Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Ancaman Aditya


__ADS_3

Terlihat beberapa mobil kepolisian sedang berkejar-kejaran dengan mini bus merah itu.


Perlahan, tetapi pasti tim petugas kepolisian mulai memepet badan minibus tersebut.


Diduga pemilik minibus tersebut adalah geng Mafia terbesar yang selama ini belum bisa di taklukkan kepolisian.


"Hallo, Pa! Misi kita ketauan, aku harus bagaimana sekarang?" Ucapnya panik, di tancapnya gas mobil pribadinya itu menghindari kejaran Polisi.


"Ahh, sial! Ada apa dengan kalian? Kenapa bisa ketauan?" Suara keras di balik telpon, membuat gadis cantik itu semakin panik dan kawatir akan keselamatannya.


"Pa, aku menyerah," lirihnya memutuskan sambungan telepon, di arahkannya mobil mini bus merah itu melawan arah pada kepolisian.


Brukk


Tabrakan keras antar mobil tidak dapat di hindarkan lagi, satu per satu mobil itu menghasilkan kobaran api besar.


"Untung barang buktinya sudah hangus terbakar!" Senyum sumringah terpancar dari wajah gadis itu.


"Hei, kau! Kesini!" Tegas Kepala Kepolisian.


"Ahh, iya maaf Pak! Saya kurang hati-hati dalam berkendara," menundukkan tubuhnya seakan ada penyesalan mendalam.


"Apa maksudmu, Nyonya Mafia? Bukannya kau sengaja!" Lagi dan lagi dikeluarkannya suara bentakan keras dari lelaki paruh baya itu.


"Apa maksud kalian? Aku sudah minta maaf! Aku juga terluka!" Tambahnya ikut membentak polisi yang sedang bertugas itu.


"Aduh, sa….sakit…." Ringisnya memegang kepala, sebelum kesadarannya bukan miliknya lagi. Dunia gelap mulai menghampiri, hanya kegelapan yang dapat ia lihat.

__ADS_1


"Hati-hati! Bisa saja kita lagi di kelabui!" Geramnya melihat gadis kecil itu ambruk di hadapannya.


"Siap, Komandan!" Perlahan, di angkatnya tubuh gadis cantik itu menuju ambulans.


Orang-orang mulai menghampiri, tim polantas mulai berdatangan. Tidak ketinggalan petugas kebakaran mulai bisa menjinakkan api.


Gadis cantik itu perlahan membuka mata, ia perhatikan di sekitar tidak ada orang.


"Aku masih dalam pengawasan, lebih baik aku melanjutkan tidurku!" Gumamnya mulai memutar otak kembali. Gadis yang terlihat polos, ternyata lebih licik dari se ekor hewan melata.


"Lapor, Ndan! Wanita itu belum juga sadarkan diri, apa tidak kita bawa ke rumah sakit?" Saranya.


"Lakukan yang terbaik! Yang terpenting jangan sampai dia lolos kembali!" Sautnya tegas melanjutkan kegiatannya memeriksa bangkai mobil yang masih terbengkalai di sisi trotoar itu.


"Siap, Ndan!" Sautnya menghormati perintah Komandan Raka.


"Aku ada di mana, kenapa bau obat?" Mengucek pelan kedua bola mata kecilnya. Di tatapnya satu persatu sisi ruangan tersebut.


"Siapa? Apa polisi?" Kembali ia menutup mata, memulai permainannya kembali.


"Gadis yang malang!" Tersenyum tipis menatap gadis cantik yang sedang terbaring.


"Kelihatannya cantik juga," mengusap manja pipi gadis tersebut.


"Lepas!" Refleks menapis tangan kekar itu dari pipinya.


"Ahkk, kau sudah sadar rupanya?" Ringisnya memegang tangannya yang terasa ngilu.

__ADS_1


"Kau siapa? Di mana aku?" Tanyanya mencoba mencari tahu situasi saat ini.


"Kau polisi? Atau dokter?" Kembali ia menyodorkan pertanyaan yang sedang bermain di pikirannya.


"Aku yang di tugaskan merawatmu, sekaligus memantau tingkah lakumu!" Sautnya memasang muka datar.


"Kenapa? Apa urusan mu dengan ku?" Tanya penuh menyelidik pada pria gagah yang sedang berdiri di hadapannya.


"Kau, sungguh menyediakan!" Ketusnya kembali membalas senyum tipis dari sudut bibirnya.


"Apa maksud mu? Bajing*n!" Teriakknya sembari mencoba melepaskan tangannya pada sosok pria di hadapannya.


"Cihh, jangan pernah menyentuhku!" Menarik kembali tangannya yang di tahan dokter muda tersebut.


"Terserah!" Balasnya, dilangkahkan kakinya meninggalkan ruang rawat gadis cantik tersebut.


"Ku mohon, tolong jauhkan aku dari pengawasan polisi," rengeknya meminta bantuan. Tidak tanggung-tanggu ia turun dari ranjang dan bersujud di hadapan pria tampan tersebut.


"Bagaimana dengannya? Sudah bisa Deddy temui sekarang?" Baru saja memendam dalam kekesalannya pada


"Dia masih dalam proses pemulihan dari syoknya, untuk saat ini jangan dulu Deddy," jawabnya beralasan.


"Ya sudah, Deddy mohon agar kamu bisa memudahkan pekerjaan Deddy!" Ucapnya tegas, dan berlalu meninggalkan anak sulungnha itu.


"Tentu," sautnya semangat sebelum tubuh Raka menghilang dari pelupuk matanya.


"Maafkan aku , Deddy. Untuk saat ini aku berbohong," gumamnya kecewa akan sikapnya sendiri.

__ADS_1


"Gadis sialan! Kenapa aku mau menurutinya!" Mengacak rambutnya marah.


"Ada apa denganku?" Mencoba berpikir.


__ADS_2