, mengacuhkan Adam yang bicara padanya.


"Nanti Mama buatkan. Ayo masuk," ajak Petunia pada Kairav.


Tumbuh rasa tak rela, melihat Adam berinteraksi dengan Kairav secara berlebihan.


Ya, bagi Petunia memang sangat berlebihan sekalipun ucapan Adam hanya sekadar begitu saja Kairav. Andai rasa cinta Petunia itu sudah sirna, mungkin Nia tak akan sebenci ini pada Adam.


Tanpa kata, Kairav turun dari kursi seraya menggenggam gadgetnya. Anak itu menurut tanpa kata, namun langkahnya terhenti, kala tangan ibunya tiba-tiba digenggam oleh lelaki yang harusnya ia panggil Om Billy.


"Nia, jangan begini. Anak-anak tidak tahu apapun urusan orang dewasa. Jangan kau ajari Kairav untuk menjauhi saudarinya," ujar Adam pelan, tak ingin suaranya di dengar orang lain.


"Maaf, harusnya memang Kairav tak boleh terlalu dekat dengan putrimu. Hubungan sebatas saudari, tak mewajibkan anak laki-laki harus akrab dengan sepupu perempuan," jawab Petunia.


"Nia, tunggu!" seru Adam, berharap Nia mau bicara dengannya meski sekejap. Beruntung, Farel sedang berbincang dengan Kirana.


Entah mengapa, Farel mendadak datang layaknya pangeran yang mendapat penyambutan begitu baik dari Kirana dan Abimanyu. Mereka asik berbincang di ruang tengah.


"Cukup, Adam! Kau dalam keluarga Abimanyu, adalah menantu dari putri sulung. Jangan kurang ajar, aku adalah adik iparmu dan harusnya kau menjaga jarak dariku. Lepaskan tanganmu atau aku akan mematahkannya tanpa kau duga. Aku dulu memang tak mampu melakukannya, tapi sekarang aku lebih dari sekadar mampu!" Nia balik berseru pada Adam.


Adam terperangah, mendapati keberanian Nia. Lelaki itu masih tak jua melepas genggaman tangannya. Andai saja bisa, Adam ingin bicara dari hati ke hati secara empat mata.


Dan lihat apa yang terjadi, Nia menghempas kasar tangan Adam.


"Kairav, masuk ke dalam dan segera menuju ke ruang tengah, sayang. Papa di sana, kau aman bersama Papa Farel," perintah Nia pada putranya.

__ADS_1


Kai nurut, dan segera berlari masuk ke dalam rumah.


Nia rasa, ia tak salah bila memberi kesempatan Adam untuk bicara. Namun, untuk membiarkan Adam mendekati Kairav, itu adalah sebuah kesalahan fatal.


"Petunia, bila kau tak mengijinkan Kairav untuk dekat denganku sebagai ayah biologisnya, setidaknya biarkan Kairav dekat denganku sebagai paman," pinta Adam, setelah melihat Kairav benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Hentikan segera, Adam. Jangan melewati batasanmu," ujar Nia menimpali. Nada bicara Petunia kian dingin. Matanya menyorot kemarahan yang luar biasa menggelegak.


Sayangnya, secercah kerapuhan hati Petunia, Adam bisa melihatnya dengan jelas.


"Kau tidak bisa begitu, Nia. Lihat, Emily dan Kairav masih terlalu kecil, tak ada salahnya jika mereka akur," sambut Adam dengan lembut. Adam merasa bersalah, hingga bersedia mengalah untuk lebih melembutkan kata dan hatinya.


"Lantas kau bisa bebas mendekati anakku melalui putrimu? Dalam mimpimu, Adam! Aku tak akan rela sampai langit runtuh meratakan bumi. Demi air laut yang airnya asin, aku tak akan membiarkan kau bisa mendekati anakku. Sampai kapanpun, aku tak rela!" Nia menatap Adam, menyorot murka.


"Tidakkah kau lihat Emily, dia memiliki mata yang serupa dengan Kairav. Suatu saat, mereka berdua akan menyadari hal ini, cepat atau lambat. Tolong, jangan bawa anak-anak dalam urusan kebencian kita, urusan kita, dan jangan libatkan dalam dendam. Aku minta maaf dengan hati tulus dan bersungguh," ungkap Adam.


Dalam hati yang mulai kalut, Adam merasa tak tahu lagi harus apa.


"Di natal tahun ini, aku harap ini menjadi momen pertama dan terakhir kau bisa menyentuh dan bicara pada Kairav, tuan Adam Billy Hutama. Kau tak berhak apapun atas anakku. Aku tak akan pernah lupa sekalipun Tuhan menganugerahi aku amnesia, bahwa kau dulu meninggalkan aku secara sengaja hanya karena untuk menikahi kakakku yang maha sempurna," kata Nia dengan hati berlumuran darah.


Kaki wanita itu lantas membawa tubuhnya berbalik untuk masuk ke dalam, namun terhenti dengan tenggorokan tercekat akibat mendapati sang kakak yang tengah berdiri menatapnya, dengan hati yang sama berdarahnya.


Kia tak sanggup melihat Nia rapuh, dan harus sehancur ini hatinya.


"Kau masih mencintai Billy, Nia. Aku tahu itu," Kia berucap lirih, yang tentunya masih bisa didengar oleh petunia.


"Sayangnya, rasa tahumu itu tak berarti apapun. Semua sudah terjadi. Selamat, semoga kalian bahagia. Maaf, aku harus masuk," jawab Nia tak kalah lirih.


Putri bungsu Abimanyu itu lantas melangkah masuk, tanpa menoleh lagi ke arah kakaknya, maupun kakak iparnya.

__ADS_1


Setibanya di ruang tengah, Nia segera menghampiri Farel. Petunia sudah tak sanggup lagi. Ia ingin pergi, tanpa menunggu hingga hari natal benar-benar terlewati.


**


__ADS_2