Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Rencana jahat Dara


__ADS_3

"Hiks hiks." Dara menangis bukannya cemburu, ia hanya ingin melihat hidup Raka hancur, Dara juga berencana akan membuat Raka kehilangan Kesya untuk selamanya melalui Rifkana.


"Habis dah tu cewe!" Batin Dara tertawa.


"Cup cup udah Sayang, biar Mama yang urus mereka!" Rifkana mengusap lembut pipi Dara, airmata Dara masih bercucuran tak henti, entah balsem apa yang ia oleskan pada matanya.


"Tunggu disini ya Sayang, jangan nangis lagi! Biar Mama samperin mereka!" Rifkana berlalu meninggalkan Dara yang masih dengan aktingnya itu.


"Perang dimulai!" Dara mengusap kasar pipinya, ia bergegas untuk mengintip apa yang sedang terjadi diluar sana.


Lantai bawah


"Eh cewe lenjeh, ngak tau diri sini!" Rifkana menarik kasar tangan Kesya.


"Ada apa Ma?" Raka berdiri dari tempat duduknya. Raka heran kenapa Rifkana marah dengan Kesya tidak seperti biasanya.


"Dara! Pasti dia!" Raka melirik geram pada wanita yang sedang senyum sumringah menatap arah mereka.


"Raka, Mama minta kamu jangan ikut campur!" Marah Rifkana menatap kejam Kesya.


"Mama mau urus wanita ini!" Rifkana melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar sembari menenteng kasar Kesya.


Raka hanya diam ditempat, ia tidak berani melawan Mamanya yang marah tidak seperti biasanya.


"Tante, Kesya salah apa? Hiks hiks." Tangan Kesya terasa sakit, cengkraman Rifkana begitu kasar membuat Kesya tidak dapat lagi menahan air matanya.


"Mulai sekarang, jangan pernah kamu injakkan kaki dirumah saya lagi! Pergi!!" Ketus Rifkana mendorong kasar Kesya hingga tubuhnya mendarat di papimblok depan rumah Raka.


"Auhh," Kesya mengusap tangannya yang terdahulu mendarat.


"Tapi Tan?" Kesya mencoba berdiri dari rebahannya.


Prakkk...

__ADS_1


Pintu tertutup keras, Kesya hanya bisa menangis.


"Awas kalian, aku ngak bakalan trima!" Batin Kesya marah.


Kesya berlalu meninggalkan rumah Raka, sepanjang perjalanan ia menggerutu kesal, ia sampai tidak sadar didepan ada lampu merah.


"Aaaa," terlambat, mobil yang dikendarai Kesya terlebih dahulu menabrak trotoar didepan. Jalan sedikit sepi, hanya ada satu mobil yang hampir saja bertabrakan dengan Kesya. Entah itu mobil siapa, yang pasti sekarang Kesya tidak sadarkan diri.


Rumah Raka


"Ma, kenapa sih Ma?"


"Kesya salah apa?" Raka angkat bicara, ia menghampiri Rifkana yang duduk dimeja makan.


"Bukan Kesya aja yang salah, kamu juga!" Bentak Rifkana pada Raka. Raka terdiam, ia hanya belum bisa mengerti. Untuk pertama kalinya Rifkana marah padanya.


"Raka! Kamu anak Mama satu-satunya. Mama ngak mau kamu salah jalan Nak, lihat Dara dia Istri kamu. Tolong hargai dia!" Nada penuh penekanan Rifkana meneteskan butiran air dari matanya.


"Ma, Raka masih Sayang Kesya!" Raka mencoba bicara pelan menahan emosinya.


"Ma..." Belum sempat Raka menyelesaikan ucapannya.


"Udah Ma, gak papa biar Dara yang mundur Ma!" Dara mendekati Rifkana dan memeluknya.


"Ngak Sayang, Mama ngak ijinin! Pernikahan itu bukan mainan kalian harus ngerti itu!" Kesel Rifkana meninggalkan Dara dan Raka yang masih terdiam dengan ucapannya.


"Ma, maafin Raka!" Raka mengikuti langkah Rifkana dan berlutut dihadapan Rifkana.


"Ma, Raka ngak tega lihat Mama nangis! Udah stop Ma! Raka akan coba melupakan Kesya untuk Mama!" Raka memohon, matanya berkaca-kaca. Terlihat kesedihan dan kemarahan yang begitu besar dalam dirinya.


"Awas kamu Dara, tunggu pembalasan ku!" Batin Raka


"Wes lah, akhirnya rencana ku berhasil." Dara bicara pelan sembari tersenyum licik ditempat berdirinya tak jauh dari Raka.

__ADS_1


"Bangun Nak! Mama udah maafin!" Rifkana memeluk erat Raka dan mengecup kening anak kesayangannya itu.


"Yaudah Mama istirahat ya!"


"Dara, Mama tinggal ya!" Rifkana berlalu meninggalkan Raka yang mengusap pelan air matanya yang sedikit ikut meluncur.


"Gila lu ya, ngomong apa aja lu sama Mama? Dasar licik. Cih." Geram Raka melempar gelas yang berada di meja makan.


"Hiks hiks, ngak Kak. Dara ngak ngomong apa-apa!" Bantah Dara meneteskan air matanya.


"Emang lu pikir gua percaya gitu aja, dasar wanita picik!" Bentak keras Raka menutup kasar pintu rumahnya entah mau kemana.


"Picik, julukan yang cukup bagus!" Senyum merka Dara kembali terlihat, ia melangkah kakinya menuju lantai atas kamarnya. Eh maksudnya kamar Raka. Ya sama sih kamar Dara atau Raka kan mereka udah nikah.


"Akhhh!" Raka menendang kasar pilar depan rumahnya.


"Aihh Kak! Hati nanti pilarnya roboh!" Canda Kiki yang tiba-tiba datang entah darimana.


"Cih." Dengus Raka menatap tajam Kiki.


"Ma maaf Kak!" Copot dah jantung Kiki ditatap geram sama Raka.


"Kakak, ada apa? Apa aku boleh tau?" Kiki mencoba bicara hati-hati takut Raka menerkamnya.


Seketika tatapan geram Raka berubah menjadi tatapan pilu, penuh kesedihan.


"Kak, ada apa?" Tanya Kiki kembali


Hanya tatapan sedu yang dapat diberikan Raka, sebelum ia berlalu kembali ke dalam.


"Ini ada apa lagi? Apa ulah Kesya?" Batin Kiki menerka-nerka.


"Bodo lah, mending aku diam daripada cari masalah!" Kiki mengikuti langkah Raka menuju ke dalam.

__ADS_1


Bersambung....


#Author: Desi_hw12


__ADS_2