
Jenna berdiri meminta Jian segera melakukannya namun Jian tetap menyiram tubuh Jenna dan pura-pura tidak mendengarnya.
" Aku tau itu pengaruh obat, jika kamu sadar nanti kamu akan membenciku Jen. Ujar Jian sambil terus menyirami Jenna yang seperti cacing kepanasan.
Tiba-tiba Jenna mencium Jian dengan rakus sambil memeluknya dengan erat. Perasaan Jian senang sesaat. Namun ia sadar kalau Jenna seperti itu di bawah pengaruh obat.
Andai saja kamu melakukan ini dengan keadaan sadar Jen saya pasti bahagia. Gumam Jian. Jenna sangat agresif. Jian membalas ciuman. Darahnya langsung mendidih. Jian sendiri kepancing oleh Jenna.
Jian melepaskan tubuhnya dari Jenna. " Aku tidak bisa!". Dengan suara naik turun Jian menolak Jenna. Jian lanjut menyirami kepala Jenna sampai pakaiannya basah.
1 Jam berlalu. Jenna mulai mengigil reaksi obatnya mulai menghilang.
Jian tidak tega langsung memeluknya. " Maaf" Lirihnya. Jian sangat menyayangi Jenna. Jenna langsung tertidur pulas dengan pakaian basah.
Mau tidak mau Jian harus mengganti pakaian Jenna.
Jian berusaha menahan adik kecilnya agar tidak macem-macem.
Jian mendengar suara ponsel Akbar berdering terus menerus. Jian meletakkan Jenna di atas ranjang terlebih dahulu.
Jian melihat siapa yang yang terus menghubungin Akbar.
" Erika!" Jian meletakkan kembali ponsel Akbar ke sakunya..
Tidak lama Baim membawa dua orang pria untuk membawa Akbar memindahkan ke kamar hotel lainnya
Setelah itu Jian menutup pintunya kembali.
Jian menatap Jenna yang tertidur pulas seperti anak bayi. Jian duduk di samping Jenna Ia mengusap rambutnya dengan lembut.
Saya ingin liat besok kamu seperti apa?. Gumam Jian.
Di ruangan berbeda Erika masih menunggu kabar dari Akbar.
” Ke mana aja sih dia, lampu aja masih mati" Erika mulai panik karena rencananya gagal. Karena tidak sabar Erika langsung pergi ke resepsionis meminta kunci cadangannya.
Erika membuka pintu kamar hotel. Ialangsung masuk dan menyalakan lampunya.
Hanya ada Akbar yang baring di tempat tidurnya sedangkan Jenna tidak ada di sana.
Erika terus menggoyang tubuh Akbar. " Akbar bangun.. Akbar bangun!!.." Erika menarik tangan Akbar. Akbar masih tidak bangun.
Erika langsung mencari keberadaan Jenna di kamar itu. Ia penasaran sama kamera ya sudah ia sembunyikan sebelumnya.
" Kamera nya aman, tapi kenapa aku tidak melihat Akbar masuk dan menyalakan lampunya sih!". Erika segera pergi ke kamar mandi mengecek keberadaan Jenna tidak ada.
" Sial!!, rencanaku gagal kan!. Erika mendengus kesal..
Di kamar satunya.
Jian melihat Jenna tertidur lelap. Jian segera pergi ke lobby hotel ia mampir ke restoran disana.
__ADS_1
" Gua pikir lo akan ambil kesempatan emas ini untuk memikat wanita itu!". Ujar Baim.
Jian hanya duduk merenung atas ucapan sahabatnya itu.
" Gua takut ia malah membenci gua IM, gimana soal cowok berengsek itu??".
" Aman.. dia akan sadar pagi hari, dan wanita licik itu pasti kebingungan cari Jenna". Ujar Baim sambil tersenyum.
Jian ikut tersenyum juga.
Mereka berbincang hampir 2 jam. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing.
Jian pergi ke resepsionis untuk minta pindah kamar setelah mendapatkan kuncinya Jian segera memindahkan Jenna ke kamar tersebut.
Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Keesokannya. Akbar mulai siuman kepalanya sakit ta tertahankan ia meremas rambutnya saking sakitnya.
" Dimana aku?". Akbar segera turun dari tempat tidur dan mengecek semuanya..
Akbar mulai ingat atas kejadian semalam.. Ia cepat-cepat mencari ponselnya lalu melihat banyak panggilan telepon untuknya.
