
Malam berlalu, Dara mengiyakan ajakan Rifkana untuk tidur dikamar tamu. Detik demi detik jam berputar perlahan.
Hingga tiba saatnya matahari pagi pun menyapa.
"Uwaahh." Dara membuka mata perlahan, sinar matahari tepat mendarat di keningnya.
Dara bersiap-siap untuk berangkat kuliah, walaupun ia sedang berencana melanjutkan balas dendam, tetapi pendidikan lebih utama dari segalanya.
"Pagi Ma?" Sapa Dara mendekati Rifkana yang tengah duduk dimeja makan.
"Pagi Sayang, umm anak Mama udah cantik aja." Goda Rifkana sembari menatap samping Raka yang lagi asik mengunyah makanan di mulutnya.
"Sayang, pindah gih! Itu tempat Kiki. Duduk disebelah Raka aja Sayang!" Rifkana mengarahkan pandangan ke kursi kosong disebelah Raka.
"Bener tuh Kak, ini tempat Kiki!" Rengek Kiki datang dari kamarnya.
"Awas Kak," Kiki menarik tangan Dara dan secepat angin langsung duduk disana.
"Hmm iya!" Nada sedikit kesel, Dara mengikuti keinginan Rifkana dan duduk disebelah Raka.
Serapan pagi pun berjalan lancar, walaupun tidak banyak pembicaraan diantara mereka dimeja makan.
"Ki, bareng ya ke kampusnya?" Dara buka mulut, menatap Kiki.
"Umm, boleh Kak."
"Tapi Kiki mau mampir ditoko buku bentar Kak! Apa Kakak ngak keberatan?" Lanjut Kiki.
"Ngak apa-apa ko, Ki. Kak Dara juga ada yang mau dicari!" Balas Dara senyum.
Selesai pembicaraan antara Kiki dan Dara. Keheningan mulai menyapa kembali, Raka masih fokus melahap satu persatu makanan yang berada di depannya.Sesekali Raka menatap sinis Dara yang berada di sampingnya. Begitupun Dara yang tak menghiraukan Raka.
"Bu, Kiki berangkat sekarang ya?"
"Iya Ma, Dara juga pamit ya."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Mereka berdua pamit meninggalkan rumah Raka.
"Lah, gua ngak dianggap apa?" Gumam Raka menatap kepergian Dara dan Kiki.
"Hmm, Liat apa Ka?" Rifkana memutar mata, menatap arah yang sedang diperhatikan Raka yaitu pintu keluar.
"Ahh, ngak Ma!" Saut Raka salah tingkah.
"Raka pamit juga ya Ma? Assalamu'alaikum." Raka juga berlalu meninggalkan Rifkana dengan segunung kebingungan terhadap sikap Raka.
"Walaikumsalam. Hati-hati! Pesan terakhir Rifkana menatap punggung Raka yang mulai mengilang dibalik pintu.
Kampus ...
"Thanks Ki," ucap Dara dibalas senyuman Kiki. Dara berlalu dengan cepat meninggalkan parkiran. Tanpa Dara sadari sepasang mata sedang memperhatikan gerak-geriknya.
Yang kemudian seseorang tersebut juga berlalu mengikuti langkah Dara masuk kampus.
"Aaaa!" Teriak Dara sebelum mulutnya dibekap seseorang dari belakang.
Dor..
Suara kebisingan terdengar samar-samar ditelinga Dara.
Perlahan Dara membuka matanya, terlihat seorang pria memakai pakaian polisi lengkap dengan pistol ditangan kanannya.
Terlihat seorang pria dihadapan Dara yang sedang telungkap memegang Dadanya yang bersemburan darah.
"Kak, Raka.." Ringis Dara sebelum matanya tertutup kembali.
Dengan sigap, Raka membuka ikatan yang melekat pada tubuh mulus Dara. Keadaan Dara sangat mengkhawatirkan, sedikit robekan dibaju bagian atas dan sudut mata mengeluarkan Darah segar.
Raka memboyong tubuh Dara menuju mobilnya, Raka menyetir mobil dengan kecepatan diatas rata-rata.
Flashback
__ADS_1
Rumah sakit
"Halo Pa, hiks hiks." Tangis seorang wanita dibalik pintu. Jelas terdengar wanita tersebut lagi berbicara dengan seseorang dibalik telpon.
"Pa, aku mau Papa hancurkan hidup wanita itu! Kesya mohon Pa!" Kesya berbicara dengan Papanya dibalik telfon, jelas Kesya mau berbuat sesuatu yang jahat pada seseorang yang ia benci.
"Dara!" Terlintas dipikiran Raka nama Dara. Bagaimana tidak, semalam sebelum Kesya mengalami kecelakaan ia baru saja bermasalah dengan keluarganya.
"Aku harus ke kampus sekarang!" Gumam Raka sembari menutupi kembali pintu kamar Kesya pelan-pelan.
Awalnya Raka kerumah sakit bermaksud untuk menjenguk Kesya, Raka mendapatkan kabar Kesya kecelakaan dari medsos Kesya yang terlihat ia sedang berada disuatu ruang dikelilingi alat medis.
Namun, hasilnya Raka mendapatkan informasi lain. Raka memutar otak untuk kembali mengurungkan niatnya menemui Kesya.
Setibanya dikampus, Raka mencari setiap sudut kampus ia belum saja menemukan keberadaan Dara. Raka hampir saja menyerah dan kembali pulang.
Beruntungnya Raka melihat keberadaan Dara disebuah mobil black dengan posisi tidur. Raka perlahan mengikuti mobil tersebut, akhirnya mobil tersebut berhenti disebuah gudang gelap, entah sejak kapan gudang itu kosong.
Perlahan, Raka masuk melangkahkan kakinya mengikuti arah pria bertubuh besar itu membawa Dara.
Berhenti disuatu ruang kecil, terlihat cukup terang, dipenuhi debu di mana-mana. Tubuh Dara dijatuhkan disofa tua yang terletak ditengah ruangan tersebut. Terlihat dari sudut mata Raka, wajah Dara di pukul dengan besi kecil, dan terlihat pria bertubuh besar tersebut mau melanjutkan perbuatan kasarnya. Pria tersebut merobek perlahan baju Dara.
Disisi lain, Raka terlihat memperhatikan dari kejauhan, perbuatan terkahir pria tersebut yang mau merobek baju Dara membuat emosi Raka memuncak. Dengan lihai, Raka melompati tubuh pria tersebut dengan kaki melayang dikepala pria itu.
Satu kali tendangan membuat pria tersebut tergeletak kehabisan gairah, emosi Raka yang masih belum stabil mengeluarkan pistol disaku celananya dan menembakkan tepat di dada pria tersebut.
Raka tersenyum lega melihat Dara membuka mata, sesaat Dara kembali menutup matanya.
Raka terlihat sedang menghubungi seseorang yang tak lain adalah rekan kerjanya sesama polisi, Raka berlalu membawa Dara kerumah sakit.
Flashback berakhir...
Next....
Jangan lupa tinggalkan jempol, hati sama vote nya ya kk 🙏 Kritikan dan dukungan kakak semua semangat tersendiri buat author🙏🙏
__ADS_1
#Author: Desi_hw12