
"Ok nikah!" Dua kata berhasil membuat jantung Dara copot.
"Hmm paling ni orang bercanda kali, coba deh aku tes." Batin Dara tidak percaya dengan omongan Raka. Mana mungkin orang setampan dia, polisi lagi mau menikah sama Dara anak kecil masih kuliah lagi.
"Ok!" Tantang Dara tersenyum menatap sinis Raka yang masih santai bawa mobilnya.
"Besok!" Saut Raka lagi lagi berhasil membuat badan Dara kaku tidak ada niat untuk menyangkal.
"Gila, aku salah ngomong." Bisikan kecil Dara menghadap keluar jendela mobil.
Raka yang mendengar hanya tersenyum licik melihat tingkah Dara mulai gelisah dengan jawabannya.
"Hm hm!" Deheman Raka berhasil membuat mata Dara berpaling padanya.
"Kenapa? " Menatap kejam, menaikan sebelah alisnya. Jelas batinnya sedang tertawa.
"Ngak apa apa, anterin gua pulang!" Perintah Dara membuang muka jelas batinnya sedang panik.
"Siap, ibu negara!" Raka pamer ketegasannya didepan Dara.
"Cih, apaan!" Dara tersenyum ngejek Raka.
Akhirnya sampailah didepan rumah kosan kecil, sempit, jelas jauh dari istana Raka yang sangat mewah.
"Ini rumah kamu, eh maksudnya rumah lu?" Mengarut kepala sedikit tidak percaya Dara mah tinggal dirumah sekecil ini. Padahal jauh berbanding terbalik dari kehidupannya yang dulu.
"Ya." Saut jutek Dara berlalu meninggalkan Raka yang masih setia dengan mobilnya.
"Tunggu!"
"Sekarang lu kemas semua barang lu, ikut sama gua!" Perintah Raka tak dihiraukan Dara ia tetap berlalu menjauhi mobil Raka.
"Eh besok gua jemput!" Kalimat terkhir yang Dara dengar sebelum ia memasuki rumahnya.
__ADS_1
"Aduh ngapain lagi sih tu om om, gua kan ngak mau nikah sama om om, apa kata dunia?" Dara bolak balik didepan kamarnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan yang jelas ia sedang mencari jalan keluar untuk menghindari Raka.
"Ok gua tau caranya." Dara tiba-tiba tersenyum licik, ia langsung peking semua bajunya kedalam koper pink kesayangan. Tak lupa ia juga mulai mengemas boneka kesayangannya.
Semalaman Dara tak bisa tidur, ia selalu terngiang-ngiang suara Raka , entah kenapa Raka setiap saat lalu lalang diotaknya.
Pagi ...
Pagi pagi sekali Dara bergegas bersih bersih badan dan melangkah cepat keluar dari kosannya.
Tanpa Dara sadari ada dua pasang mata coklat memandang tajam kearahnya. Wajahnya yang mulai geram melihat sikap Dara yang berniat pergi begitu saja.
sett
"Woii mau kemana lu? Masuk!" Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan Dara. Dara kaget dan langsung mencoba menghindar. Tangan lembut Dara di cengkram keras seseorang tersebut tak lain adalah Raka.
"Ya ampun, ko dia bisa tau?" Batin Dara bertanya.
"Mati aku."
"Mama, papa tolong Dara!" Batin Dara terus mengiceh kecil yang sedikit terdengar oleh Raka.
"Sakit!" Bentak Dara menapis kasar tangan Raka.
"Masuk ngak!" Perintah Raka tak dihiraukan Dara. Raka yang kesel menarik keras tangan Dara dan membantu membawa kopernya menuju mobil.
"Om plis om aku belum siap nikah!" Mata Dara berkaca kaca memohon pada Raka.
"Om! sejak kapan gua nikah sama tante lu?" Tatapan tajam tidak membuat Dara diam, ia terus memberonta melepaskan cekatan tangannya dari Raka.
"Ikut aja bisa ngak!" Bentak keras Raka berhasil membuat Dara meneteskan airmatanya. Dara belum pernah diperlakukan sekasar ini oleh orangtuanya, tapi sekarang ia merasakan dari orang lain yang tergolong bukan siapa siapa.
"Mama, papa Dara takut." Batin Dara menangis, walaupun ia berusaha kuat. Ia ngak mau terlihat lemah dan diinjak injak sama Raka.
__ADS_1
"Turun!" Benar saja Raka membawa Dara ke rumahnya. Rumah mewah, bersih, rapi terlihat memanjakan mata.
Dara yang masih sakit hati diperlakukan keras hanya diam, tak ada niatan untuk mau mengikuti perintah Raka.
"Ayo!" Raka semakin dibuat geram oleh Dara. Raka langsung menarik kasar Dara memasuki rumah mewahnya.
"Kiki!" Panggil kencang Raka melihat seisi rumah kosong.
"Iya kak!" Kiki lari terburu-buru menuju sumber suara.
"Lu bawa Dara kekamar gua, gua ada urusan!" Melemparkan Dara kehadapan Kiki yang masih bingung dengan sikap Raka yang tiba-tiba menjadi sekasar itu.
"Iiya kak!" Menundukkan kepalanya membantu Dara berdiri.
Airmata Dara tidak dapat ditahan lagi, ia merasa diperlakukan seperti budak oleh Raka. Semakin besar rasa benci Dara terhadap polisi, dari dulu Dara selalu diberikan cerita oleh papanya kalau seorang polisi itu hidupnya keras dan kasar. Papa selalu mengingatkan Dara untuk tidak berhubungan dengan polisi.
Tapi sayang papanya kehilangan nyawanya ditangan polisi.
"Ayo kak!" Membantu Dara berdiri dan mengantarkan Dara menuju kamar Raka seperti yang diperintahkan Raka.
Kamar yang sangat indah, besarnya tiga kali lipat dari kosan Dara. Barang barng tersusun Rapi. Foto foto berjajaran didinding. Terlihat semua foto Raka memakai baju kepolisian.
"Silahkan masuk kak!" Mempersilahkan Dara memasuki kamar Raka dan meninggalkannya.
Dara hanya diam, dibalas dengan menutup pintu Raka dengan sekuat tenaga. Dara memperhatikan setiap sisi ruangan kamar Raka. Terlihat pistol bersusun rapi di dinding. Ya itulah ciri khas kamar seorang polisi.
"Akhhh." Dara mengobrak-abrik kamar Raka. Dara masih tidak terima diperlakukan sekejam itu. Di pikiran Dara sekarang bagaimana cara membalas dendam pada Raka.
Mata Dara dibuat terhenti seketika, pajangan foto wanita cantik bersama seorang pria tak lain adalah Raka. Foto yang sangat romantis, pose wanita yang sedang duduk dipelukan Raka.
"Cih, najis. Udah punya cewe masih aja ngawur." Dara melempar foto tersebut dengan gelas berisi air di depannya.
Bersambung....
__ADS_1
#author_desi_hw12