Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Sosok wanita


__ADS_3

Jejeran ruangan yang mana paling ditakutkan orang-orang tersebut, satu persatu suster pembantu keluar. Dengan sigapnya Aditya menghadang salah dari seorang, Entah apa yang sedang dipikirkan pemuda tampan tersebut, wajahnya yang begitu penuh kekhawatiran. Walaupun gadis yang sedang terbaring lemah saat itu tidak ia kenali sama sekali. Entah dari mana asalnya, apakah dia orang baik? Rasa penasaran Aditya pada sosok gadis itu sangat tinggi.


"Dok, bagaimana?" Ucapnya angkat bicara.


"Dok, Sus jawab!" Tambahnya memegang pundak pria paruh baya di depannya itu.


"Kami sudah berusaha sebaik mungkin, namun…" Menghentikan ucapannya. Gelengan kepala mengisyaratkan yang tidak baik dipikirkan.


"Namun apa dok?" Tanyanya dengan tegas, pandangan matanya penuh selidik.


"Dok,jawab?" Nada bicaranya meninggi.


"Pasien mengalami Amnesia Retrogade, yang mana pasien tidak dapat mengingat kejadian masalalu, sebelum kejadian kecelakaan menimpanya." Ucap pria tersebut menjelaskannya pada Aditya.


Rasa terkanan jelas terlihat dari raut wajah pemuda tampan tersebut. Rasa bakal cambukan tajam berhasil menerobos ulung hatinya


"Kenapa bisa?" Bentaknya lagi, rasa penasaran di benaknya, mendorong keras kepalanya keluar.

__ADS_1


"Mungkin semua ini terjadi karena pasien terlambat di tangani, kami mohon maaf tidak bisa berbuat apa-apa." Ucapnya penuh penekanan sebelum berlalu dan meninggalkan pria tampan tersebut.


"Ya, Tuhan. Kenapa rasanya aku ingin menangis mendengar ucapan dokter itu? Aku juga belum mengenal sepenuhnya gadis belia itu." Batinnya. Di ucapnya dengan cepat cairan bening yang mulai keluar dari pelupuk mata yang sipit itu


Menangis bukan berarti cowok lemah, karena dengan menagis akan menunjukkan berapa besar ketulusan yang dimiliki sang cowok. Begitulah pandangan yang jelas terlihat dari gerak-gerik Aditya.


"Kamu siapa? Bagaimana aku merasa mengenal dekat dirimu?" Mencoba mengajak bicara gadis di hadapannya.


Tidak ada respon yang ditunjukkan gais itu, matanya tetap setia berada di alam bawah sadarnya.


"Cepat sadar, pasti keluarga mu mencarimu!" Ucapnya tersenyum memegang erat tangan kecil remaja cantik itu.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik!" Balasnya.


____


Hari semakin larut, jam menunjukkan pukul 23.30, rasa dingin mulai menusuk ke tubuh dalam pemuda ganteng itu, diusap kasarnya matanya, berdiri dan keluar dari ruangan berbau obat tersebut.

__ADS_1


Dengan santainya, Aditya berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang di kuasai kesepian itu. Tidak ada lalu lalang pasien lagi, bangku-bangku taman rumah sakit terlihat kosong, tidak satupun mahkluk bernyawa yang terlihat.


"Bagaimana, sudah ada kabar baik? Apa kamu sudah mendapatkan informasi keberadaan mereka?" Tanyanya pada manusia di balik gawai tipis itu.


"Belum bos, akan saya usahakan." Suara dari balik telepon.


"Saya tunggu kabar baik secepatnya!" Titahnya sebelum mematikan sambungan telepon itu. Matanya menusuk tajam ke arah ujung lorong taman tersebut, matanya seakan melihat seseorang dari balik pohon bonsai itu. Wajah pucat dipenuhi darah dimana-mana. Matanya yang sendu menatap ke arah Aditya.


Penampilan yang sangat menyedihkan, baju kumuh dipenuhi bercak darah. Wajah bak teriris sesuatu, terlihat sengaja perempuan itu menghindari pandangan Aditya. Sembari mengusap dadanya yang kaget melihat pria itu di hadapannya. Mungkin saja Aditya tidak menyadari nya karena perempuan itu berdiri tepat di balik pohon yang sedang di pandang tajam oleh pemuda tampan itu.


"Mom, aku rindu. Kalian dimana?" Ringisnya menatap sendu layar telepon genggam yang ia pegang.


Malam semakin larut , bulan mulai menyembunyikan diri sedikit demi sedikit bergeser dari posisi tahta malamnya. Dokter muda tersebut menutup mulutnya tertanda matanya sudah mulai lelah memandang dunia nyata yang penuh rahasia.


"Ad…," belum selesai melanjutkan ucapnya, orang yang akan ia panggil sudah terlebih dahulu berlalu dan meninggalkan posisinya.


"Ya, Tuhan. Beri aku kesempatan!" Tangisnya pecah menatap punggung pemuda tampan yang lama kelamaan semakin menghilang.

__ADS_1


Aditya memutuskan untuk kembali ke ruangan gadis belia cantik itu, matanya menatap sendu keadaannya. Kepala yang di perbal, wajah yang penuh luka robek kan membuat rasa penasaran Aditya meningkat. Bagaimana bisa kecelakaan dapat mengakibatkan robekan-robekan kecil yang membekas hitam di wajah.


Tidak lama kemudian, dokter muda tersebut sudah berlalu ke alam bawah sadarnya, matanya benar-benar tidak dapat lagi di ajak kompromi.


__ADS_2