Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Dunia baru


__ADS_3

"Sayang geser ahh, sempit!" Raka mendorong pelan tubuh Dara yang berposisi sedang membelakangi nya.


"Hmm," sepertinya mata wanita cantik itu tidak ingin dibuka.


Malam panjang mereka lalui bersama tanpa suara, hingga tiba saatnya adzan subuh berkumandang. Merdunya suara muadzin terdengar jelas di telinga mereka. Asal suara yang dekat tak lain di samping kediaman mereka. Tidak lain adalah panti asuhan Rifkana yang sekarang dikelola tantenya Raka.


"Kak, bangun! Udah subuh." Dara menggoyang goyangkan tubuh Raka.


"Selamat pagi ibu negara!" Celetuk Raka mengusap pelan matanya.


"Lebayy, sana mandi Kak! Habis itu sholat aku mau masak." Saut Dara berdiri dari posisi tidurnya.


"Kamu ngak sholat Sayang?" Tanya Polisi tampan itu.


"Lagi ada tamu Kak," saut Dara.


"Ok, kiss pagi boleh ngak?"


"Plis!" Lanjut Raka memohon.


"Ngak boleh!" Saut Dara malu, sikap Raka semakin membuat Dara nyaman.


Hubungan mereka sangat harmonis, mungkin adalah kebahagiaan yang dijanjikan Allah setelah dilanda kesedihan. Semenjak kepergian Rifkana mereka lebih memperbaiki ibadahnya. Yang dahulunya masih jauh dari kata sempurna.


Hubungan mereka tidak seperti suami istri biasanya, mengingat Dara masih dalam masa pendidikan. Tidak pernah sekali pun mereka berfikir untuk berbuat lebih, hanya kemesraan demi kemesraan yang mereka jalin bersama.


"Sarapan siap!" Dengan bangganya istri polisi muda itu menenteng semangkuk nasi goreng di tangannya.


"Wahh, enak nih!" Ceplos Raka refleks mencium tubuh Dara bukan nasi gorengnya..


"Masak sih Kak, aku belum mandi loh!" Dara tersenyum cengengesan melihat ekspresi wajah Raka berubah seketika.


"Pantesan bau ikan asin! Sana mandi!" Istri polisi muda itu tersenyum puas, sambil berlarian menuju kamarnya.

__ADS_1


"Walaupun bau, tetap aroma khas tubuhnya masih ada, andai aja!" Gumam Raka geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.


Beberapa menit berlalu..


"Udah selesai sarapannya Kak?" Dara melangkahkan kakinya menuruni satu-persatu anak tangga.


"Udah, nih tinggal dikit. Mau?" Menyodorkan sendok berisi dua butir nasi.


"Habis ya Kak? Senang aku liat Kakak makanya makin hari makin banyak!"


"Ngak kebayang dah dua tahun kemudian tubuh Kakak berbentuk apa?" Ejek Dara tertawa.


"Iya, Kakak juga ngak sabar nunggu kamu lama-lama lagi!" Balas Raka tersenyum menggoda.


"Ihh, resek. Masih lama!" Bantah Dara menjulurkan lidahnya kehadapan Raka.


"Sini deketan," perintah Raka tidak dihiraukan wanita cantik itu.


"Bilang aja lidahnya mau disamber aku!" Ucap Raka pelan mendekati tubuh Dara.


"Pliss Kak, jangan di sini!" Lanjut Kiki menutup matanya.


Posisi yang sangat tidak enak dipandang antara Raka dan istrinya itu. Hampir saja kelakuan mereka dilihat sama Kiki adik angkatnya itu.


"Lebayy, siapa juga mau main!" Celoteh Raka menjauhkan tubuhnya dari wajah Dara.


"Iya tuh, sembarangan aja kamu Ki!" Ikut bicara.


"Hehe iya deh maaf!" Balas Kiki cengengesan jelas sedang mengejek.


Mereka memutuskan untuk berangkat sendiri-sendiri. Raka hari ini sedang mengintai target yang dilaporkan warga atas kegelisahan warga dengan kelakuannya membegal.


"Assalamu'alaikum!" Pamit Dara memasuki mobilnya. Dara hanya bisa tersenyum melihat kepergian istrinya itu untuk mencari ilmu.

__ADS_1


Tring.. tring..


Suara nada telpon Raka memecah lamunannya menatap kepergian Dara.


"Iya, saya usahakan untuk hari ini bisa! Kamu atur jadwalnya ya!" Bicara Raka bersama seseorang dibalik telpon.


Kafe


"Ra, itu Raka kan suami kamu?" Mereka tertegun sejenak melihat Raka bersama teman wanitanya berbincang akrab. Mata Raka yang sesekali mentap tajam wanita tersebut membuat hawa tubuh Dara keluar.


"Ngak salah lagi, itu Raka Ra!" Lanjut seseorang tersebut tidak lain adalah denis sahabatnya.


Mereka memutuskan untuk bersahabat, walaupun Dara mengetahui perasaan Denis padanya. Denis berjanji tidak akan mengusik kehidupan pribadi Dara walaupun sekecil apapun.


"Iya, biarlah! Paling itu rekan kerjanya!" Saut Dara positif thinking.


"Masa sampai mesra gitu, duduknya juga deketan!" Celoteh Denis mencoba memanas-manaskan hati sahabatnya itu.


"Iya juga ya?" Dara masih mencoba menahan amarahnya. Namun sayangnya tidak dapat ia tahan kondisinya ia juga sedang PMS.


Sesuai rencana, hasilnya Dara marah menghampiri keberadaan Raka dan teman wanitanya itu.


"Kak! Ini siapa?" Dara mengobrak-abrik dokumen yang spertinya berisi kertas penting dan file penting lainnya.


"Dara udah!" Bentak Raka menghentikan tangan Dara. Raka menatap marah istrinya itu. Sekilas Dara memperhatikan arah semula Dara benar saja ia bersama Denis.


"Bikin malu aja!" Teriak Raka tidak pandang kondisi. Dalam kafe menjadi riuh, dengan adanya tontonan yang sangat diminati orang-orang.


**Bersambung..


Typo hobi ku ya kk, mohon kritikan nya ๐Ÿ™๐Ÿ™


Terimakasih udah mampir Kak ๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


#Author:Desi_hw12**


__ADS_2