
Raka hanya tersenyum lega, melihat sikap istrinya yang cemburu.
"Dia calon Suplayer barang terbesar di mol Papa Sayang!" Mencubit gemas pipi istrinya itu.
"Oh," balas Dara cuek.
"Cuma oh doang? Yaudah!" Kesal Raka memasuki kembali rumahnya.
"Maaf!" Dara angkat bicara, sontak telinga Dara terbuka lebar mendengar ucapan istrinya itu.
"Hmm, its okay!" Balas senyum manis Raka melanjutkan langkanya mengikuti jalan utama.
Dara tersenyum lega menatap satu persatu langkah suaminya itu sebelum ditelan pintu
"Jangan diulangin!" Suara srak basah terdengar dari dalam rumah.
"Iya!" Balas istri polisi muda itu.
Mol
"Kita mau ngapain kesini Kak? Lagi ramai nih bikin sesak." Dara membuka pembicaraan sembari celingak celinguk melihat kondisi sekitar.
"Ya kali kita mau berenang di sini! Kamu tau kan gunanya mol buat apa?" Menatap sebelah mata, kerutan kening Raka membuat Dara tersenyum malu.
"Iya tau, mol kan buat belanja!" Balas Dara.
"Salah!" Saut Raka.
"Salah apanya? Mol kan buat belanja, anak TK pun juga mengetahuinya!" Jelas Dara panjang kali lebar.
"Ya itu kan buat orang lain, kalau buat saya mah mol buat kerja bukan belanja!" Balas Raka tersenyum menatap raut wajah Dara yang kesal.
"Terserah!" Jutek Dara.
Pasangan suami istri itu memasuki mol dengan gandengan tangan. Jelas terdengar bisikan-bisikan suara gaib di telinga mereka.
Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, tidak lepas dari pandangan para karyawannya. Mereka menunduk hormat atas kedatangan Pemilik Mol tersebut.
"Pagi Pa...." Belum selesai menyapa mulutnya sudah terdahulu tertutup rapat melihat kehadiran Raka bersama istrinya itu.
__ADS_1
"Pagi!" Balas Raka memberikan senyumannya pada wanita itu.
"Aihh sakit!" Raka tergerak kaget merasakan sakit dari pinggangnya yang tiba-tiba dicubit.
"Jangan jelalatan!" Tatapan cemburu jelas terlihat dari raut wajah istri polisi muda itu.
"Siap Buk Bos!" Tanda hormat tidak malu Raka perlihatkan di depan keramaian.
"Ayo!" Menarik lembut tangan istrinya itu meninggalkan keramaian.
"Yaudah, aku mau urus kerjaan dulu ya! Kamu tunggu di sini,kalau ngak jalan-jalan aja. Tapi jangan jauh-jauh!" Perintah Raka di iyakan oleh Istrinya itu.
"Permisi Pak, ini berkas yang Bapak minta!" Seorang perempuan seksi tidak kalah cantik dari Dara menyodorkan setumpukan dokumen yang ia bawa.
"Terimakasih Say!"
"Sama-sama Pak, saya permisi!" Meninggalkan ruangan itu.
Dara melongo mendengar ucapan terimakasih Raka yang dianggap nya tidak pantas seorang atasan memanggil karyawan dengan kata "Say?"
"Say, wah panggilan yang bagus!" Menepuk bahu suaminya itu sambil tertawa lebar.
"Kenapa cemburu lagi nih?" Pertanyaan yang kesekian kalinya terlintas di benak Raka.
"Itu tadi karyawan ku Sayla, semua orang manggil dia juga pake say bukan aku aja!" Jelas Raka.
"Akhir-akhir ini sepertinya kamu cemburu terus, apa yang sudah terjadi sehingga membuat kami berubah seperti ini?" Sedikit menggoda istrinya itu.
"Jangan-jangan kamu ham," belum juga selesai Raka bicara, terlebih dahulu sepatu Dara mendarat di kepalanya.
"Ngak mungkin lah, sembarangan aja!" Kesal Dara.
"Kenapa ngak mungkin, bisa aja kan!" Saut Raka tersenyum ejek pada istrinya itu.
"Ya ngak, kan kita belum itu!" Balas Dara polos.
"Itu apa? Aku rasa kita sudah melakukannya!" Lagi-lagi ucapan Raka membuat tubuh Dara merinding.
"Kapan? Ngak!" Saut Dara melempar kembali sepatunya yang sebelah.
__ADS_1
"Sekarang juga boleh!" Lagi-lagi tawa Raka pecah melihat ekpresi istrinya yang cantik itu.
"Ogah, sana ngomong sama tembok! Aku mau shoping!"
"By." Lanjut Dara meninggalkan ruangan Raka.
"Emosi mulu bawaannya, jangan-jangan Dara benar hamil lagi!"
"Ahh, ngak mungkin! Ngawur aja kamu Ka!" Mengusap wajahnya, lamunannya pun berakhir dengan bermain bersama tumpukan dokumen di hadapannya.
"Mau cari apa Mbak, boleh diliat-liat dulu!" Penjaga butik menawarkan Dara.
"Iya, saya pilih dulu ya!" Balas Dara memasuki toko tersebut.
Hampir satu jam Dara memilih dan memilih baju yang berada ditoko tersebut. Akhirnya ia menemukan 5 pasang baju yang ia sukai.
"Mbak saya mau ini semua dibungkus ya!" Perintah Dara.
"Jumlahnya 2 juta Mbak. Mau bayar kes atau pakai debit?" Tanya kasir cewe.
"Ngak gratis?" Tanya Dara menarik paperback isi baju itu.
"Eh Mbak, kalau ngak punya uang jangan kesini!" Ucap kasir tersebut merampas kembali paperback di tangan Dara. Setiap sudut mata tidak lepas dari pandangan Dara.
"Auhh!" Ringis Dara mencoba kembali berdiri.
"Sayang, ada apa? Ayo berdiri!" Pria gagah itu membantu istrinya berdiri dengan gaya cool nya.
"Ini ada apa? Siapa yang berani berbuat kasar pada istri saya?" Tanya Raka lantang. Menatap satu-persatu wajah orang yang berada di toko tersebut.
"Hiks hiks Kak udah! Aku mau pulang," tangis Dara malu diperlakukan seperti seorang pengemis oleh penjaga tokonya.
Dara memilih menembus orang banyak dan meninggalkan Mol tersebut.
"Kau ku pecat, jangan pernah liatin wajah kau di depan mata ku lagi!" Tegas Raka berlari mengikuti langkah Dara.
"Udah jangan nangis lagi, aku ngak bisa liat kamu nangis gini! Aku minta maaf!" Merekatkan tubuhnha dan memeluk hangat istrinya itu.
"Mungkin ini salah aku, aku belum bilang sama semua orang kalau aku sudah menikah! Aku minta maaf!" Jelas Raka menenangkan Dara.
__ADS_1
**Bersambung..
#Author: Desi_hw12**