
Tubuh dingin tak bernyawa itu, tidak lagi merasakan sakit. Ruang jenazah yang kini ditinggalkannya untuk pulang ke rumah surganya bersama sang istri, menjadi saksi betapa pilunya tangis sang istri.
Oh, bukan tangis tepatnya, melainkan sebuah ruangan, hingga sedikit-sedikit, si bunga Petunia itu pingsan, sebab terlalu dalam sakit di dada yang ia rasakan.
"Mengapa semua orang membuangku? mengapa semua orang tak lagi sudi menjadi pasanganku? Mengapa orang yang aku cintai, selalu pergi dan berakhir meninggalkan aku? Mengapa aku harus ditakdirkan begini? Mengapa tak ada yang menyayangi aku? Mengapa tak ada yang bisa menyayangi aku setelah Tuhan? Sehina itukah aku?" jerit petunia yang malang, memecah kesunyian malam yang mendominasi suasana hening rumah sakit, tempat dimana Farel di larikan.
Tak ada bahagia. Tak ada suka cita. Tak ada canda tawa. Tak ada lagi kehangatan yang pasti akan Nia dapatkan. Tak ada ketulusan yang sanggup menerima Nia dan anaknya apa adanya.
Jangan pernah memberi tahu apa itu sabar? Nyatanya Nia tak lagi memiliki kesabaran lagi. Hatinya dirundung duka cita, jiwanya menanggung nestapa tanpa batas, raganya dilanda lara yang tak berkesudahan.
Petunia bersumpah, tak ada yang bisa menggantikan kebaikan Farel di hatinya, juga dalam hidupnya. Kehangatan yang lelaki itu berikan, bahkan sanggup mengalahkan kehangatan mentari.
Sejenak selepas Nia meraung dan menjerit sekuat tenaga, wanita itu kembali pingsan entah untuk yang ke berapa kalinya.
Baik Wanda dan Benni sama-sama terlukanya, sama-sama terpukul. Biar bagaimana pun, Farel bukan hanya tulang punggung bagi Ibu dan adiknya, melainkan Farel adalah satu-satunya cahaya dan harapan Wanda.
"Nia, ya Tuhan. Sadarlah, sayang," Wanda merasa tubuhnya lemas. Tetapi ia tak mungkin membiarkan menantu cantiknya itu tergeletak.
"Astaga, Bu. Ada darah di kaki Kak Nia," Benny berteriak, membuat beberapa dokter datang, menghampiri untuk memberi pertolongan dengan sigap.
Nia pingsan, sebab beratnya beban dan sakit yang ia rasakan, tidak sanggup ia pikul sendirian. Sejenak Petunia kembali terbangun, menatap Wanda dengan luka yang jelas kentara.
"Jangan pisahkan aku dan Mas Farel, Bu," ujar Petunia kemudian, sebelum wanita itu kembali terpendam dalam ketidaksadaran
**
__ADS_1
Kelahiran bayi mungil berjenis kelamin laki-laki, harusnya menjadi sukacita bagi seorang ibu muda. Kelahiran yang sejak awal begitu dinanti-nantikan, nyatanya seolah tidak memberi pengaruh apapun, bagi seorang Ibu muda yang baru semalam, kehilangan bayinya.
Sekitar pukul tiga dinihari, bayi Nia terlahir, maju dua Minggu sebelum hari perkiraan lahir. Wanita itu benar-benar tidak tahu, harus bagaimana saat ini. Syok yang menyebabkan kelahiran bayinya yang lebih cepat, serta kelelahan raganya, membuatnya harus terbaring pagi ini di rumah sakit.
Tangis berderai tiada henti, menyajikan pemandangan menyakitkan yang sanggup menyayat hati semua orang yang menyaksikan. Jangankan Wanda dan Benni, bahkan Dokter, Suster dan beberapa orang Polisi saja, ikut merasakan sedihnya
Bayangkan saja, suami meninggal, dan sang istri melahirkan, bahkan sebelum jasad suami terkubur dalam tanah.
Adakah keluarga Petunia hadir? Bahkan pagi ini, tak ada Ibu maupun Kia yang datang. Mungkin mereka belum mendengar kabar kepergian Farel untuk selamanya. Hanya saja, di hati Nia seolah ingin, semoga saja tak ada orang-orang masa lalu Nia yang datang, meski hanya sekadar mengucap belasungkawa.
"Aku ingin pulang, Bu. Aku ingin ikut mengantarkan Mas Farel hingga ke peristirahatan terakhirnya. Aku mohon, beri aku Izin untuk ikut Ibu dan Benni," lirih suara Petunia.
