
Jena langsung pergi ke ruangan dimana Akbar kerja. Meja Akbar kosong. Salah satu temannya melihat Jena berdiri di depan pintu ruangan.
" Maaf Bu Akbar tidak masuk sepertinya". Ujar temannya.
Jena langsung melihat ke arah temannya. " Oh gitu, terimakasih yah". Jawab Jena sembari keluar dari ruangan. Jenna kepikiran soal Akbar.
" Kamu dimana sih yang?". Jenna sangat cemas.
Di hotel..
Akbar baru sadar dari tidurnya, ia sedang memeluk Erika di tempat tidur.
Kali ini Akbar tidak menyesal karena ia melakukannya dengan sadar, tidak seperti kemarin di bawah minuman alkohol. Erika menggeliat dan langsung tersenyum ke arah Akbar.
” Kamu luar biasa". Pujinya. Akbar tersenyum senang mendengarnya. Akbar bangun dari tidurnya dan langsung pergi ke kamar mandi. Setelah mandi Akbar melihat jam di ponselnya.
" Mati!!, gua kesiangan". Ujarnya sambil buru² memakai pakaiannya.
" Kamu kenapa?". Tanya Erika melihat Akbar tergesa-gesa.
" Hari ini ada anak bos datang ke kantor, semua staf wajib hadir kalau tidak akan kena surat peringatan".
" Ini hampir siang lo, apa kamu yakin?”. Tanya Erika lagi.
" Maunya sih aku sama kamu terus sayang, apalagi cuacanya mendung begini, tapi aku harus pergi kalau tidak aku bisa kehilangan pekerjaan aku”. Akbar mengecup kening Erika sebelum ia meninggalkannya.
" Maaf sayang, lain kali aku janji, kita akan habiskan waktu lebih banyak lagi dari hari ini". Akbar menaruh uang beberapa lembar di meja . Sebelum Akbar keluar Erika memeluknya erat.
" Hati²" Ujar Erika. Akbar langsung pergi.
Di kantor Jian merasa bosen, baru beberapa jam ia sudah tidak betah di ruangannya.
Jian jalan-jalan ke luar sembari melihat ke arah ruangan Jenna yang hanya terhalang oleh kaca.
" Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?”. Ujar Yuri sekertaris Jian. Jian hanya mengangkat tangannya. Yuri langsung balik lagi ke mejanya.
Ya Tuhan dia benar-benar tampan, namun ia sangat dingin. Gumam Yuri sembari curi-curi pandang.
__ADS_1
Jenna sangat serius mengerjakan pekerjaannya, bahkan ia tidak sadar dari tadi Jian memperhatikannya.
di ruangan berbeda, Akbar baru datang ke ruangannya dengan napas ngos-ngosan, karena ya sedikit lari agar cepat nyampe ke kantor.
Kayanya gua benar-benar telat ne, semuanya sudah bubar rupanya. Gumam Akbar sambil menaruh tas di meja.
” Wih enak lo ya Bar datang siang gini, mentang-mentang pacar lo manager, seenaknya lo datang siang!. Mendengar teguran dari Pahri Akbar langsung emosi dan menghampiri Pahri.
" Bruk!". Akbar menghajarnya lalu meremas kemejanya.
" Jaga ucapan lo bro, kalau tidak lo akan habis!!". Ancamnya.
" Brengsek!!". Balas Ikbal langsung memukul Akbar dari belakang. Mereka saling bergulat dan saling tonjokan. Akbar di keroyok dua temannya.
" Tolong.. tolong. Siska keluar ruangan meminta tolong. Mendengar suara keributan Jenna langsung cepat-cepat keluar dan melewati Jian begitu saja.
Jian tercengang merasa di acuhkan sama Jenna. Jian mengikuti Jenna kemana Jenna pergi. Semua staf berhamburan melihat ke ruangan Akbar. Mereka hanya melihat saja tidak memisahkan mereka yang sedang berantem.
Jenna terkejut melihat Akbar sedang di pukuli sama kedua rekannya dan wajahnya babak belur.
