Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Sekamar?


__ADS_3

Flashback


"Pagi Mama!" Raka menyalami dan mencium kening wanita paruh baya yang asik didepan TV.


"Pagi Sayang!" Balas senyum manis Rifkana, jelas Raka terlihat berbeda bangun lebih awal entah apa tujuannya.


"Ma!" Panggil Raka malu malu.


"Iya Sayang! Ada apa? Mau cerita anak siapa lagi nih? " Menggoda Raka yang masih bingung harus mulai dari mana.


"Aku mau nikah!"


"Apa? Jangan bercanda, Nak!" Rifkana tidak percaya dengan omongan Raka. Bagaimana mau nikah, setau Rifkana pacar Raka aja masih diluar negeri.


"Mau nikah sama siapa? Apa Kesya udah balik?" Tanya Rifkana memastikan


"Udah lah Ma, jangan balas dia lagi, aku nikah sama seseorang ko Ma, nanti aku ajak kesini ya Ma! "


"Boleh ngak Ma?" Raka terlihat semangat jelas berbeda sejak kesya kekasihnya keluar negeri dan ngak balik balik.


"Mama ngikut aja, mungkin itu jalan terbaik buat kebahagiaan kamu."


"Makasih Mama sayang!" Lagi lagi kecupan halus menempel dipipi Rifkana.


"Ka, kamu udah besar Sayang jangan seperti anak kecil lagi!" Mencoba menasehati sikap Raka yang masih saja ceroboh tidak menjaga bibirnya.


"Iya Ma, maaf. Raka berangkat ya Ma love you." Raka tersenyum lega dan berlalu meninggalkan Rifkana yang menggeleng melihat sikap Raka.


Flashback berakhir


"Ki!"


"Dara mana?" Tanya Raka baru saja memasuki rumah tanpa basabasi.


"Dikamar, " belum saja Kiki menyelesaikan ucapannya Raka sudah berlalu menuju lantai atas kekamarnya.


Tok tok...


Jelas terdengar ketukan pintu dari luar, Dara hanya diam dan melanjutkan pekerjaan menyisir rambut.


Raka tidak tinggal diam, di buka laci yang berada disebelah pintu dan mengambil kunci cadangan kamarnya.

__ADS_1


"Hmmm." Deheman Raka membuat Dara kaget, bagaimana bisa Raka bisa masuk sedangkan kamarnya sudah dikunci.


"Lagi ngapain?" Raka mendekat kearah Dara yang masih melanjutkan menyisir rambutnya.


"Makan!" Ketus Dara. Bagaimana tidak sudah dipaksa ngak jelas, sekarang ditanya lagi apa lah jelas lagi nyisir rambut.


"Buta ya Om, bisa liat kan saya lagi apa?" Balik tanya Dara.


"Mama mau ketemu, keluar gih!" Perintah Raka dengan halusnya berbeda seratus persen dari pagi tadi.


"Buset Dah, belum apa-apa udah disuruh ketemu orang tuanya?" Batin Dara bertanya.


"Dengar ngak!" Nada Raka mulai mengeras memecah lamunan Dara.


"Ya!" Dara berlalu melemparkan sisir ke wajah Raka.


"Tunggu!" Belum saja Raka selesai bicara Dara sudah berlari meninggalkan kamar Raka.


Meja makan..


"Malam Tante. Aku Dara!" Dara mencium punggung tangan Rifkana, Dara terlihat pandai mengambil hati Rifkana. Tak heran Rifkana tersenyum sopan melihat calon menantunya itu.


"Tapi Tan.. " Belum sempat Dara menolak mulutnya sudah mendarat tangan sedikit kasar membuat Dara kaget dan menggingitnya.


"Ahkk!" Ringis Raka memegang tangan jelas terasa sakit.


Rifkana yang melihat sikap mereka dibuat menggeleng, sama sama seperti anak kecil.


"Hmm, Kak!" Kiki ikut duduk di hadapan Raka.


Kiki menatap geli dengan tingkah Raka dan Dara.


"Ayo sekarang kita makan ya!" Ajakan Rifkana memecah lamunan Dara dan Raka yang saling menatap.


"Dara kamu kerja dimana Sayang? " Rifkana membuka pembicaraan.


"Dara ngak kerja Tan, Dara masih kuliah!" Saut Dara sopan.


"Masih kecil ya, umur berapa Sayang?" Lanjut Rifkana.


"Baru jalan 19 Tante."

__ADS_1


"Wah beda dikit ya sama Raka. Sekarang Raka umur nya jalan 21!"


"What 21, pantesan aja wajahnya masih segar." Batin Dara


"Dara yakin mau nikah cepat sama Raka?" Lanjut Rifkana membuat Dara tersedak.


"Pelan pelan Sayang!" Raka menyodorkan minumannya kehadapan Dara.


"Sayang pala lo peyang." Batin Dara mengejek tingkah Raka yang sok manis didepan mamanya.


"Hm, gimana Sayang kamu yakin mau nikah sama Raka?" Marina memecah lamunan Dara.


"Ahh iya Tan!" Ceplos Dara entah bagaimana bisa ucapan itu keluar dari mulutnya.


Raka tersenyum licik melihat Dara bersikap baik pada mama. Raka semakin yakin semakin cepat akan semakin baik.


"Mulai sekarang panggil Mama aja ya Sayang, kan bentar lagi juga mau nikah kan!" Rifkana memegang lembut tangan Dara. Dara hanya bisa mengaguk pasrah.


"Yaudah Mama tinggal dulu ya, Mama mau kerumah sebelah!" Rifkana pamit berlalu meninggalkan makan.


"Rumah sebelah?? " Tanya Dara menatap Raka yang masih asik memainkan handphonenya. Dan Kiki yang masih fokus dengan makanan di depannya.


Sedaritadi Kiki hanya fokus mendengar pembicaraan Raka dan Rifkana. Lagi pula Kiki ngak punya hak untuk berpendapat.


"Iya!" Saut jutek Raka, sikap keras Raka mulai terlihat.


Akhirnya mereka selesai makan, dan Dara yang masih kesel sama Raka memilih duduk diluar sambil chatting sama teman temanya.


Dara kesel, ia bolos kuliah untuk pertama kalinya karena ulah Raka. Dara tersenyum senyum sendiri melihat chattingan dari teman temannya. Sampai ia tidak sadar malam mulai larut, Dara bergegas masuk kerumah dan menuju kamar.


Ceklek ...


Raka sadar bahwa ada seseorang yang memasuki kamarnya. Ia masih saja pura pura tidur memejamkan matanya.


"Ahh ngapain dia disini?"


"Trus aku tidur dimana?" Dara celingak celinguk melihat sisi kamar yang dapat ia tidurin.


Bersambung...


#author: desi_hw12

__ADS_1


__ADS_2