" Erika". Akbar langsung menghubunginya sambil jalan sempoyongan ke arah kulkas.
Tidak ada jawaban. Akbar langsung meneguk air dingin setelah itu ia keluar dari kamar dan turun ke bawah.
Akbar pergi ke restoran disana ia sarapan karena perutnya keroncongannya.
" Dimana aku!". Ujarnya sambil melihat ke arah sekitarnya. Jenna terkejut melihat Jian sedang baring di sofa yang tidak jauh darinya.
" Apa yang terjadi sebenarnya. Jenna berusaha mengingat kembali kejadian semalam. Mengingat semuanya Jenna langsung menangis.
" Hiks ..... Hiks .... Kotor!!.. tubuh ini sudah kontor dan tidak suci lagi!.. Jenna menangis kencang membuat Jian terbangun dan melihat Jenna lagi menggosok tubuhnya dengan kasar.
" Kamu kenapa??". Jian memegangi tangan Jenna.
" Lepas pak.. lepas!!, tubuh ini sudah kotor pak!!". Ujarnya sambil menangis sesenggukan.
Jian tidak tega ia langsung memeluknya dengan erat .
Jian masih mendengar suara tangis Jenna.
Apa aku bilang saja kalau dia masih suci. Batin Jian.. Jenna mendongak menatap Jian yang sangat tulus kepadanya. Perlahan Jian mulai melepaskan pelukannya.
Jian menatap Jenna.
" Sebaiknya kita sarapan dulu". Jian segera berdiri. Tiba-tiba tangan Jian di raihnya.
" Pak, bapak harus menikahi saya secepatnya!". Jian melongo mendengarnya .
Apa ini mimpi?. Batin Jian.
__ADS_1
" Pak, bapak harus tanggung jawab karena bapak sudah tidur dengan saya!".
Apa aku tidak salah dengar, dia minta aku untuk menikahinya kan!. Jian senangnya bukan main..
Lebih baik aku tidak usah ngomong yang sebenarnya. Batinnya.
” Ya saya akan tanggung jawab".. Jawab Jian.
" Maafkan saya pak sudah memaksa bapak untuk tanggung jawab, kejadian semalam itu saya yang salah sudah maksa bapak untuk melakukanya ". Ujarnya lirih.
Oh jadi dia tidak ingat yang sebenarnya...
" Tidak masalah karena kamu kan pacar saya.
" Tapi saya tidak mencintai bapak!". Deg hati Jian merasa sakit mendengarnya. Tapi ia menghargai Jenna karena sudah berkata jujur.
Tidak masalah lambat laun kamu akan mencintai saya Jenna.
" Sebaiknya kita sarapan dulu karena saya sudah lapar”. Ajak Jian.
" Bapak yakin saya keluar dengan pakaian ini!". Jian lupa kalau Jenna tidak memakai bawahan dia hanya memakai kemeja.
Jian menghubungi seseorang, tidak lama seorang wanita datang dan membawa beberapa pakaian untuk Jenna.
Jenna pergi ke kamar mandi menatap wajahnya sendiri di depan cermin ia menangis. Jenna meremas tangannya menahan amarahnya.
Tidak lama Jenna keluar dari kamar mandi melihat makanan banyak di meja.
" Pak, bukannya kita mau makan di bawah?.
" Saya takut kamu malah tidak nyaman, sebaiknya kita di kamar saja. Jenna langsung duduk dan segera memakannya.
Jian melihat wajah Jenna yang terlihat sedih. Ia hanya bisa diam.
” Pak, saya ingin pernikahan kita di rahasiakan dari luar kecuali keluarga bapak, apa bapak setuju". Jian tertegun mendengarnya.
Kenapa harus di rahasiakan?. Gumam Jian di pikirannya.
" Saya cuma tidak ingin orang luar tau pernikahan kita terjadi karena kejadian yang memalukan ini, saya tidak mau merusak citra keluarga bapak". Jenna memberikan alasan dan menurut Jian itu masuk akal.
Menjelang siang Jian dan Jenna meninggalkan Hottel tersebut.
Mereka langsung menuju ke rumah Jenna. Jian mengantarnya sampai depan pintu.
" Anda mau masuk dulu pak?".
" Tidak perlu saya mau langsung urus soal pernikahan kita lusa".
" Hati² pak". Jian hanya mengangguk dan langsung cabut. Jenna hanya menatap mobil Jian dari kejauhan.
#Bersambung jika suka tolong bantu like dan comen . Terimakasih
__ADS_1