Predator jatuh cinta

Predator jatuh cinta
Part . 11


__ADS_3

Jangan lupa makan siang. Jenna mengirimkan pesan perhatian kepada Akbar lewat chat. Jenna menatap ponselnya berharap Akbar langsung baca dan membalasnya. Jenna harus berlapang dada karena Akbar tidak membacanya, namun ia sedang online.


Jenna menutup ponselnya lalu keluar dari ruangan.


" Kebetulan sekali ibu Jenna, anda sudah di tunggu sama Pak direktur di ruangannya". Ujar Yuri.


" Ada apa yah?".


" Kalau itu saya tidak tau bu, kalau begitu saya permisi ya bu". Yuri pamit pergi ke ruangannya.


Jenna segera pergi ke ruangan Jian. Kali ini pintunya tidak tertutup.


" Masuk".


Belum juga mengetuk pintunya, Jian sudah bilang untuk masuk. Jenna segera masuk , ia melihat lagi² di mejanya ada makanan.


" Maaf pak, tadi Yuri bilang anda menuggu saya?”. Jian mengangguk.


" Duduk lah, ayo kita makan siang bareng". Jenna melongo.


" Saya tidak suka penolakan!”.


Jenna menghela napasnya lalu duduk di hadapan Jian.


" Jadi dia nuggu saya cuma ingin makan siang bareng, dasar pria mesum!. Batin Jenna dengan raut wajah tidak suka. Jian segera makan. Jenna melihat makanan yang di depan matanya.


" Apa!, lagi² ini makanan kesukaan aku, ko bisa sih dia tau kesukaan aku!". Jian melihat wajah Jenna yang kaget melihat menu makanannya.


" Jelas saya tau, karena ibu kantin yang sudah beri informasi soal makanan kesukaan mu". Gumam Jian sembari tersenyum lebar.


Hening keduanya sama-sama tidak bersuara. Jenna menatap Jian yang sedang makan sama sepertinya. Jian tau Jenna memperhatikan dirinya, hatinya merasa senang.


" Jangan menatap saya dengan penuh cinta seperti itu, nanti kamu tergila-gila pada saya". Ujar Jian membuat mata Jenna hampir keluar semuanya.


Dih!, pede sekali pria mesum ini, siapa juga yang cinta sama pria seperti dia. Jenna bergidik ngeri membayangkannya juga. Jian ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jenna barusan.


Saya akan buat kamu tergila-gila pada saya Jen. Setelah makan siang, Jenna langsung bertanya lagi kepada Jian.


" Ada lagi pak yang bisa saya bantu?".


" Oiya ada, mulai senin sampai Jumat, kamu harus masakin saya setiap hari, dan makan siang bareng saya, ini perintah!.


Dih, apa-apaan ini!, memangnya saya IRT apa?. atau jangan² dia ingat sama saya yang sudah menghinanya malam itu, dan ini dia sedang balas dendam!. Jenna diam cukup lama sambil berpikir.


" Saya tidak suka penolakan!". Lagi-lagi Jenna mendengar kata-kata seperti itu.


" Baik pak". Jenna langsung pamit dari ruangannya.

__ADS_1


" I love you". Jenna mendengar lagi kata I love you. Kali ini ia ingin sekali marah. Jenna membalikkan badannya hendak marah namun ia melihat Jian sedang melihat maps di tangannya.


Apa mungkin dia tadi bilang I love you, kalau saya marah nanti dia menyangkalnya, terus yang ada saya malu sendiri. Jenna tidak jadi marah ia segera menutup pintunya dari luar. " Bruk". Jenna menarik pintunya agak kencang membuat Jian tertawa.


" Hahaha Ha. Di dalam Jian tertawa puas sudah buat Jenna kesal tadi.


"Kamu marah ajan cantik sayang, apa lagi sedang senyum. Ujarnya sembari tersenyum.


Tidak terasa hari mulai sore, Jenna mengecek ponselnya sebelum ia keluar dari ruangan. Tidak ada balasan dari Akbar. Hati Jenna sedih. Jenna bersiap untuk pulang.


Jian sudah menunggunya di depan lift. Jenna pikir Jian mau pulang juga. Kali ini Jenna memasang wajah ramahnya.


" Kamu ikut saya!".


" Ikut kemana ya pak?".


" Katanya kamu mau ngajarin saya, gimana sih!".


" Oh itu, siap pak". Jenna tidak jadi kesal karena itu memang tugasnya.


Di parkiran. Jian melihat Jenna ke arah yang lain.


" Eh tunggu, kamu mau kemana?”. Tanya Jian..


" Saya mau ke mobil saya pak".


" Hayu, kenapa malah bengong?".


" Tapi anda tidak akan macem-macem kan pak ?!". Jian terkejut. Jadi rupanya dari tadi dia bengong itu gara-gara takut.