"Ya. Kau pasti ikut," jawab Wanda.
Di hati kecil Wanda, tak ada sedikitpun kebencian terhadap Petunia. Tak ada sedikit pun niat di hati Wanda, untuk meninggalkan Nia.
Wanda hanya belum tahu, ada campur tangan besan biadabnya, atas kematian Farel Prahasta.
"Pukul sepuluh pagi acara penghormatan terakhir pada suamimu, akan segera di laksanakan. Istirahatlah dan jangan banyak bergerak," perintah Wanda, dengan tangis kembali berderai, "tunggulah di sini. Ibu akan ke Benni dulu. Dia sedang ada di ruangan tempat Farel berada," ungkap Wanda kemudian.
"Aku harus ikut hingga ke pemakaman, Bu. Aku sekarang sudah sehat, dan aku bisa berjalan sendiri. Aku akan ke Mas Farel saja," ungkap Nia memaksa, meski dirinya masih terasa lemas.
"Tapi, Nak," Wanda berusaha mencegah. Namun Nia tetaplah keras kepala, membuka paksa jarum infus hingga darahnya mengalir. Sungguh, Wanda begitu menyadari, betapa terpukulnya Nia sebab kehilangan sang suami.
Mengapa kau siksa istri dan Ibumu ini hingga seperti ini, Rel? Tuhan, beri keajaiban, kembalikan kehidupan putraku.
__ADS_1
Wanda membatin penuh luka.
**
Pagi nyaris merambah siang, ketika peti jenazah tempat Farel terbaring penuh damai, tiba di rumah. Beberapa kerabat dari mendiang Ayah farel, juga kerabat dari Wanda, datang berkunjung untuk ikut belasungkawa.
Suasana duka tentu begitu kental terasa. Foto Farel yang mengenakan jas belum lama ini, terpajang dengan anggun. Tangis tak pernah berhenti, dari Wanda sebagai ibu yang kehilangan . Jangan tanya bagaimana Nia. Wanita itu sama terlukanya dengan Wanda.
Nia tidak sadar, bahwa keluarganya sudah datang untuk sekadar ikut mengucapkan duka cita. Abimanyu datang dengan raut wajah datar, jauh berbeda dengan wajah Adam, Kia dan Kirana yang begitu cemas.
Tidak ada yang tahu, bahwa pagi buta tadi, Adam sudah datang ke rumah sakit untuk melihat putranya yang baru terlahir. Putra yang wajahnya begitu mirip dengan dirinya.
Semua menjadi kacau. Adam tak bisa berbuat apa-apa. Tebakannya, mungkin celakanya Farel, ada tangan Abimanyu yang menjadi penyebabnya.
"Nia, petinya akan segera di tutup. Ayo, kita minggir dulu," Wanda menghampiri Nia, mencoba untuk membujuk menantunya itu, "ikhlaskan suamimu. Dia sudah tenang bertemu Tuhan. Doakan saja, yang terbaik untuknya. Ibu yakin, dia pasti sudah di surga."
"Apakah surga dan neraka itu ada, Bu? Apakah Tuhan juga ada? jika iya, lantas mengapa Tuhan memberikan aku takdir hidup yang begini? Lantas untuk mereka yang sudah menyakiti aku dan Farel, mengapa masih bisa tertawa di atas deritaku?" Nia berbisik lirih, seolah suaranya nyaris hilang di telan angin, namun, keluarga Nia yang mendekat, bisa mendengar dengan jelas.
Kehilangan Farel, berhasil membuatnya lupa, bahwa ada bayi yang baru ia lahirkan, yang butuh perhatiannya.
"Kadang aku bertanya, bagaimana dengan mereka, bagaimana dengan perasaan keluargaku yang begitu menjahati Farel dulu, setelah melihat wajah damai lagi tampan Farel. Lihatlah, Bu. Dia seolah seperti tersenyum padaku. Hinaan keluargaku dulu, seolah bukanlah badai baginya. Ia menerimaku dengan tulus, sayangnya ia harus menjadi korban. Akulah yang seharusnya di hukum sendirian sebab dosa-dosaku," Nia kembali menangis pilu, meratapi lukanya di depan raga tanpa nyawa milik Farel.
"Petunia Amarilys, ayo kembali pulang ke rumah. Tempatmu bukan disini!" Ucap Abimanyu dengan tegas, dan disertai wajah datar tanpa perasaan.
Begitu Nia memutar kepalanya, darah Nia serasa mendidih seketika. Abimanyu bukan lagi Ayah baginya, melainkan musuhnya yang serupa iblis dari dasar neraka.
__ADS_1
**