Police!! I Hate You

Police!! I Hate You
Hari yang cukup panas


__ADS_3

"Bikin malu aja!" Teriak Raka tidak pandang kondisi. Dalam kafe menjadi riuh, dengan adanya tontonan yang sangat diminati orang-orang.


"Maaf Vey, ini istri gua. Dara!" Nada merendah Raka memegang lembut tangan Veyna.


"Veyna!" Wanita itu mengulurkan tangannya dan ditapis Dara.


Plak


Tamparan mendarat mulus di pipi Veyna.


"Aihh, gila ya kalian! Kalau ada masalah jangan bawa-bawa gua dong! Dasar pasangan aneh!" Nada tinggi Veyna keluar, mulut pedas mulai melonjak panas.


"Kerja sama kita selesai!" Veyna mengemas dokumen yang berada di hadapannya.


"Vey, jangan lah!" Teriak Raka tidak dihiraukan Veyna yang meninggalkan mereka.


"Veyna!" Lanjut Raka tetap tidak dihiraukan Veyna.


"Puas? Bikin malu aja!" Nada keras mulai keluar dari mulut polisi muda itu. Sekian lama mereka berhubungan baik tanpa ada masalah akhirnya rumit dengan hal sepele.


"Hiks hiks maaf!" Dara tertunduk malu meneteskan airmatanya. Tidak kuat menahan malu Dara memilih berlari keluar meninggalkan kafe tersebut.


"Ra, kamu ngak apa-apa?" Tanya Denis mengikuti langkah Dara.


"Hiks hiks gua salah Denis! Gua salah!" Perempuan itu menyenderkan kepalanya di bahu kekar Denis.


"Udah ngak apa-apa Ra! Ini juga bukan salah kamu!" Tegas Denis mengusap airmata Dara menetes sejadi-jadinya.


"Tapi Denis! Kak Raka marahin aku!" Tangisan Dara terisak-isak sembari melepaskan pikiran yang sedang mengebu-ngebu.


"Ya maklum lah Ra, Raka kan orangnya egois!"


"Kamu ngerti kan!" Lanjut Denis meyakinkan Dara. Dibalas anggukan oleh Dara.


"Tangan kamu kenapa? Merah gini?" Denis menanyakan hal yang tidak penting. Padahal ia sendiri tahu Dara habis menampar keras seorang wanita entah apa status bersama suaminya itu


"Tau ahh, kesel gua!" Sepasang mata coklat setia menatap setiap gerak-gerik mereka. Mulai dengan adegan pelukan hingga mengusap lembut pipi Dara.


"Cewe selalu benar!" Kata terakhir Raka sebelum melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kafe itu.


Cklek

__ADS_1


Pekikan pintu seakan menandakan seseorang masuk rumah, wanita cantik bersama pria tampan berjalan menuju ruang tamu tempat keberadaan polisi muda itu.


"Denis mau minum apa?" Tanya wanita itu tampa menghiraukan keberadaan suaminya.


"Ngak usah repot-repot Ra! Aku langsung pulang aja. Sampai ketemu besok."


"Selamat malam!" Lanjut Denis melangkahkan kakinya meninggalkan rumah polisi muda itu.


"Denis, terimakasih!" Ucap Dara menahan tangan Denis sebelum meraih gagang pintu.


"Sama-sama Ra!" Balas Denis membelas rambut Dara penuh tatapan bahagia.


"By," lanjut Denis melepaskan pegangan tangan Dara dan berlalu keluar rumah.


"Hmm!" Deheman Raka berhasil membuat Dara mengalihkan pandangannya. Raka memilih pergi kea lantai atas dari pada melihat istri menatap bahagia pria lain.


"Kenapa lagi dia?" Gumam Dara mengikuti langkah polisi muda itu.


"Kak, tunggu!" Menahan tangan Raka.


"Lepas ahh, tangan Mu kotor habis megang pria lain!" Menapis keras pegangan Istrinya itu.


"Sana mandi, aku ngak suka punya istri kotor seperti kamu. Dasar cewe lenjeh!" Kata-kata itupun terlontar dimulut Raka. Tanpa disadari nya ada seseorang yang akan sangat tersinggung dengan perkataan itu.


Plak


Tamparan mendarat mulus di pipinya polisi muda itu.


"Aihh, gila!" Ringisan Raka tidak dihiraukan istrinya itu.


"Satu tamparan cukup buat pri ngak punya otak seperti kamu!" Jelas istri polisi muda itu sebelum meninggalkannya.


"Dia yang marah, kan gua yang korban!"


"Inget Raka cowo selalu salah!" Gumam Raka.


Senja berlalu berganti malam penuh kegelapan. Bintang pun ikut bersedih seakan tau perasaan Dara saat ini. Makan malam berakhir dengan keheningan. Hanya Kiki yang berceloteh tanpa henti mengisi kekosongan suara di rumah itu.


"Kak, kenapa? Lagi marahan nih ceritanya?"


"Diam-diam wae!" Goda Kiki sebelum beranjak pergi meninggalkan meja makan.

__ADS_1


Sekilas Raka menatap sudut istrinya itu, keegoisan mereka tidak ingin mengalah untuk buka suara.


"Dara, sini!" Perintah Raka sembari menarik tangan istrinya itu keluar rumah.


"Mau kemana?" Tanyanya kaget tiba-tiba tangannya ditarik.


"Kak!" Melepaskan cengkeraman tangan Raka.


"Aku mau minta maaf! Satu lagi aku mau pamit untuk kerja diluar kota untuk beberapa hari!" Raka angkat bicara. Mereka duduk di bangku taman rumah.


"Keluar kota? Aku ngak diajak?" Ceplos Dara.


"Eh ngak, aku kan kuliah!" Lanjut Dara lagi mengalihkan omongannya.


"Untuk beberapa hari aja ngak apa-apa kan?" Meyakinkan Dara.


"Ngak apa-apa!" Balas Dara menunduk sedih.


"Kamu ngak senang aku tugas di luar, kamu harus bisa terima punya suami sibuk. Sebagai seorang garda terdepan negara, aku akan sering ditugaskan diluar."


"Kamu bisa ngertiin kan?"


"Aku sih kurang percaya ya, kalau kamu bisa jaga hati!"


"Jangan salahin aku punya rumah lain di luar sana!" Ucapan Raka kali ini berhasil membuat Istrinya terdiam. Bagaimana tidak, omongan Raka jelas terdengar ia akan mencari yang lain di luar sana.


"Yaudah." Balas istri polisi muda itu dengan berat hati.


"Kamu ijinin kan! Aku punya rumah lagi di luar sana?" Tanya Raka kembali memastikannya.


"Perempuan tadi siang siapa?" Balas Dara mengalihkan pembicaraan.


"Itu Veyna calon," belum selesai Raka membuka mulutnya dilanjutkan oleh Dara.


"Calon pemilik rumah kedua!" Lanjut Dara.


Raka hanya tersenyum lega, melihat sikap istrinya yang cemburu.


**Bersambung..


#Author: Desi_hw12**

__ADS_1


__ADS_2