Jian tidak menjawabnya ia langsung masuk ke mobilnya. Jenna merasa kesal ucapannya di abaikan Jian.


Kalau aku tidak pergi yang ada nanti dia tidak akan bisa-bisa dan ini kan tugasku.


Jian menyalahkan mobilnya. Jenna menarik napasnya lalu menghampiri mobil Jian. Di dalam mobil Jian tersenyum tipis. Jenna hendak membuka pintu belakang.


" Oh, kamu pikir saya supir!". Mendengar kata-kata Jian seperti itu. Jenna mengurungkan niatnya. Ia duduk di depan bersama Jian bersampingan.


Jian menjalankan mobilnya. Di jalan Jenna sesekali melirik Jian yang sedang pokus mengemudi.


Jenna tidak banyak bicara, ia berjaga-jaga takut Jian macem-macem kepadanya.


" Pak, ko ke apartemen?!, bapak jangan macem-macem ya sama saya, kalau gak saya teriak nih!!".


" Teriak saja, memangnya saya ada ngapain kamu!". Dengan enteng Jian menjawabnya.


Benar juga yang dia bilang. Jenna langsung diam, duduk yang tenang walaupun di hatinya merasa takut.

__ADS_1


Jian segera turun dari mobil , Jenna mengikutinya. Mereka ke arah lift.


" Pak, saya tunggu di lobby ya".


" Terserah kamu". Jawab Jian sembari masuk ke dalam lift. Jenna melangkahkan kakinya ke lobby. Jian tersenyum tipis melihat punggung Jenna yang terhalang oleh kaca lift.


Jenna duduk di lobby sambil menunggu Jian di sana. Sedangkan Jian berleha-leha di kamarnya sembari menonton film.


Sudah hampir dua jam Jenna menuggu Jian di lobby, namun belum nampak juga Jian turun.


Gimana ini, dia belum turun juga, ini hampir jam 9 malam. Jenna mondar-mandir di lobby, ia mersa kesal menuggu Jian.


Sebaiknya aku menghubunginya, siapa tau dia lupa kalau aku menunggu nya di sini. Jenna hanya mendengar suara sabungan telepon. Tidak di angkatnya.


Jenna mengirimkan pesan sama Jian. Jenna seneng karena pesannya langsung di bacanya.


Di atas Jian tersenyum.


Tampa di minta pun dia memberikan nomor ponselnya. Jian meletakkan kembali ponselnya di sampingnya sambil melanjutkan lagi nonton film.


Jenna masih gusar karena Jian tidak membalas pesannya. Emosinya sudah di ubun-ubun Jenna menghubunginya lagi. Tidak di angkatnya.


"Ih!, ini orang maunya apa sih, di telepon tidak di angkat, di chat hanya di baca. keterlaluan!!. Jenna hendak pergi. Namun ia ingat dengan tugasnya. Jenna lagi-lagi balik lagi ke lobby. Menuggu Jian kembali. Orang-orang pada melihat ke arah Jenna merasa aneh.


" Lihatlah, orang² pasti mengiranya aku tidak ada kerjaan, yang hanya duduk disini seperti orang bodoh!. Jenna bicara sendiri karena melihat orang yang sama sudah kembali lagi ke apartemennya.


Hari mulai larut. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Ponsel Jenna bunyi. Jenna segera membacanya.


" Benar-benar ne orang!, dia hanya nanya apa saya masih di sini atau tidak?, jelas saya masih di sini!. Teriak Jenna sama ponselnya.


" Kenapa kamu meneriaki ponsel,?". Ujar Jian. Jenna menoleh, rupanya Jian sudah berdiri di belakangnya.


Jenna menelan ludahnya, ingin sekali ia memaki pria di hadapannya.


" Kalau bapak udah di sini kenapa bapak kirim chat ke saya barusan?, dan nanyain saya masih di sini atau tidak!, kan bapak tau saya menuggu bapak di lobby 4 jam pak!, bapak tau 4 jam itu saya bisa mengerjakan tugas rumah dan masak untuk makan malam pak.


" Terus itu salah saya?". Jenna makin kesal mendengarnya. Jenna hendak bicara lagi namun Jian keburu bicara.


" Bukannya kamu mau ngajarin saya?, tapi kamu memilih menuggu saya di lobby kan, salah saya dimana?". Jenna mencerna ucapan Jian.


Jenna langsung diam. Benar juga yang di ucapkannya.


" Ikut saya!". Jenna menarik napasnya lalu mengikuti Jian dari belakang.


Jian senyum-senyum sendiri, ia mersa bahagia sehari mengerjainya.


******

__ADS_1


Jika suka tolong bantu like dan komen. Dan bantu kasih bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 5 ya. terimakasih 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2