Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Satu ranjang


__ADS_3

"Eh Kak Raka! Sejak kapan?" Dara merubah posisinya yang semula membelakangi pintu.


"Baru," balas Raka singkat padat dan jelas.


"Nih, dari Mama!" Raka menyodorkan sebuket tas yang sedang bergelantungan di tangan kirinya.


"Terimakasih Kak!" Balas Dara sedikit senyum.


"Hm." Ketus Raka.


"Kak, terimakasih." Ucapan Dara membuat Raka melongok kearah Dara.


Raka mengangkat sebelah alisnya, ia bingung dengan sikap Dara yang tiba-tiba serasa akrab.


"Ada angin apa? Terimakasih buat apa?" Tanya Raka penuh selidik menatap Dara.


"Ngak jadi! Udah sana gua mau tidur! Jangan diajak bicara!" Dara kembali mengubah posisi tidurnya membelakangi Raka yang sedang duduk di sofa sebelah ranjang Dara.


"Ya!" Ketus Raka.


Flashback


"Hallo Ka, lagi dimana?" Suara wanita di balik telpon.


"Di jalan, mau pulang Ma!" Balas Raka memasang handset di telinganya.


"Nanti pulang ambil tas di kamar Mama ya! Bawain ke rumah sakit. Mama titip buat Dara!"


"Mama lagi di rumah sebelah, besok Mama mampir kerumah sakit." Lanjut Rifkana.


"Tapi Ma, aku----" Belum selesai Raka bicara sambungan telepon sudah dahulu terputus.


"Ma!" Nada Raka sedikit teriak, sembari melihat layar HP yang mulai gelap.


"Ahkk, kesel gua!!" Teriak Raka melanjutkan perjalanannya menyusuri jalan yang cukup sepi itu.


Tidak butuh waktu lama Raka mendarat di rumah sakit dengan selamat membawa sebuah tas yang entah apa isinya cuma Rifkana yang tahu.


"Raka!!!" Wanita cantik, wajah dipenuhi perban mendekati Raka yang sedang berada di lorong menuju kamar Dara.


"Apa?" Balas Raka nada ketus, tidak suka dengan keberadaan Kesya.


"Bawa apa? Ini buat aku ya Sayang?" Kesya menyambar tas yang berada di tangan Raka.

__ADS_1


"Apaan, ngak! Ini buat Dara dari Mama!" Raka kembali mengambil alih tas yang hampir saja diobrak-abrik Kesya.


"Dara! Mana?" Saut Kesya menatap kecewa Raka. Kesya melihat kanan kiri setiap sudut rumah sakit ia tidak melihat keberadaan Dara.


"Udah ya, minggir!" Raka sengaja menabrak kasar tubuh Kesya yang berada di hadapannya.


"Ahh, sakit!" Keluh Kesya jatuh tepat diatas bangku tunggu rumah sakit.


"Awas kalian!" Kesya menatap nanar tubuh Raka yang semakin menghilang dari jangkauan matanya.


Flashback berakhir


Raka menghempaskan tubuhnya, mengambil handphone dari saku celana dan memainkannya. Entah sampai kapan keheningan berkuasa diantara mereka. Dara setia dengan lamunan ngawurnya. Sesekali mengubah posisi nyaman. Terkadang matanya mentap Raka yang sedang sibuk dengan handphonenya.


"Kak, Dara minta maaf!" Batin Dara mulai membuka matanya. Ia mulai sadar Raka begitu perhatian padanya.


"Belum tidur?" Raka membuka bicara. Sesekali ia melihat Dara menatapnya walaupun hanya sekilas.


"Belum, " saut Dara kembali menatap Raka.


"Kenapa, ngak nyaman ya ada gua di sini?" Raka berdiri bermaksud untuk meninggalkan ruangan Dara.


"Yaudah tidur aja, gua nunggu di luar!" Raka menggapai gagang pintu dengan tangan kanannya.


"Kakak di sini aja, aku mau ngomong!" Nada bicara Dara penuh permohonan.


"Hmm, ini anak curut satu mau ngomong apa ya! Penasaran dah." Gumam Raka


"Besok aja ya, gua tunggu diluar aja. Selamat malam!" Gengsi mengalahkan rasa penasaran Raka. Walaupun segudang pertanyaan bermain di pikirannya, tetapi dikalahkan oleh kegengsian yang tidak berguna.


"Dih, sok jual mahal lu Bang!" Batin Dara kesel.


Pagi


"Uwahhhh." Perlahan Dara membuka matanya.


"Wah, ini Om mulai kurang ajar!" Dara dibuat melongo dengan kehadiran Raka yang tertidur di sampingnya. Satu ranjang rumah sakit cukuplah untuk tubuh mungil Dara dan Raka.


Brukk


"Aihh gila lu ya!" Satu tendangan cukup keras mendarat di tubuh Raka. Membuat Raka merasakan kesakitan.


"Lu yang gila! Beraninya meluk gua lu!" Bentak keras Dara.

__ADS_1


"Meluk? Kapan ngawur aja!" Saut Raka mengelak.


"Jijik gua sama lu, sembarangan aja!" Dara mencoba berdiri dari tidurnya.


"Minggir!" Dara berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Raka yang bingung.


"Dasar muna!" Gumam Dara.


"Dasar cewe ngak jelas!" Batin Raka memperhatikan pergerakan Dara menuju kamar mandi.


Beberapa saat Raka keluar dengan wajah sudah segar, hanya sedikit jelek dengan luka biru disisi bibirnya.


"Om, boleh nanya ngak?" Dara mendekati Raka yang duduk santai di sofa.


"Apa?" Jutek Raka.


"Anu Om, ada bawa ngak?" Dara bertanya ragu takut diejek Raka.


"Anu apa? Ngak jelas!" Balas Raka


"Hmm, itu Om. Anu itu?" Masih aja Dara kurang jelas menjawabnya.


"Bisa benar ngak bicaranya!" Bentak Raka kesal.


"Om bawa pembalut ngak?" Akhirnya Dara berani bertanya walaupun malunya luarbiasa.


"Haah, ngak ada!" Balas Raka cuek.


"Beliin ya Om, please!!" Dara kembali menjatuhkan harga-dirinya.


"Ngak ada, ngak enak aja!" Bantah Raka menolak.


"Om, please!" Dara menutup dua belah tangannya menjadi satu dihadapan Raka.


"Beli sendiri sana! Enak aja." Balas Raka kesal.


"Om, please! Janji kita akan akur! Ucapan Dara berhasil membuat Raka memutar otak.


**Bersambung...


Yeaya tulisan recehan kembali hadir 😊😊


Minal 'aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin semua🙏🙏🙏 Jaga kesehatan ya😊lov lov dah buat semua😘😘❤💞

__ADS_1


#Author: Desi_hw12**


__ADS_2