Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Gak dikasih ijin


__ADS_3

Happy Reading All🙃 Jangan lupa jempol nya ya ☺


Tidak terasa cukup lama mereka berbincang hangat, hubungan antara Raka dan Kesya akhirnya menemui jalan keluar. Mungkin ini jalan terbaik untuk mereka.


"Ka, udah main berapa kali?" Ceplos Ardan tertawa lebar.


"Isss, kepo!" Kesal Raka.


"Ngomong-ngomong kalian kenal dimana? Cerita dong!" Permintaan Ardan, tidak ada penolakan dari Raka.


"Gini...." Raka menjelaskan panjang kali lebar kisah pertemuan cintanya bagai ftv saja. Mereka tertawa bersama mendengar cerita Raka yang terasa geli.


"Wah wah, semoga kalian langgeng ya. Kisah perjalanan cinta kalian sangat menarik!" Kembali tawa Ardan terdengar membuat Dara risih. Tanah Dara sadari Kesya menatap tajam arahnha.


"Sepertinya ada yang tidak suka nih dengan pembicaraan kita?" Ucap Kesya menatap raut wajah Dara yang sedaritadi diem.


"Eh, ngak Kak. Ngak apa-apa lanjut aja!" Ceplos Dara merasa disudutkan.


Raka yang menyadari langsung menatap samping arah istrinya itu.


Raka menautkan alisnya keatas, seperti menanyakan sesuatu pada gadis cantik itu.


Dibalas gelengan oleh Dara, mereka berbicara melalui isyarat tubuh hanya mereka yang mengerti. Pada akhirnya mereka saling tersenyum satu sama lain.


"Sepertinya kita dijadikan nyamuk ya sya!" Ucap Ardan membuyarkan lamunan mereka.


"Iya, kita balik duluan gimana?" Saut Kesya menatap jenuh Ardan.


"Eh, jangan. Kalian di sini aja dulu! Masih banyak yang mau aku tanyakan!" Raka buka mulut kembali.


"Lain kali aja ya Bro! Kami masih ada urusan. Maklum persiapan pernikahan." Ucap Ardan menutup pembicaraan.


"Ok, sukses ya untuk acaranya. Kami pasti hadir!" Balas Raka semangat sembari menatap bahagia mereka.


Setelah Ardan dan Kesya berpamitan, akhirnya Kiki juga ikut bicara.


"Kak, besok kami mau ijin ikut acara kampus!" Ucap Kiki hati-hati.


"Kami?" Menatap sinis arah Kiki.

__ADS_1


"Iya, aku sama Kak Dara!" Ucap Kiki mengecil.


"Bener?" Memastikannya Raka kembali menautkan alisnya isyarat iya lagi bertanya.


"Iya, Kak!" Ucap Dara sedikit ragu.


"Yaudah, tunggu-tunggu kenapa kalian bisa barengan?" Tanya Raka penasaran.


"Ya bisa lah Kak, kami satu organisasi di kampus." Saut Kiki diikuti senyuman manisnya.


"Sejak kapan?" Lanjut Raka mencerna ucapan Kiki.


"Ya dari awal kuliah Kak, emang Kakak ngak tau kami satu angkatan?" Ucap Kiki kembali membuat Raka terdiam.


"Sekarang kamu semester berapa Ra? Kamu Ki?" Kembali Raka mengajukan pertanyaannya.


"Mau semester dua!" Ucap mereka serentak membuat raut wajahnya Raka berubah.


"Oh, gitu ya." Raka mengaku kalah. Selama ini ia tau jika istrinya kuliah tapi belum sempat menanyakan ia sudah semester berapa. Begitu pun dengan Kiki Raka hanya rajin membayar uang bulanannya saja tidak pernah tau Kiki semester berapanya.


"Yaudah berangkat aja!" Perintah Raka pasrah.


"Thanks Kak!" Ucap Kiki menepuk bahu Raka dan melanjutkan langkanya kekamar.


"Hm," balas Raka tidak dihiraukan Dara.


Kamar


"Ngak sekalian, bawa baju semuanya!" Ucap Raka kesal melihat istrinya mengemas baju ke koper.


"Ngak Kak, kami di sana cuma seminggu!" Saut Dara dengan senyuman.


"Apa? Seminggu? Emang kalian mau kemana? " Ucap Raka kesal.


"Mau ke negara tetangga Kak, organisasi mereka kan ngadain acara terus kampus aku salah satu undangannya." Balas Dara tenang.


"Ngak boleh, aku ngak ijinin!" Geram Raka.


"Kenapa? Barusan Kakak sendiri kan yang ngomong boleh!" Bentak Dara ikut kesal.

__ADS_1


"Ya iya, tapi kalian kan ngak bilang acaranya lama!" Balas membentak Dara.


"Terus apa salahnya, aku tetap pergi!" Ucap Dara meninggi kan suara nya.


"Bisa nurut ngak sih jadi istri! Pokoknya hanya Kiki yang bakalan pergi besok. Kamu ngak!" Lanjut Raka meninggalkan Dara di kamarnya yang sedang terdiam.


"Terserah!" Ucap Dara setelah melihat punggung suaminya menghilang di balik pintu.


Tiba saatnya makan malam, Raka yang menyadari istrinya tidak kunjung turun mencari keberadaan istrinya itu.


"Ngapain di sini?" Ucap Raka membuyarkan lamunan Dara entah sudah sampai mana tadi.


"Hmm, marah?" Lanjut Raka duduk di sebelah gadis rambut coklat itu.


"Untuk kali ini, aku ngak bakalan ijinin! Aku mohon untuk kamu mengerti!" Lagi-lagi ucapan Raka tidak dianggap oleh istrinya itu.


"Terserah, kalau mau pergi sok silahkan!" Ucap Raka kesal kembali meninggalkan Dara saat amarahnya mulai memuncah.


"Dasar, bisanya ngatur aja. Ngak ngerti apa aku juga butuh refresing!" Batin Dara


"Lagipula aku kan ngak sendiri. Denis kan ada, Kiki juga ada apa salahnya." Gumam kecil Dara sembari berdiri menuju dalam rumah.


"Kak, sini ikut makan!" Teriak Kiki memanggil sepertinya ia belum mengetahui masalah Dara.


"Hmm, thanks Ki. Aku ngak laper lanjut aja!" Balas Dara senyum paksa berlalu menuju kamarnya.


"Idih, ngapain tuh orang segitunya natap aku?" Batin Dara membuang muka dan mengacuhkan tatapan tajam Raka yang jelas mengarah padanya.


"Kak, kenapa?" Ucap Kiki membuat Raka kaget.


"Akhh, ngak. Gua istirahat duluan ya. Lanjut aja makannya!" Bicara Raka nada sedikit kesal entah kebawa suasana.


"Ada apa? Kenapa pada aneh?" Gumam Kiki menerka-nerka.


"Bodo lah, aku juga masih banyak masalah ngapain mikirin masalah orang lain." Membuyarkan lamunannya sendiri.


Hidup ko banyak konflik nya yak😔ngak enak juga sih kalau semangkuk bakso nga dikasih penyedap nya🙃 begitu juga kehidupan ngak ada konflik, ya hidup terasa hambar😑


**Raka: Sok puisi lu thor, gua yang jalanin pusing kadang baik, kadang berantem huff kesel gua

__ADS_1


Author: Terserah lu lah, gua mah ngikut alur aja.


#Author: Desi_hw12**


__ADS_2