Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Gara-gara gawai


__ADS_3

Ngamar...


"Woii, lu lihat handphone gua ngak?" Teriak tegas Raka tiba-tiba mengagetkan Dara yang lagi siaga dikasur.


"Aaapa ngak Kak!" Saut Dara terbata-bata.


"Ketinggalan di kamar mandi mungkin Kak," Dara mencoba mengalihkan perhatian Raka.


Raka bergegas menuju kamar mandi, ia pikir Dara benar juga bisa jadi handphone ketinggalan pas mandi.


"Huff, aman!" Dara mengusap pelan dadanya. Dara langsung berhamburan turun dari ranjang dan meletakkan kembali handphone Raka dilaci meja seperti semula.


Flashback


"Wahh. Ada handphone nganggur nih lumayan!" Batin Dara tersenyum, ia mengambil handphone yang ditemukan dilaci tempat jam tangan Raka bersembunyi.


Dara mencoba menghidupkan layar handphone Raka, hasilnya tidak seperti yang Dara inginkan.


"Heleh, handphone begini aja pake privasi! Apaan nih sandinya?" Setiap kali Dara mencoba memasukkan mulai dari tanggal lahir Raka, sampai ia mencari tahu tanggal lahir Kesya dimedsos masih salah. Dara habis pikir, ia bingung dengan sandi handphone Raka yang belum bisa ia taklukkan.


"Coba nama aku aja kali ya?"


"Ngak ada salahnya aku coba dulu!" Dara menemukan jalan keluarnya. Benar saja sandi handphone Raka akhirnya bisa ditaklukkan Dara. Bagaimana tidak Raka menggunakan nama Dara disambung nama Raka sebagai sandinya. Sedikit alay lah ya.


"Idihh, makai nama orang ngak ijin dulu. Makin jijik aja!"


"Yaudah lah, mulai dari galeri kali ya?" Dara mengotak-atik galeri Raka.


Mata Dara dibuat mencolok melihat foto seseorang yang lagi tidur pulas, pose yang begitu menyebalkan buat Dara.


"Gila, bagaimana bisa aku kecolongan sama Om-om?" Dara memutar otaknya, sembari mengingat kapan ia menggunakan pakaian tersebut dan tidur diranjang Raka.

__ADS_1


Akhirnya Dara mengingatnya, ia menggunakan pakaian tersebut disaat pertama kalinya Dara dipaksa menginap dirumah Raka. Dara juga mengingatnya, diruang yang sama Raka pernah mengecup jijik keningnya.


"Hiss, jauh-jauh jijik mikir!" Dara berbicara sendiri sembari melanjutkan pencariannya dihandphone Raka. Entah apa tujuannya.


"Wooww gila, galeri nya dipenuhi foto Kesya!" Dara mengusap pelan layar handphone Raka sembari menatap jijik satu persatu foto yang ada disana.


Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat, detak jantung Dara dibuat meluncur kencang dengan munculnya makhluk aneh yang bernama Raka dibalik pintu kamar.


Flashback berakhir


Raka mencari dia setiap sudut kamar mandi, belum juga ia temukan handphone. Raka memilih keluar dan mengingat kembali dimana terakhir kali ia memegang handphone.


"Yaps, laci gua ingat dilaci." Akhirnya Raka mengingatnya, sebelum ia turun untuk makan terakhir kali ia menarok handphone di laci kamarnya.


"Gimana, ketemu Kak?" Tanya Dara melihat Raka raut wajah kesel bercampur kebingungan.


Ucapan Dara tak dihiraukan Raka, Raka melanjutkan langkahnya menuju laci samping ranjangnya.


"Tunggu dulu, kenapa handphone gua panas?" Batin Raka. Mengeluarkan kembali handphone yang sudah ada di kantong celananya.


Raka merasa curiga, ia menatap penuh selidik arah Dara. Dara yang tidak mau membuat curiga langsung pergi menjauh dari Raka.


"Woii, sini lu!" Panggil Raka nada kejam.


"Iiya Kak, kenapa?" Saut Dara gugup tidak berani menatap mata Raka. Dara melangkahkan kakinya mendekati Raka dengan mata menunduk.


"Barusan lu habis ngapain?" Raka mendekat dan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Dara. Tak cukup jauh jarak mereka sekarang. Jantung Dara berdetak kencang, ia merasa gugup mau jawab apa.


Raka seorang anggota polisi pasti dia udah biasa menginterogasi orang, hanya hal kecil untuk Raka membuat Dara jujur.


"Apa sih, Kak? Dara barusan habis..." Belum sempat Dara menyelesaikan bicaranya, jantung Dara dibuat copot dengan tarikan kasar Raka dan mendorongnya keluar kamar.

__ADS_1


"Sana, pergi! Gua ngak mau liat lu disini!" Bentak kasar Raka menutup kembali pintu kamarnya.


Dara terdiam sejenak memutar otak, Dara belum puas untuk hari ini. Dara masih ingin balas dendam dengan Raka. Tapi Dara juga bingung harus berbuat apa-apa sekarang. Dara terlanjur diusir sama Raka dari kamarnya.


"Sayang, lagi apa? Ayo Mama bantu bangun!" Rifkna melangkahkan kakinya mendekati Dara yang masih stay dilantai.


"Ada apa Sayang?" Lanjut Rifkana membantu Dara berdiri.


"Hiks hiks hiks."


"Ma, Kak Raka usir aku. Aku pulang sekarang ya Ma?" Dara kembali angkat bicara dan mencoba kembali mengeluarkan jurus andalannya.


Air mata Dara tak henti menetes, Rifkana juga tidak tega melihatnya. Seketika Rifkana menuntun Dara menuju kamarnya. Rifkana menenangkan Dara dan membawa Dara ke pelukannya.


"Sok Sayang, cerita sama Mama! Raka berbuat apa-apa lagi? Apa Kesya kembali lagi?" Tak henti-hentinya Rifkana melontarkan pertanyaan pada Dara. Belum sempat Dara menjawab satu pertanyaan, sudah keluar pertanyaan lain dari mulut Rifkana.


"Atau.." Ucapan Rifkana terpotong, Dara angkat bicara.


Dara menceritakan hal yang sedikit hiperbola dari situasi yang ia alami dikamar Raka.


Dara menambahkan banyak hal yang mengada-ngada pada Rifkana. Tak ada rasa curiga terlihat di mata Rifkana. Hanya rasa kasihan dan kekecewaan di matanya.


"Ma?" Dara membuka lamunan Rifkana.


"Iya Sayang, maaf Mama atas nama Raka minta maaf sama Dara! Mama akan coba bicara baik-baik sama Raka besok. Dara yang sabar ya!" Mengusap pelan airmatanya yang mulai meluncurkan diri.


"Untuk malam ini, Dara tidur dikamar tamu ya! Disebelah kamar Raka." Lanjut Rifkana dibalas anggukan oleh Dara.


Next.....


#Author: Desi_hw12

__ADS_1


__ADS_2