
Butiran keringat mulai membasahi tubuh Raka. Perasaan antara bersalah dan kecewa bercampur di kepalanya.
"Raka! Dara mana?" Wanita paruh baya berlari kecil menghampiri Raka.
"Masih ditangani dokter Ma...." Saut Raka lirih.
"Sabar ya Sayang, Mama kan udah bilang Kesya itu tidak baik buat kamu! Mama minta setelah kejadian ini kamu mau menerima Dara lupain Kesya!" Nada penuh tekanan Rifkana menasehati Raka.
Sepertinya Raka sudah menceritakan seluk beluk kejadian yang menimpa Dara, sehingga ia tidak perlu lagi menjelaskan kembali apa yang terjadi pada Dara.
"Iya, Ma.." Saut Raka pelan.
"Aku akan coba Ma, walaupun sulit." Batin Raka.
Beberapa saat seseorang yang menangani Dara keluar, Raka dan Rifkana berdiri dari tempat duduknya mendekati seseorang tersebut yaitu dokter Selly.
"Dok, keadaan Dara gimana Dok? Baik-baik aja kan ----" Tanya Rifkana tergesa-gesa, tanpa memeberikan jeda untuk Dokter Selly menjawabnya.
"Maaf, Bu! Bisa saya jawab sekarang?" Dokter Selly memotong pertanyaan Rifkana yang tiada ujungnya itu.
"Ma, udah!" Raka menenangkan Rifkana. Entah apa yang di pikirkan Rifkana tentang Dara, sampai ia tergesa-gesa gitu.
"Silahkan Dok!" Lanjut Raka mengalihkan pandangan pada Dokter Selly.
"Keadaan pasien baik-baik saja, hanya ada luka ringan disetiap sudut tubuhnya. Seperti terkena pukulan dan irisan dari kuku seseorang!"
"Dan pasien seperti mengalami troma atas kejadian saat ini, untuk saat ini pasien sedang istirahat." Tutur Dokter Selly.
"Kalau saya boleh tau, sebenarnya apa yang terjadi sama pasien?" Lanjut Dokter Selly.
"Dara diculik Dok," saut Raka lirih.
"Yaudah, saya tinggal dulu ya Buk, Pak!" Dokter Selly berlalu meninggalkan Rifkana dan Raka.
Sekilas ibu dan anak itu saling memandang. Akhirnya Rifkana melanjutkan langkahnya memasuki ruangan Dara, diikuti oleh Raka.
"Kakak!" Teriak seseorang tiba-tiba keluar di balik pintu dan memeluk erat Dara.
__ADS_1
"Apa sih Ki, bini gua nih!" Raka menarik kasar tubuh Kiki yang memeluk erat Dara.
"Aa Kaka, kan Kiki kasihan sama Kak Dara! Ini semua salah Kiki, Kak. Kiki ngak jagain Kak Dara!" Raut wajah sendu terlihat jelas.
"Hmm," hanya deheman yang dapat Raka balas, lagian itu kan salah Kesya bukan Kiki.
"Butuh air ya Kak, ini!" Kiki terburu-buru mengambil air disebelah ranjang Dara. Tanpa Kiki sadari Kaki Dara tiba-tiba menghalanginya sehingga air tersebut berhamburan kewajah Raka.
"Kiki!!" Teriak kesal Raka.
"Rasain tuh!" Masih dengan mata tertutup Dara tersenyum lega mendengar rencananya berhasil.
Sebenarnya daritadi Dara udah sadar, namun ia merasa melas membuka mata dan menatap Raka yang di matanya terlihat hina.
"Tunggu-tunggu! Barusan kamu tersandungkan?" Raka menatap tajam arah Dara yang masih tertidur pulas.
"Oii, bangun lu!" Raka memukul keras kaki Dara.
"Aihh, sakit!" Perlahan Dara membuka matanya. Ia menatap satu persatu orang-orang yang berada di ruang itu.
"Hiks hiks Ma, Dara takut! Ada yang mau lecehin Dara Ma...." Ucap Dara tersedu-sedu. Ia kembali mengingat kejadian digudang tua itu.
"Mama ngerti Sayang, maafin Mama ya ngak bisa jagain kamu?" Rifkana memeluk erat Dara, perasaan kecewa terlihat dari wajah Raka.
"Lah, kan gua yang nolongin! Trus ngak ada ucapan terimakasih gitu?" Batin Raka kecewa.
"Kak Raka, terimakasih...." Ucap Dara lirih melirik samping Raka yang masih bergelut dalam renungannya.
"Hm...." Balas Raka senyuman mulai terpancar dari wajahnya.
Tring.. tring..
"Halo, iya Jo! Terimakasih atas bantuannya!" Raka menerima telpon lega. Entah suara siapa diseberang sana hanya Raka dan orang tersebut yang mengetahuinya.
"Siapa, Ka?" Tanya Wanita paruh baya itu penasaran.
"Jojo Ma, rekan kerja aku!" Tutur Raka.
__ADS_1
"Ngapain?" Ceplos Dara juga penasaran.
"Urusan kerja!" Ketus Raka.
"Raka! Ngak boleh gitu!" Rifkana angkat bicara.
"Sabar ya Kak, Kakak jangan takut kan ada Kiki!" Kiki tersenyum lepas memegang tangan Dara yang masih ada selangnya itu.
"Terimakasih Ki!" Balas Dara membalas pegangan tangan Kiki dengan tangan sebelahnya lagi.
"Yaudah, Ma. Raka pamit ya mau lanjut kerja!" Raka berlalu meninggalkan Dara tanpa ada keinginan mau mengucapkan sesuatu sebelum pergi.
"Hati-hati!" Balas Rifkana menatap punggung Raka yang mulai menghilang dibalik pintu.
.......
"Jo, maksud lu apa? Kenapa tersangkanya bukan Kesya dan Papanya! Trus siapa?" Raka menemui Jojo di depan Rumah Sakit tersebut.
"Lagi dalam proses penyelidikan Ka, sepertinya tuduhan lu sama Kesya salah. Kesya juga dirawat disini. Ngak mungkin ia macam-macam!" Tegas Jojo
"Ok, biar gua sendiri yang cari tau. Terimakasih atas bantuan lu dan rekan semua." Raka berlalu meninggalkan Jojo diparkiran Rumah Sakit.
Tanpa Raka sadari sepasang mata lagi mengawasinya dari kejauhan, entah siapa perempuan itu. Yang pasti Raka sendiri tidak mengenalnya.
Raka merasa ada yang memerhatikan, namun ia coba menatap sekeliling tidak ada seorang pun yang ia kenal hanya ada orang asing.
"Perempuan itu kenapa liatin gua gitu amat ya, dia mau apa?" Sekilas Raka menatap perempuan yang tepat berada di sisi belakang mobilnya. Setiap Raka menatapnya perempuan tersebut buang muka dan berjalan perlahan.
"Apa gua kenal dia?" Raka memasuki mobilnya, sekilas kembali Raka melihat gerak-gerik perempuan tersebut melalui kaca spionnya.
Dengan kecepatan diatas rata-rata Raka melajukan mobilnya menelusuri jalan raya yang entah dimana ujungnya.
Bersambung...
Terimakasih buat kakak yang udah mau membaca cerita recehan ini🙏 mohon kritikan nya kak🙏 dan jangan lupa jempolnya dititipkan dulu ya kak🤭🤭, ntar aku kembalikan 😘
#Author:Desi_hw12
__ADS_1