
Sebelum keluar kamar Jian menandai kalendernya ia tersenyum sambil melingkarinya.
" Aku harap sebelum ini kamu menyatakan cinta kepadaku sayang". Ujarnya sambil tersenyum bahagia.
Jian tersenyum melihat istrinya sedang menunggunya di meja.
Jian menarik kursinya lalu duduk di sampingnya. Jenna diam tidak bicara apapun. Bibi mengambilkan semua makanannya. Hening keduanya memilih diam.
” Papi meminta kita menginap dirumahnya malam ini". Jenna terdiam mendengarnya. Jian meliriknya sekilas.
" Kamu tenang saja aku akan buat alasan untuk tidak kesana". Jenna menarik napasnya.
" Kita akan menginap kesana pak, saya mau". Jawab Jenna. Jian tersenyum sekilas lalu bersikap biasa lagi.
Sepertinya biasa Jenna meminta Jian untuk menurunkan agak jauh dari kantornya. Jian sudah siap-siap tangannya akan di ciumannya lagi.
Jenna ragu ² ingin mencium tangannya namun ia melihat lagi ke arah Jian yang sedang menatap ke arah depan.
Jenna membuka pintu mobilnya. Terdiam sejenak. "Biar gimanapun dia suamiku. Gumannya, ia membalikkan tubuhnya dan meraih tangan Jian lalu menciumnya lagi.
" Hati² sayang, I love you". Ujar Jian membuat raut wajah Jenna berubah jadi kesal.
Jenna menutup mobilnya sambil cemberut lalu ia jalan cepat-cepat. Jian cekikikan di dalam mobilnya sembari menjalankan mobilnya mengikuti Jenna dari belakang.
Langkah Jenna mulai pelan melihat sosok pria yang sedang ada lobby kantornya.
__ADS_1
” Jenn, apa kita bisa bicara sebentar ?". Jenna terhenti sebentar ia tidak berani membalikkan tubuhnya ke arah Akbar.
" Maaf saya sibuk". Jawab Jenna langsung masuk ke dalam gedung. Dari kejauhan Jian melihatnya ia segera masuk dan pura² tidak melihatnya.
Hati Jenna campur aduk melihat Akbar menemuinya lagi. Perasaan mulai tidak karuan.
Jenna duduk lemas di kursinya sembari bengong. " Kenapa dia menemui ku lagi, apa kurang cukup dia menyakiti perasaanku". Ujarnya sedih.
Sementara Jian duduk sembari memikirkan rencananya. Jian menghubungi sahabatnya.
" Halo bro?". Jawab Baim.
" Im, gua butuh orang yang bisa di percaya ".
Jian panjang lebar bicara lewat telepon kepada sahabatnya...
" Thanks Im. Jian menutup teleponnya.
Jenna menyibukkan dirinya agar tidak memikirkan Akbar lagi.
" Selamat siang bu Jenna, saya Meri sekertaris barunya pak Jian". Jenna menatap Meri yang sangat cantik.
" Siang Meri, mari ikut saya". Ajak Jenna ke ruangan Jian. Sebelum masuk Jenna mengetuk pintunya terlebih dahulu.
" Pak, ini sekertaris baru bapak". Ujar Jenna memperkenalkan Meri kepada suaminya.
__ADS_1
Jian tersenyum tipis tampa mellihat ke arah Meri. Jenna memberi tau pekerjaan Meri semuanya.. Hampir 3 jam Jenna menjelaskan pekerjaan apa saja yang harus Meri handel.
Jian hanya menatap Jenna dari tadi tampa diketahuinya.
" Bu Jen saya ingin Meri satu ruangan dengan anda". Pinta Jian.
Jenna terdiam sejenak sembari berpikir.
" Apa anda keberatan bu Jen?".
" Oh tentu tidak pak, saya akan atur hari senin nanti". Jawab Jenna dengan sopan.
Setelah Meri keluar dari ruangannya Jian menarik tangan Jenna.
" Sayang ini kunci mobilnya kamu tunggu suamimu yang tampan ini di lobby ya ". Ujar Jian sembari mengedipkan matanya. Jenna mengambilnya lalu segera keluar.
Jenna langsung pergi ke parkiran dan menuggu Jian di lobyy. Ia tidak sengaja melihat Akbar disana sedang berdiri. Waja Akbar terlihat sedih.
Jenna mengarahkan matanya ke depan. Ia masih sakit hati dengan Akbar, namun hati kecilnya tidak ia sangat merindukannya.
Jenna di kagetkan dengan suara pintu mobil kebuka. Jian menatap Jenna yang bengong. Tiba-tiba Jian mencium kening Jenna.
" Sayang pindahlah, biar suamimu yang tampan ini yang nyetir. Jenna kesal karena Jian menciumnya. Ia segera turun dan pindah, ia tidak sadar Akbar memperhatikannya dari dalam gedung. Hatinya pedih.
Jadi dia dari tadi sudah ada di mobil itu. Gumam Akbar.
__ADS_1
Bersambung jika suka tolong bantu like dan komen terimakasih 🙏