
"Om, Mama mana?" Gadis cantik itu keluar dari kamar mandi berjalan dengan sempoyongan. Ia melihat setiap sisi ruangan tidak ia temukan wanita paruh baya yang ia cari.
"Pulang!" Saut polisi muda itu dengan sinis. Ia tidak ada niatan memandang wajah Dara yang mulai menghampiri ranjang.
"Oh!" Balas gadis cantik itu sembari menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit.
"Kak," belum sempat Dara mengungkapkan permintaan maafnya. Telpon Raka berdering membuat suasana menjadi rusak.
"Apa? Mama!" Teriak Raka tanpa ia sadari handphonenya jatuh ke lantai.
"Ada apa? Mama kenapa?" Tanya Dara bingung. Gadis cantik itu mendekati posisi Raka.
"Kak, bilang Mama kenapa ?" Lanjut Dara memegang pundak Raka yang tertunduk lemas.
"Kak!"
"Mama kecelakaan dan meninggal," saut Raka lirih. Air mata Raka menetes.
"Ahh, Kakak bercandanya kelewatan!" Balas Dara tidak percaya.
"Hallo?" Dara memungut handphone Raka tepat berada dibawah kakinya.
"Ngak mungkin, ini ngak mungkin!" Dara terjatuh lemas, airmata nya menetes begitu saja.
"Ayo, kita liat Mama Kak!" Dara mencoba berdiri. Namun tenaganya tidak cukup kuat untuk memapah tubuhnya.
"Iya!" Raka mengulurkan tangannya, pria tampan itu membantu Dara berdiri dari lantai.
"Terimakasih Kak!" Satukali lagi ucapan yang sama keluar dari mulut Dara. Dibalas anggukan oleh Raka.
__ADS_1
Ruang IGD
"Mama!" Teriak mereka bersamaan memeluk tubuh wanita paruh baya yang tertidur pulas. Cairan merah kental masih mengaliri keningnya. Sudut bibir mengeluarkan Dara segar.
"Ma, bangun!"
"Ma, jangan pergi!"
"Ma, Dara takut Mama ngak boleh pergi! Dara ngak punya teman Ma!"
"Ma, aku minta maaf!"
"Ma, maaf," ucap Raka lirih.
Suasana yang ngak enak di lihat, tangisan bercampur airmata mengerutui wanita paruh baya yang sudah tidak berdaya itu. Luka hanya airmata yang mengiringi kepergian wanita sholehah itu.
"Ya Allah, aku ikhlas Mama dipanggil! Aku ikhlas ya Allah!" Batin Raka menangis tidak bersuara.
Jenazah Rifkana disemayamkan di rumah duka. Untuk kesekian kalinya Dara kehilangan orang yang ia sayang. Rasa kesedihan mendalam membuat kejiwaan Dara terbawa suasana.
"Bu, bangun Bu!" Teriak Kiki histeris mendapati tubuh Rifkana yang terbaring.
"Kak, apa yang terjadi?" Tanya Kiki menatap arah polisi muda yang sedang menjadi sandaran Dara.
"Kak jawab!" Bentak Kiki meneteskan airmata.
"Mama kecelakaan Ki," lirih Raka mengusap pundak Kiki.
"Udah kita harus ikhlas, mungkin ini teguran untuk kita semua! Mungkin ini cara Allah dalam memperlihatkan rasa sayang-Nya pada kita!" Lanjut Raka berusaha tegar walupun hatinya merasakan perih yang begitu dalam.
__ADS_1
"Benar Ki, Allah murka melihat keluarga kita yang sering melupakan-Nya!" Sambar Dara lirih.
"Iya Kak," balas Kiki pasrah.
Setelah kepergian Rifkana, keluarga Raka menjalani kehidupan seperti biasanya. Walaupun terkadang mereka merasakan hampa kehilangan Rifkana.
Suasana di meja makan yang sangat dirindukan mereka semua. Tidak ada lagi orang yang melarang Raka dan Dara bertengkar, tidak ada lagi yang memberi pencerahan pada Raka sampai mulut berbusa. Tidak adalagi kehangatan keluarga yang seperti dahulunya.
Malam ini Raka sengaja menyisihkan waktunya untuk melihat kondisi Mol yang ia pegang. Membuka laptop, melihat file-file yang dikirim karyawannya.
"Tunggu, kenapa bibir Mama kelihatan luka sobekan benda tajam ya?"
"Bukannya Mama kecelakaan, ngak mungkin ada bekas sobekan pisau!" Gumam Raka memfokuskan kembali matanya.
"Tidak salah lagi," Raka menggeleng tidak percaya atas apa yang ia lihat. Siapa lagi orang yang berniat membuat keluarga hancur.
"Ma, Raka yakin. Raka bisa cari tahu biang masalahnya Ma!" Polisi muda itu mengusap kasar wajahnya.
"Mama yang tenang ya di sana!" Tersenyum lirih.
"Kak, lagi apa?" Istrinya Raka tidak lain adalah Dara. Semenjak kejadian meninggalkan Rifkana, hubungan mereka semakin dekat. Saling mengisi satu sama lain. Walaupun sama-sama sibuk akan tugas masing-masing.
"Ngak, cuma liat file kerjaan aja!" Jawab Raka terbata-bata menutup cepat laptopnya.
"Oh," saut Dara percaya.
"Yaudah Kakak istirahat ya! Udah malam!" Perhatian demi perhatian tidak lagi hal yang memalukan buat Dara. Sekian lama akhirnya rasa dendamnya pada Raka semakin memudar.
**Bersambung....
__ADS_1
Selamat hari raya Idulfitri buat para sahabatku yang merayakan nya🙏🙏
#Author: Desi_hw12**