Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Bertemu lagi


__ADS_3

**Maaf, buat kakak-kakak yang udah menunggu aku, penulis recehan ini😔cukup lama aku tidak up bukan karena aku tidak aktif☺ melainkan aku tidak mood menulis ngak tau kenapa feel nya gk pernah dapet 😭


Semoga ini tidak membuat kekecewaan😘


Happy Reading All 😘**


2 tahun berlalu...


"Ra, gua lulus. Skripsi gua diterima!" Ucap Denis teriak bahagia memeluk tubuh mungil Dara.


"Aihh, sesak gua!" Tolak Dara mendorong tubuh Denis menjauhinya.


"Lu, gimana Ra? Berhasilkan?" Lanjut Denis mengenggam semangat tangan sahabatnya dan juga pujaan hatinya dari kecil.


"Ya begitu deh, gua juga udah ada perusahaan yang nawarin kerjaan. Tapi gua masih bingung terima apa ngak nya?" Balas Dara lemas.


"Wah, wah Kakak ipar hebat! Selamat ya Kak!" Bunyi suara tidak asing di telinga Dara, langkah kakinya mendekati gadis cantik itu.


Dara memyusuri arah suara, satu persatu siap sisi tempat itu ia perhatikan dengan seksama. Namun tidak ditemukan seseorang yang ingin sekali ia temui.


"Thanks Ki! Lu juga hebat." Balas Dara tersipu malu mendengar pujian Kiki.


Dua tahun berlalu, selama itu juga mereka tidak saling berkomunikasi. Menjalani hidup dengan kesendirian tidak begitu sulit untuk pasangan muda itu.


Saat yang di tunggu datang juga, di mana Dara sudah mulai beranjak dewasa. 21 tahun bisa dikatakan cukup dewasa sebagai sukai istri yang mana suaminya berusia 23 tahun.


Sesuai perjanjian, mereka akan bertemu kembali setelah kesuksesan masing-masing di bidangnya.


"Ra, Kiki! Gimana kalau kita makan bersama untuk merayakan kelulusan kita ini?" Ajak Dara yang masih mengumpulkan kesadarannya.

__ADS_1


"Boleh juga, aku setuju!" Saut Kiki semangat.


"Di bayarinkan?" Lanjut Kiki.


"Lu mah, kencang ke gratis aja!" Saut Denis di balas ketawa oleh Kiki.


"Aiss, Kak Ipar! Kenapa nih diem mulu?" Tanyanya membuyarkan lamunan Dara.


"Tenang aja Kak, suamimu baik-baik aja ko!" Canda Kiki seakan tau apa yang sedang bermain di pikiran gadis itu.


"Ngak, ayo berangkat!" Dara angkat bicara, dengan semangat menarik mereka meninggalkan lobi kampus.


"Bentar-bentar yang bayarin lu kan?" Tanya Dara sesampai di depan cafe sederhana , tetapi bergaya internasional itu.


Mungkin besar cafenya sebanding dengan kamar Dara yang ada di rumah Raka sebelum perjanjian malam itu. Kerlap-kerlip lampu sangat membantu bentuk cafe tersebut menjadi terlihat mewah tetapi elegan.


Tidak tunggu lama mendengar jawaban dari Denis. Kiki dan Dara pun memutuskan masuk duluan dan memilih tempat duduk yang terfavorit di cafe tersebut.


"Wah, ada Kakak juga? Kesana yuk Kak!" Titah Kiki menarik tangan gadis cantik itu.


"Jangan! Kitakan mau rayain kelulusan kita! Bukan mau ketemu dia!" Tolak Dara memilih duduk tepat di belakang tempat duduk Raka.


Mata Dara tidak lepas menyusuri gerak-gerik polisi muda itu dengan gawai di tangannya.


"Dia siapa? Sepertinya mereka ada sesuatu!" Batin Dara masih tidak berkedip memperhatikan mereka berdua. Sosok perempuan yang tiba-tiba datang, sepertinya teman dekat Raka. Cipika-cipiki aneh jika hanya teman biasa.


"Jijik, Ki pesan gih! Ngapain juga ikut bengong!" Raut wajah Dara mulai berubah, moodnya tidak seperti tadi yang semangat makan-makan gratis.


"Ahh, iya! Pelayan!" Panggil Kiki. Waiters cantik itu mendekati meja mereka. Satu persatu mereka menunjuk menu yang ingin mereka pesan.

__ADS_1


"Dara, Kiki! Kenapa kalian ninggalin gua!" Teriak Denis sekencang petir dari balik pintu cafe tersebut. Semua pasang mata yang ada di sana fokus memperhatikan mereka. Suara keras Denis berhasil mengambil perhatian satu cafe. Tidak terkecuali Raka yang terkejut mendengar nama yang sedang diteriakan Denis.


"Denis! Dara?" Sontak Raka kaget, matanya memyusuri satu persatu pengunjung yang mulai riyuh di sana. Matanya terhenti di sudut cafe tepatnya keberadaan Dara dan Kiki.


"Dia di sini juga? Masalah lagi nih!" Batin Raka mengubah posisi duduknya mengahadap gadis cantik itu. Seketika matanya saling bertemu, ego pun membuyarkan segalanya. Dara membuang muka seketika ia berdiri dan meninggalkan mereka yang saling memandang bingung.


"Kenapa lagi dia?" Tanya Denis tidak tau keberadaan Raka.


"Tu, ada cem-cemannya!" Ucap Kiki mengisyaratkan matanya menunjuk arah polisi muda itu bersama seorang wanita.


"Ohh, dia lagi!" Batin Denis kesal.


"Habis ngapain Ra? Sini duduk lagi!" Titah Denis menarik tangan Dara untuk duduk di sebelahnya.


"Toilet!" Saut Dara kecil semutpun mungkin tidak mendengarnya.


"Makanannya udah datang nih, ayok makan! Tujuan kita kan untuk senang-senang!" Ajak Denis, akhirnya mereka menyantap satu persatu makanan yang sedaritadi jadi tontonan.


"Belepotan ihh, Dara pelan-pelan!" Denis perlahan mengusap lembut bibir Dara dengan tangan kosongnya. Walaupun di meja tersebut sudah di sediakan tisu spesial untuk pengunjung.


Denis pun tersenyum sumringah melihat ekspresi pria di depan sana, tangannya yang mulai di kepala geram membuat Denis melanjutkan memainkan bibir Dara menggunakan tangan polos nya.


Serr, jantung Dara di buat copot mendapat tatapan tajam dari suaminya di seberang sana. Tubuh Raka mulai tidak terima akan kelakuan Dara di hadapannya.


"Mbak Fani, meetingnya diundur minggu depan! Tiba-tiba aku ada urusan mendadak!" Ucao Raka menjabat tangan Fani yang di balas cipika-cipiki kembali oleh Fani.


Fani adalah rekan kerja Raka di perusahaan barunya. Dua tahun berlalu berhasil membawa Raka mendirikan perusahaan baru di balik pekerjaannya seorang polisi.


"Siap Pak, hati-hati! Balas Fani teriak, senyum merona jelas terlihat dari wajah wanita cantik itu.

__ADS_1


Awal mula mereka merintis usaha bersama, Fani sudah mulai tertarik dengan kepribadian Raka yang terbuka padanya. Mulai dari urusan keluarga sampai perjalanan karirnyapun sudah ia ceritakan pada Fani.


Note; Setelah perjanjian malam itu Dara menghabiskan waktunya sendiri dalam menggapai cita-cita ayahnya. Begitupun dengan Raka!


__ADS_2