Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Sesal datang di akhir


__ADS_3

Brukk..


Tubuh Dara terhempaskan kelantai. Raka membawa Dara rooftop kampus.


"Ahkk,, sakit." Ringis Dara tangannya memerah sedikit terlihat goresan di keningnya.


"Kak, Dara salah apa?" Dara mencoba berdiri menatap wajah geram Raka.


"Kak Dara minta maaf!" Mencoba memegang tangan Raka. Hasilnya tangan Dara di tepis kasar Raka.


Ngak tau kenapa perasaan Raka campur aduk melihat Dara bersama cowo tadi. Raka terlihat sangat marah. Biasalah kalau polisi marahnya sepertinya macan mau makan orang.


"Hiks hiks hiks." Raka mencoba menarik napasnya meninggalkan Dara yang masih menangis.


"Kak!" Panggilan Dara tak dihiraukan Raka.


Tubuh Dara melemah terasa amat pusing dikepala nya, tak butuh waktu lama Dara berlalu kealam bawah sadarnya.


Raka melanjutkan penyelidikannya terhadap prof Irawan atas kasus pembunuhan yang terjadi dalam keluarga Arya Bima. Arya Bima dikabarkan meninggal satu keluarga karena pembunuhan. Tersangka pertamanya adalah Irawan sahabat dekatnya Arya Bima.


Raka memperhatikan gerak gerik Irawan. Hari ini Raka mendapatkan kabar bahwa Irawan mendatangi kampus.


Dengan instennya Raka memperhatikan tidak ada yang mencurigakan.


"Sial, apa dia tau lagi diselidiki!" Raka yang sedaritadi sadar penyelidikannya tidak ada hasilnya, meninggalkan kampus menuju parkiran.


"Ma apa Dara udah balik?" Raka sekilas teringat Dara dan mencoba menghubunginya tidak ada respon. Akhirnya Raka memutuskan menghubungi Rifkana.


"Dara. Bukannya dikampus Sayang, Mama belum liat Dara dirumah!" Saut Rifkana disebrang sana.


"Yaudah Ma, by." Raka memastikannya dan mencoba menelfon kembali ya hasilnya tetap Dara tidak menjawab.

__ADS_1


Raka mulai panik, ia kembali ke rooftop dimana Dara ia tinggalkan.


"Dara!" Benar saja Dara masih disana dengan keadaan terkapar lemah. Dengan lihainya Raka mengangkat tubuh Dara menuju mobil dan membawanya kerumah sakit.


Rumah sakit..


"Sayang Dara kenapa? Dara baik baik saja kan?" Rifkana menghampiri Raka yang terlihat frustasi. Dari awal Raka mengakui dirinya punya perasaan pada Dara namun ia gengsi untuk mengungkapkannya. Ia sering berbuat kasar itu juga hanya untuk menutupi perasaannya saja.


"Dara masih diperiksa dokter Ma! " Saut Raka dengan nada penyesalan. Andai aja dia tidak berbuat kasar pada Dara pasti semua ini tidak terjadi.


"Dok gimana kondisi Dara do" Serentak Rifkana dan Raka menghampiri dokter yang terlihat baru keluar dari ruangan Dara.


"Dara baik baik saja, dia hanya sedikit kelelahan. Dara tidak perlu dirawat untuk obatnya silahkan ditebus didepan!"


Rifkana dan Raka menarik nafas lega, mereka tersenyum dan melangkah ke dalam ruangan Dara.


"Sayang kamu baik baik aja kan?"


"Kamu punya masalah sama siapa?" Dengan tergesa-gesa Rifkana melontarkan pertanyaan membuat Raka terdiam.


"Dara.. " Belum saja Dara menjawab kecupan manis Raka mendarat di keningnya Dara.


"His." Ketus Dara menatap kesel Raka.


"Raka!" Rifkana menatap tajam Raka tidak suka dengan ulah Raka.


"Sana tebus obatnya biar Mama yang urus Dara!" Kesel marina mencoba menarik Raka keluar ruangan dan menutup pintu.


"Iiya Ma!" Raka masih saja menatap Dara melipat dua tangannya memohon Dara untuk diam.


"Sayang sok cerita sama mama, kamu kenapa bisa begini?" Rifkana kembali melanjutkan pertanyaannya yang tadi terhalang Raka.

__ADS_1


"Ngak papa Ma, tadi Dara ada masalah sama kakak senior terus Dara dibuat pingsan. Dara ngak tau apa yang terjadi setelah Dara pingsan Ma.." Dara berbicara hati hati meyakinkan Rifkana.


"Lain kali hati hati ya Sayang!" Memegang lembut tangan Dara.


"Iya Ma, makasih Mama udah mau perhatian sama Dara!" Menarik tangan Rifkana dan menciumnya.


Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan menebus obat Dara, Raka kembali ke ruang Dara.


"Pulang sekarang Ma?" Raka bertanya pada Rifkana tapi tatapan tajam mengarah Dara.


"Iya ayok sayang hati hati!" Memapah Dara turun dari tempat tidur.


Raka yang merasa kasian langsung menangkap Dara dan membawa kepangkuannya. Tanpa ada rasa malu Raka menggendong Dara menuju mobilnya. Rifkana mengikuti dari belakang hanya bisa mengeleng dengan kelakuan anaknya yang satu itu.


Rumah Raka...


Raka menidurkan Dara di ranjangnya. Raka lagi lagi membuat jantung Dara copot dengan kecupannya yang berlandas tepat di keningnya Dara.


"Ahkk." Dara mengusap jijik keningnya.


Raka hanya tersenyum melihat sikap Dara. Jelas dimata Dara tersimpan kebencian yang sangat besar pada Raka.


"Jijik," batin Dara mengerutu melihat sikap Raka.


Malam berlalu begitu cepat, Dara terbangun dari alam mimpinya.


Next kk say 😘😘


Jangan lupa jempol sama hati nya ya dititip bentar pasti aku balikin ko🤭🤭


#Author: Desi_hw12

__ADS_1


__ADS_2