
Mata Dara masih setia memandangi tubuh suaminya yang mulai menghilang di balik kaca. Butir kecilpun mulai mendarat mulus, berhasil di saut Denis dengan tisu cafe.
"Bodo, gua mau fokus kerja dulu!" Gumam Dara melanjutkan makan gratisnya.
Perih, ya itulah yang terkikis di hati gadis cantik itu.
Mini drama di cafe barusan berhasil membuat udara panas di tubuh Raka meronta. Seakan merasakan panasnya dibakar api kecemburuan, Raka memilih menghindar, menjauhi penyebab gairah panasnya yang terpendam hidup kembali.
"Aaaaa, sukses lu bikin gua jungkir balik! Gua akan kasih lo apresiasi setinggi-tingginya!"
"Tunggu aja tanggal mainnya!" Geram Raka, menatap layar gawai yang jelas terpampang foto gadis kecilnya, yang sudah lama ia tunggu.
Tancap gas, polisi muda itu menyisiri jalan raya yang jelas sedang ramai-ramainya. Lampu merah jelas terpampang nyata di sisi jalan tidak di hiraukannya.
"Sial, ngapain mereka mengikuti gua?" Batinnya menerka-nerka. Segerombolan mobil polisi lalulintas memepet pergerakan mobil Raka. Tidak ada jalan lain, Raka memilih berhenti dan menemui rekan-rekannya itu.
Walaupun mereka tidak sebidang dalam menjalankan tugas, mereka terlihat akrab menegur tegas walaupun hanya awalnya.
Tawa pecah jelas terdengar dari mereka, mungkin saja sesama polisi mereka mempunyai tali kekeluargaan yang kuat.
Salah, Raka memang salah di mata hukum. Namun, ia beruntung memiliki status seorang polisi. Walaupun, dia mendapatkan teguran keras dan peringatan dari rekannya itu, Raka tidak mendapatkan surat tilang atau surat pelanggaran semacamnya.
"Thanks, atas kerjasamanya! Saya mau lanjut jalan. Sekali lagi terima kasih!" Permisi tanpa membawa secuil kertaspun, polisi muda itu meninggalkan kerumunan anggota kepolisian lalulintas dengan senyum sumringah.
"Penawaran yang cukup bagus, akan gua pikirkan! Sementara gua harus fokus masalah kantor dulu!" Batin Raka, seakan ia mengingat penawaran salah satu rekan kepolisiannya tadi
Tidak butuh waktu lama, pemilik tubuh kekar, berkulit putih itu merebahkan tubuhnya di atas springbed besar cukup untuk 5 orang.
__ADS_1
Namun, sayang. Selama ini seiring waktu berlalu Raka hanya menjalani tidur panjangnya seorang diri. Seperti seorang duda yang masih merindukan mantan istrinya begitulah keadaan Raka selama ini.
_____
"Pagi, Tuan! Ada yang ingin melamar pekerjaan!" Ucap Elsa sekretaris baru beberapa minggu menjabat di kantor Raka.
Bukan kantor milik Raka pribadi, tetapi melainkan investasinya bersama Fani sahabatnya itu.
"Silahkan masuk!" Titah pria tampan itu mendengar ketukan pintu yang cukup memusingkan kepalanya.
"Terima kasih, Pak!" Ucap gadis pemilik tubuh mungil itu. Perlahan langkah kakinya berhasil membuat mata coklat Raka meronta tidak karuan.
"Dara!" Suara berat Raka berhasil membuat gadis bertubuh mungil itu melongo.
"Ahh, iya!" Ceplos Dara kembali menundukkan kepalanya.
"Ada apa?" Tanya Raka melihat gadis di hadapannya sedang memikirkan sesuatu.
"Ahh, ngak! Bisa saya pamit sekarang? Terima kasih atas kesempatannya!" Ucap Dara menolak atas penawaran perusahaan Raka yang kemarin sudah mengundangnya secara hormat melalui pihak kampus.
"Tutup pintunya, bisa kita bicara sebentar!" Meraih pergelangan tangan gadisnya. Raka mencengkram lembut tangan gadis cantik itu.
Tanpa penolakan, Dara memilih mengikuti arahan suaminya itu. Tatapan rindu berhasil menusuk mata hati, layangan rindu jelas terpancar dari pemilik mata coklat tersebut.
"Bisa saya keluar sekarang?" Tanya Dara membuyarkan lamunan Raka yang entah sudah sejauhmana hanya Raka yang mengetahui.
"Bisakah kita profesional dalam bekerja?" Bentak Raka berhasil mendapatkan tatapan marah dari gadisnya itu.
__ADS_1
"Ok, ya sudah saya permisi, Tuan!" Balas Dara berdiri dari duduknya, dengan menundukkan kepalanya Dara berlalu meninggalkan ruang kerja Raka.
"Bagaimana bisa dia sampai di sini? Apa dia menyelidikiku?" Lagi-lagi Raka menerka-nerka jalan pikirannya.
Raka dia buat pusing dengan kemunculan tiba-tiba gadisnya itu. Kantor baru ini Raka bangun bersama Fani tidak ada satupun yang mengetahui statusnya sebagai seorang suami. Terdengar dari telinga ke telinga, kabar tentang kedekatan Raka bersama sahabat dan sekaligus rekan kerjanya Fani.
Salahsatu penyebab kantornya berkembang pesat adalah isunya bersama Fani sahabatnya itu.
Memimpin dua perusahaan, dan memiliki pekerjaan sebagai seorang anggota polisi bisa di bilang detektif untuk bahasa kerennya tidak mudah untuk Raka. Hari-harinya di habiskan untuk kerja dan kerja. Sebagai anggota kepolisian, Raka tidak pernah lalai. Sewaktu-waktu jika ada pekerjaan ia pasti mendahulukan tugas kepolisian .
Lobi Kantor
"Aduh!" Ringis Dara tanpa sengaja ia menabrak perempuan cantik dan tinggi di hadapannya.
"Maaf, saya tidak sengaja!" Ucap wanita itu menjulurkan tangannya isyarat ingin membantu Dara berdiri dari posisinya sekarang.
"Iya, permisi!" Jutek Dara setelah mengetahui perempuan di hadapannya adalah gadis yang ia lihat bersama Raka di cafe kemarin..
"Tunggu!" Ucap wanita itu menghentikan langkah Dara.
"Kamu, mahasiswa yang mendapatkan undangan dari perusahaan kami? Bisakah kita bicara?" Lanjut Fani menghampiri Dara.
"Ahh, iya. Tapi saya ada urusan!" Balas Dara sedikit merendahkan suara nya.
"20 juta cukup?" Fani melontarkan penawaran pada Dara.
Tidak mau kehilangan kesempatan yang mungkin saja tidak akan ia dapatkan dua kali. Dara memilih menerima penawaran Fani dan ikut keruangan nya.
__ADS_1
Bersambung 😞😞butuh seminggu untuk merangkai naskahnya 😔