Akbar yang masih emosi hendak membalasnya namun Jenna mencegahnya.
" Lepas!!". Teriak Akbar kepada Jenna. Namun Jenna tidak melepaskan tangan Akbar.
" Sayang ada apa?”. Tanya Jenna serius. Akbar menghempaskan tangan Jenna dan ia segera bangun. Jenna terkejut.
" Semua ini gara² kamu Jen!, kalau bukan karena kamu aku tidak akan jadi bahan olokan mereka!!". Ujar Akbar sambil nunjuk ke wajah Jenna.
Jenna merasa sakit hati di bentak di depan semua orang, ia memilih diam diperlakukan seperti itu.
" Dan kalian, liat saja gua akan balas lo pada!!, camkan itu!. Akbar langsung ke arah mejanya langsung mengambil tas lalu pergi melewati Jenna begitu saja. Jenna diam terpaku merasa sedih dan malu.
Sementara Pahri di bantu sama teman-temannya yang lain. Jian mendengar dan melihat jelas kejadian barusan. Jian langsung meninggalkan keributan tersebut.
Sementara Jenna di padang semua stafnya. Ia langsung keluar dari ruangan Akbar dan pergi ke ruangannya.
Jenna merasa sedih di bentak Akbar, untuk pertama kalinya Akbar membentaknya dan di depan semua orang. Jenna merenungkan kembali kesalahannya.
__ADS_1
" Salah saya apa sih sampai dia kasar kaya tadi, dan dia menuduh saya seperti itu". Ujarnya lirih sambil duduk di kursinya. Jenna seperti tidak punya muka tadi, ia sangat malu.
Jian merasa kesal melihat kejadian tadi. Ia langsung menghubungi pak Ardi dan memintanya untuk segera ke ruangannya.
" Ada yang bisa saya bantu tuan muda?". Ujar Pak Ardi sambil berdiri.
" Saya ingin memecat seseorang, dan saya ingin orang itu menjauh dari kantor inii!". Pak Ardi bingung mendengarnya. Baru beberapa jam Jian bekerja sudah memecat stafnya.
" Apa bapak mendengar ucapan saya?". Tanya Jian kembali, melihat Pak Ardi hanya bengong.
" Iya tuan, siapa yang ingin anda pecat?”.
" Staf bernama Akbar, saya ingin barang² nya dikirm hari ini juga ke rumahnya, dan saya mau mulai besok saya tidak ingin melihat dia menginjakkan kakinya lagi di kantor ini!.
" Baik tuan". Pak Ardi langsung pamit.
Ada masalah apa Akbar dengan beliau.. Pak Ardi terus saja berpikir. Pak Ardi langsung menemui HRD dan langsung mengungkapkan keinginan Jian memecat Akbar.
" Apa gara² kejadian tadi Pak Akbar di pecat ia pak?". Tanya Bu Sela. Pak Ardi bengong mendengarnya.
" Kejadian apa maksudnya?".
" Tadi itu, Pak Akbar dan pak Ikbal dan juga Pahri berantem pak, masalahnya Pak Akbar sejak bu Jenna di angkat jadi manager beliau seenaknya pak masuk kantor jadi teman-temannya menegurnya". Pak Ardi hanya menyimak.
" Dan tadi juga, Pak Akbar membentaknya bu Jenna di depan semua stafnya, bu Jenna tidak mengeluarkan sepatah katapun pak!"..
" Apa gara² ini Akbar di pecat?". Gumam Pak Ardi.
" Oiya pak, apa bu Jenna tau soal ini?'.
" Lebih baik anda lakukan tugas anda bu!". Jawab Pak Ardi sembari berdiri lalu pergi dari ruangan HRD.
Di jalan Akbar memukul stir mobil. ” Gara² kamu Jenn. ini semua gara² kamu!!". Teriak Akbar.
*******
Tolong bantu like dan kasih 🌟🌟🌟🌟🌟 terimakasih
__ADS_1